Liputan6.com, Bandung - Salah satu jenis tanaman yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia adalah cabai. Jenis ini tumbuh subur di banyak tempat termasuk di Jawa Barat.
Kendati, petani mesti waspada dengan serangan penyakit pada tanaman cabai khususnya saat musim hujan. Pada musim tersebut patogen penyakit berkembang baik pada kondisi kelembaban tinggi, cendawan penyebab penyakit antraknosa adalah salah satu contohnya.
Mengutip pada laman Nufarm (11/7/2025), antraknosa atau juga kerap disebut penyakit patek, merupakan penyakit utama yang menyebabkan kerugian secara ekonomi di seluruh pertanaman cabai dan merupakan penyakit penting di daerah tropis maupun subtropis.
Penyakit antraknosa yang sering terjadi pada cabai ini disebabkan oleh jamur colletotricum capsici dan jamur gloeosporium sp, jenis jamur ini biasanya menyerang bagian tengah buah cabai yang sudah matang.
Jamur Colletotrichum capsici dapat bertahan hidup di dalam tanah, sisa-sisa tanaman atau buah yang telah terinfeksi. Penyakit antraknosa ini dapat membawa kerugian besar bagi petani, hasil panen dapat berkurang hingga 50 – 90 % pada musim hujan.
Selain itu jamur penyebab antraknosa berkembang cepat di daerah yang memiliki kelembaban tinggi disertai suhu udara yang juga tinggi.
Kata Pakar IPB
Dikutip dari laman Digitani, dikelola Institut Pertanian Bogor (IPB), dijelaskan bahwa patek atau antraknosa adalah penyakit yang sering menyerang tanaman cabai, disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici.
Penyakit ini dapat menyerang hampir semua bagian tanaman, termasuk ranting, cabang, daun, dan buah, baik pada fase vegetatif (perkecambahan) maupun fase generatif (pembuahan). Gejala umumnya terlihat pada buah, berupa bercak melingkar cekung dengan warna cokelat di pusatnya dan cokelat muda di sekeliling lingkarannya.
Cara mengatasi dan mencegah penyakit ini adalah sebagai berikut:
1. Gunakan bibit yang sehat dan bebas dari infeksi antraknosa.
2. Bersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dan buang jauh dari area kebun.
3. Disinfeksi alat-alat pertanian setelah digunakan untuk mencegah penyebaran cendawan.
4. Hindari over-irigasi dan pastikan sistem irigasi tidak menyebarkan penyakit antar tanaman.
5. Lakukan pemeriksaan rutin pada tanaman untuk mendeteksi gejala awal dan ambil tindakan segera jika ditemukan tanda-tanda penyakit.
Tanaman cabai diharapkan dapat terhindar dari kerusakan akibat penyakit patek dengan langkah-langkah tersebut.
Tindakan Preventif dan Responsif
Berdasarkan jawaban pakar IPB, Prof. Dr. Ir. Widodo, MS, dijelaskan jika tanaman cabai baru mulai berbuah (berbuah di cabang Y), sebaiknya dilakukan tindakan preventif dan responsif.
Tindakan Preventif
- Mengaplikasikan PGPR yang sudah teruji (misal: merek “Rhizomax”) dengan cara dikocorkan ke tanah.
- Mengaplikasikan pupuk sintetik dengan komposisi K yang lebih tinggi dibandingkan pupuk N.
Tindakan Responsif (Kuratif)
- Lakukan sanitasi buah yang terserang, baik yang masih menempel di pohon maupun yang sudah jatuh, setiap hari dan dikubur atau dibakar.
- Setelah sanitasi, lakukan penyemprotan fungisida berbahan aktif klorotalonil atau mankozeb atau propineb.
- Lakukan terus sanitasi buah sakit, lalu amati selama 5-7 hari apakah buah yang terserang berkurang atau bertambah apabila dibandingkan sebelum aplikasi fungisida yang pertama tadi (poin 2). Jika tetap atau berkurang, maka tidak perlu aplikasi lagi. Namun, jika bertambah, lakukan kembali aplikasi fungisida dan tetap melakukan sanitasi setiap hari.
- Bahan aktif fungisida setiap aplikasikan diusahakan berbeda dari sebelumnya untuk menghindari terjadinya resistensi.