Liputan6.com, Bangkalan - Meningkatnya kasus campak di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, membuat orang tua khawatir. Kekhawatiran itu mendorong mereka untuk berbondong-bondong ikut imunisasi serentak yang digelar di seluruh puskesmas.
Kekhawatiran itu diungkapkan oleh Hera, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Socah. Meskipun anaknya pernah divaksin, dirinya tetap membawanya untuk imunisasi campak guna memberikan perlindungan ekstra sang anak dari penyakit campak.
"Anak saya sangat aktif bermain di luar rumah. Meski di lingkungan saya belum ada kasus, tapi daerah lain sudah banyak," kata Hera, Rabu (27/8/2025).
Imunisasi Serentak di 12 Titik
Imunisasi campak serentak ini, salah satunya digelar di Puskesmas Jaddih. Kepala Puskesmas Jaddih drg. Purwanti, menjelaskan dalam seminggu ke depan, pihaknya menargetkan ada 128 yang sudah divaksin campak. Untuk mencapai target ini, seluruh tenaga medis turun langsung ke semua posyandu di 12 lokasi.
"Sasaran imunisasi adalah anak usia 9 bulan hingga 59 bulan," katanya.
Hingga saat ini, kata Purwanti, belum ada kasus positif campak yang ditangani Puskesmas Jaddih. Namun, terdapat 12 anak yang berstatus suspek atau diduga terpapar campak.
"Yang ada baru status suspek. Belum ada hasil lab yang menyatakan positif," katanya.
Data Kasus: 548 Suspek, 60 Positif, dan 1 Meninggal
Secara keseluruhan, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan menunjukkan situasi yang lebih serius. Kepala Dinkes, Nur Khotibah, menyampaikan bahwa sejak Januari hingga Agustus 2025, tercatat 548 kasus suspek campak.
Dari jumlah tersebut, 60 kasus telah terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium, dan satu pasien dilaporkan meninggal dunia. Mayoritas pasien positif adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak.
Khotibah menegaskan bahwa pihaknya kini fokus pada program imunisasi kejar.
"Cakupan imunisasi di Bangkalan sudah mencapai 90%, tetapi kami terus berupaya mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB)," jelasnya.
Hotibah juga menjelaskan, dari jumlah 548 itu, 275 orang di antaranya sempat menjalani perawatan di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) Bangkalan, satu di antaranya meninggal dunia. Sisanya, di perbagai puskesmas di Kabupaten Bangkalan.
Dia mengatakan kasus campak di Bangkalan paling barat di Pulau Madura itu didominasi oleh anak-anak berusia 2-3 tahun.
Penderita umumnya mengalami gejala yang serupa seperti demam di hari pertama, keluar bintik-bintik merah di belakang telinga hingga sekujur tubuh.
"Beberapa balita yang diduga terinfeksi campak tersebut, juga disertai dengan batuk dan pilek," ujar dia.
Hingga saat ini, 17 anak masih menjalani perawatan di RSUD Bangkalan. Semuanya balita.
Sejak 1 hingga 26 Agustus 2025, tercatat 50 pasien dirawat di RSUD Bangkalan.
"Pasien yang dirujuk ke RSUD Bangkalan ini rata-rata berasal dari Kecamatan Geger Bangkalan," katanya.
Terkait dengan banyak balita yang terserang campak tersebut, Dinkes Bangkalan berencana menggelar imunisasi masal.
"Hari ini kami telah membuat jadwal kegiatan di 22 puskesmas yang tersebar di 18 kecamatan se-Kabupaten Bangkalan untuk kegiatan imunisasi masal tersebut," katanya.