Bandung Kota Termacet di Indonesia, Dedi Mulyadi Salahkan Lampu Lalu Lintas

1 month ago 27

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut salah satu penyebab kemacetan di Kota Bandung adalah sistem lalu lintas atau traffic light yang belum tepat. 

Sebagaimana diketahui, Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia menurut survei TomTom Traffic Index 2024. Untuk menanggulangi masalah kemacetan tersebut, Dedi mengeklaim pihaknya tengah membuat analisis terkait traffic light.

"Kita lagi membuat analisis tentang traffic light, karena traffic light itu justru bikin macet. Bisa enggak ke depan sih, ya traffic light itu buat menjadi lancar," ucapnya di Bandung pada Jumat, 11 Juli 2025.

Dedi menilai, penempatan dan pengaturan waktu sejumlah traffic light di Kota Bandung belum tepat. Alhasil, arus kendaraan justru menjadi tersendat.

"Kan bisa jadi ini perhitungan yang di sini, yang di sini belum tepat. Ini kita lagi ngitung nih, biar tepat," tutur dia.

Selain traffic light, Dedi mengatakan bahwa kemacetan di Kota Bandung kerap kali terjadi saat akhir pekan. Hal itu pun, kata dia, disebabkan oleh kedatangan wistawan dari luar kota, terutama Jakarta. 

"Bandung itu kan macet utamanya di Sabtu dan Minggu. Karena apa? Karena orang Jakarta kan piknik ke Bandung gitu loh. Dan itu membawa keberkahan bagi UMKM, bagi perhotelan gitu," tandasnya.

Simak Video Pilihan Ini:

Ribuan Penganut Kejawen Ikuti Tradisi Punggahan Jelang Ramadhan di Banyumas

Bandung Kota Termacet di Indonesia

Menurut laporan tahunan TomTom Traffic Index, Kota Bandung menyandang gelar sebagai kota termacet, tak hanya di Jawa Barat, melainkan se-Indonesia. Kemacetan di Kota Bandung disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan pribadi. Sementara di sisi lain, sistem transportasi umum dinilai kurang maksimal.

Terkait itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Barat, Dhani Gumelar mengeklaim bahwa membludaknya jumlah penduduk di Kota Bandung menjadi salah satu faktor yang memicu kemacetan.

"Karena memang Bandung kan didesain awalnya kan sebagai kota leisure ya, zaman Belanda itu, dengan kapasitas mungkin maksimal di 800.000, enggak sampai 1.000.000," ucap Dhani di Bandung pada Kamis, 19 Juni 2025.

Maka dari itu, Dhani menilai perkembangan Kota Bandung yang kini menjadi salah satu kota metropolitan perlu diimbangi pula dengan perkembangan infrastruktur.

"Dengan perkembangan yang cukup masif menjadi satu kota metropolitan, otomatis infrastruktur juga tidak memadai," ucap dia.

Oleh karena itu, Dhani menyebut salah satu langkah konkret yang tengah dilakukan oleh pihaknya adalah mendorong perbaikan angkutan massal.

"Untuk yang jarak jauh, kita akan memperbaiki layanan kereta api lokal ya, terutama yang dari luar Bandung Raya," pungkasnya.

Selain itu, Dishub Jawa Barat juga tengah mempersiapkan pengembangan sistem transportasi publik berbasis bus dan penataan ulang sistem angkot.

"Perbaikan untuk jaraknya medium itu menggunakan bus, menambah layanan bus. Terus yang terakhir adalah perbaikan atau revitalisasi angkot. Nah ini yang sedang kita bahas ya," tuturnya.

Penulis: Arby Salim

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |