Kisah Pilu Pria Sukabumi dengan Kutil Seluruh Tubuh, Puluhan Tahun Tak Dapat Pengobatan

3 days ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Kisah pilu menimpa Abdurohman (45), seorang pria di Jalan Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) yang menderita penyakit kulit genetik.

Kondisi ini membuat tubuhnya dipenuhi kutil dan telah dibiarkan tanpa pengobatan selama puluhan tahun. Abdurohman menjadi sorotan, usai kondisinya beredar viral di media sosial.

Beruntung, setelah kabar ini menyebar, tim gabungan dari pemerintah dan relawan langsung turun tangan memberikan bantuan.

"Warga kami ini menderita penyakit kulit genetik. Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan," ujar Lurah Benteng, Tri Hastuti, dikonfirmasi pada Selasa (26/8/2025).

Saat mendatangi kediaman Abdurohman, pihaknya menemukan beberapa masalah, salah satunya Abdurohman tidak memiliki dokumen kependudukan.

Menurut ayahnya, Hamdan (70), Abdurohman memiliki disabilitas intelektual, sehingga jarang bersosialisasi dan tidak pernah bertemu dengan petugas saat ada pendataan.

"Ketika ada pendataan, yang bersangkutan tidak pernah bertemu karena lebih sering berada di belakang rumah. Alasan dari pihak keluarga tidak menceritakan kondisi ini mungkin karena faktor psikologis atau masalah pribadi. Kami menghargai itu, yang terpenting sekarang adalah penanganannya," tambah Tri.

Rumah sakit langsung memecat dokter yang bersangkutan dan Liu berencana menggugat ganti rugi rumah sakit itu sebesar 2 juta yuan.

Penanganan Medis dan Masalah Administrasi

Sebagai langkah awal, Abdurohman dibawa ke RSUD R Syamsudin SH untuk mendapatkan perawatan. Tindakan biopsi pun telah dilakukan untuk memastikan jenis penyakitnya.

"Hasil biopsi akan keluar dalam waktu sekitar satu pekan. Penjelasan dari perawat, kondisi ini tidak berbahaya dan bersifat genetik. Penanganan akan disesuaikan dengan saran dari dokter kulit," kata Lurah Tri.

Selain penanganan medis, masalah administrasi Abdurohman yang puluhan tahun terbengkalai juga segera diselesaikan. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Sukabumi langsung turun ke lokasi untuk melakukan perekaman biometrik dan membuatkan KTP.

"Data kependudukan sudah selesai. Petugas Disdukcapil hadir langsung untuk rekam biometrik. Setelah NIK tersedia, BPJS Kesehatan Abdurohman juga langsung bisa diaktifkan kembali," jelas Lurah Tri.

Pengobatan Terputus Sejak Sang Ibu Wafat

Menurut keterangan ayahnya, Hamdan, penyakit yang diderita Abdurohman sudah ada sejak kecil. Ia sempat berobat ke RS Hasan Sadikin (RSHS) saat masih bersekolah di SLB.

Namun, pengobatan terputus setelah ibunya meninggal sekitar 10 tahun lalu.

"Pengobatan tidak dilanjutkan karena katanya tidak ada perkembangan. Setelah ibunya meninggal, kondisi ekonomi keluarga juga mulai menurun," ungkapnya.

Keluarga Abdurohman saat ini masuk dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan sempat menjadi penerima manfaat beras. Namun, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) terhapus karena tidak ada lagi komponen keluarga yang memenuhi syarat.

Meskipun pengobatan sudah dimulai, Ketua Tim Penanganan Keluhan dan Humas RSUD R Syamsudin SH, dr. Irfan Nugraha Triputra mengatakan, biaya perawatan bisa saja menjadi tanggungan pribadi.

"Kami belum bisa memastikan, tetapi penilaian awal tidak ada kegawatan sehingga kalau dirawat, ada risiko tunai," jelas dr. Irfan Nugraha.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |