Ratusan Mahasiswa Gabungan Solo Raya Gelar Salat Ghaib hingga Tabur Bunga untuk Affan Kurniawan

11 hours ago 5

Liputan6.com, Solo - Ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Solo Raya menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya pengemudi ojek online (pengemudi ojol) Affan Kurniawan, yang tewas setelah terlindas mobil rantis Brimob.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa tidak hanya berorasi, tetapi juga mengadakan salat ghaib dan tabur bunga sebagai wujud duka cita tewasnya Affan Kurniawan.

Peserta aksi berasal dari berbagai perguruan tinggi, seperti UNS Solo, UIN RM Said Surakarta, Unisri Solo, serta beberapa kampus lainnya di wilayah Solo Raya. Aksi tersebut digelar di Bundaran Gladag, Solo, pada Sabtu sore (30/8/2025).

Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan salat ghaib berjamaah yang diikuti oleh mahasiswa. Salat tersebut ditujukan untuk mendoakan almarhum Affan Kurniawan. Suasana khidmat terlihat di Bundaran Gladag saat ratusan mahasiswa melaksanakan salat tersebut.

Usai salat, perwakilan dari tiap perguruan tinggi menyampaikan orasi. Dalam orasinya, mereka mengecam keras tindakan anggota Brimob yang melindas Affan Kurniawan dengan kendaraan taktis. Mereka juga mengkritik kinerja aparat kepolisian yang dianggap gagal menjaga profesionalisme dan keamanan masyarakat.

Selanjutnya, mahasiswa menyalakan lilin sebagai simbol perenungan dan duka mendalam. Setelah itu, doa bersama dipanjatkan untuk mendoakan almarhum. Doa tersebut dipimpin secara khusyuk oleh salah satu peserta aksi.

Sebagai penutup rangkaian acara, mahasiswa menggelar tabur bunga di lokasi aksi. Bunga mawar ditaburkan secara bergantian oleh para peserta sebagai simbol penghormatan terakhir kepada korban.

Istana kemudian meminta maaf dan juga angkat bicara menanggapi insiden tewasnya pengemudi ojek online usai ditabrak kendaraan taktis Brimob imbas bentrok meluasnya aksi demo di DPR.

Bentuk Belasungkawa

Koordinator lapangan Muhammad Faiz Zuhdi menjelaskan, aksi ini adalah bentuk belasungkawa atas tewasnya Affan Kurniawan setelah insiden di Jakarta. Menurutnya, peristiwa tersebut memicu kekecewaan besar masyarakat terhadap institusi kepolisian.

"Perlawan kita di sore hari ini bagaimana kita melembutkan hati terlebih dahulu masyarakat Solo untuk nanti fokus hal yang memang sekarang perlu kita laksanakan, yaitu kita berbelasungkawa," ucap Faiz, Sabtu (30/8/2025).

"Karena sebelum ini ada kejadian luar biasa ya yaitu almarhum Affan di Jakarta yang itu mendapatkan represifitas luar biasa dari instansi yang kita nilai buruk, yaitu polri," sambung dia.

Faiz, yang juga menjabat sebagai Presiden BEM UNS menambahkan, aksi ini bertujuan menunjukkan kepedulian kepada korban kekerasan aparat.

Sehingga hari ini kita menggalangkan aksi solidaritas untuk menyampaikan kepedulian kita terhadap almarhum Affan dan untuk semua korban-korban represifitas dari pada instansi Polri yang merupakan instansi paling buruk di Indonesia yang perlu segera berbenah," tandas Faiz.

Aksi Solidaritas Ratusan Ojol di Jember: Doa dan Bunga untuk Affan Kurniawan

Sebelumnya, tragedi tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online (pengemudi ojol) berusia 21 tahun yang dilindas kendaraan taktis atau mobil rantis Brimob di Jakarta, Kamis 28 Agustus 2025 menyalakan gelombang amarah di berbagai daerah.

Di Jember, Jawa Timur (Jatim) ratusan pengemudi ojol menggelar aksi solidaritas tewasnya Affan Kurniawan dengan menyalakan lilin, menabur bunga, dan mengecam keras kepolisian.

Aksi berlangsung di Bundaran depan Mako Polres Jember, Jumat malam (29/8/2025). Sekitar 300 pengemudi ojol yang tergabung dalam Forum Komunikasi Jember Online Bersatu (FKJOB) menyatakan, kematian Affan adalah bukti kegagalan reformasi Polri. Mereka menuntut kasus ini diusut tuntas hingga ke pucuk pimpinan kepolisian.

Koordinator aksi sekaligus Ketua FKJOB Deddy Novianto menegaskan, tragedi Affan bukan kecelakaan biasa, melainkan bentuk kekerasan negara terhadap rakyat kecil.

"Affan masih muda, sedang berjuang mencari nafkah. Mati dilindas aparat bukan hal yang pantas di negeri merdeka. Kami marah, kecewa, sekaligus berduka. Kapolri harus dicopot, Brimob harus bertanggung jawab, dan reformasi polisi harus segera dilakukan," ujar Deddy, Jumat (29/8/2025).

Menurutnya, rakyat semakin kehilangan rasa aman karena aparat yang seharusnya melindungi justru menebar ancaman.

"Kalau polisi dibiarkan terus represif, siapa lagi yang bisa menjamin keselamatan rakyat?," jelas Deddy.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |