Saham Nike Melonjak Usai Laba Bersih Anjlok 86%

1 month ago 33

Liputan6.com, Jakarta Saham Nike melonjak hingga 17% pada Jumat lalu, setelah perusahaan menyampaikan keyakinan bahwa masa tersulit mereka telah dilewati. Optimisme ini muncul usai Nike merilis laporan keuangan kuartal keempat fiskal yang hasilnya lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Meski mencatat kinerja yang mengecewakan dengan penurunan penjualan sebesar 12%, anjloknya laba bersih hingga 86%, serta menyusutnya margin keuntungan. Perusahaan menegaskan bahwa tekanan terberat sudah terjadi pada kuartal ini.

Chief Executive Officer (CEO) Nike, Elliott Hill, menyatakan bahwa perusahaan kini mulai bangkit dari keterpurukan dan memproyeksikan kondisi keuangan akan membaik pada kuartal-kuartal mendatang.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis, Nike juga meyakinkan investor bahwa rencana pemulihan mereka tetap berada di jalur yang tepat. Perusahaan menyebut kuartal ini memang menjadi periode paling berat akibat langkah penyesuaian internal serta tekanan eksternal, termasuk kenaikan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump terhadap negara-negara pusat produksi seperti Tiongkok dan Vietnam.

"Hasil yang kami laporkan hari ini, baik untuk kuartal keempat maupun tahun fiskal 2025, memang belum mencerminkan standar Nike," ujar CEO Elliott Hill dalam panggilan konferensi laba perusahaan. "Namun, seperti yang telah kami sampaikan 90 hari lalu, langkah-langkah pemulihan melalui inisiatif Win Now mulai menunjukkan dampaknya."

Hill juga menyampaikan keyakinannya terhadap masa depan perusahaan. "Mulai dari sini, kami optimistis kinerja bisnis akan terus membaik. Sudah saatnya kami membuka lembaran baru."

Awalnya, saham Nike sempat turun setelah perusahaan merilis laporan keuangannya sesaat setelah bel penutupan perdagangan pada Kamis. Penurunan ini dipicu oleh minimnya rincian mengenai kemajuan strategi pemulihan dalam laporan tersebut.

Namun, suasana pasar berubah setelah panggilan konferensi selama satu jam antara jajaran eksekutif Nike dan para analis Wall Street. Pada akhir sesi, saham Nike melonjak lebih dari 10% dalam perdagangan setelah jam pasar.

Selain menegaskan bahwa rencana pemulihan perusahaan berjalan sesuai jalur, CEO Elliott Hill juga membagikan pembaruan yang menjanjikan. Ia menyoroti peluncuran sejumlah produk baru serta upaya Nike untuk kembali memperkuat kemitraan dengan para grosir, sebuah area strategis yang menjadi fokus utama sejak ia menjabat pada Oktober lalu.

Alasan di Balik Keputusan Nike

Hill juga mengungkapkan alasan di balik keputusan Nike untuk kembali menjual produknya di Amazon, setelah terakhir kali bermitra dengan platform tersebut pada 2019. Selain itu, ia menekankan bahwa menarik minat konsumen perempuan kini menjadi prioritas utama perusahaan.

Selama kuartal tersebut, Nike meluncurkan berbagai produk yang ditujukan khusus untuk perempuan di lebih dari 200 toko, termasuk di gerai Aritzia. Perusahaan juga merilis koleksi kolaboratif bersama bintang WNBA, A’ja Wilson. Menurut Hill, koleksi tersebut ludes terjual hanya dalam tiga menit setelah peluncuran.

Pada Jumat pagi, saham Nike kembali menguat setelah sejumlah bank merilis pandangan positif terhadap kinerja perusahaan. HSBC, misalnya, meningkatkan peringkat saham Nike dari “tahan” menjadi “beli”, hal ini menjadi peningkatan peringkat pertama dalam kurun waktu tiga setengah tahun. Bank tersebut juga menaikkan target harga saham Nike menjadi USD 80 atau sekitar Rp 1,29 juta (estimasi kurs Rp 16.300 per USD), yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 28% dari harga penutupan pada Kamis.

"Memang sudah berlangsung lama, tetapi kami yakin perubahan itu akhirnya datang," tulis analis Erwan Rambourg dalam catatan risetnya. "Kami melihat lebih dari sekadar tanda-tanda bahwa Nike berada di jalur yang tepat untuk memulihkan penjualan dalam waktu dekat, memperbaiki margin keuntungan, dan tetap bertahan meski menghadapi tekanan dari kenaikan tarif."

Hasil kinerja Nike menunjukkan bahwa perusahaan tengah bangkit Kembali dan melakukannya dalam tempo yang disukai oleh pasar Wall Street. Namun, sejumlah pengamat menyarankan agar euforia ini tidak langsung diartikan sebagai kebangkitan penuh.

Raksasa di Industri Sepatu Olahraga

Sebagai raksasa di industri sepatu olahraga, Nike tengah berusaha kembali tumbuh di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Melemahnya daya beli konsumen, meningkatnya utang rumah tangga, beban tarif, hingga isu deportasi massal di sejumlah negara menjadi faktor-faktor yang memengaruhi pola pengeluaran dan pertumbuhan ekonomi (PDB), dan secara langsung turut menantang laju pemulihan perusahaan.

Nike masih memperkirakan penjualan akan menurun pada kuartal berjalan, dengan penurunan di kisaran pertengahan satu digit persen. Perkiraan ini sejalan dengan ekspektasi analis Wall Street yang memproyeksikan penurunan sekitar 7%, menurut data dari LSEG.

Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi Nike adalah menyingkirkan stok produk gaya hidup lama yang sudah kehilangan daya tarik, khususnya dari lini klasik seperti Dunks dan Jordan. Untuk melikuidasi persediaan tersebut, Nike terpaksa mengandalkan diskon besar-besaran, menjual lewat saluran distribusi sekunder, serta masuk ke pasar ritel diskon.

Langkah ini memang membantu mengurangi kelebihan stok, tetapi turut menekan margin laba dan memperlambat pertumbuhan penjualan secara keseluruhan.

Pada tahun fiskal 2025 yang berakhir bulan lalu, penjualan lini sepatu klasik Nike seperti Air Force 1, Air Jordan 1, dan Dunk mengalami penurunan lebih dari 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini bahkan memburuk pada kuartal keempat, mencapai angka 30% dan berdampak pada penjualan hamper USD 1 miliar atau sekitar Rp 16,2 triliun (estimasi kurs Rp 16.300), ungkap Kepala Keuangan Nike, Matt Friend.

Stok Sepatu

Friend menjelaskan bahwa tingkat persediaan Air Force 1 kini mulai stabil, namun stok sepatu Dunk masih menumpuk. Nike terus berupaya menghabiskan sisa persediaan tersebut, yang diperkirakan akan membebani laba hingga paruh pertama tahun fiskal saat ini.

Baik CEO Elliott Hill maupun CFO Matt Friend mengakui bahwa tekanan terhadap laba perusahaan akan terus berlanjut hingga paruh pertama tahun fiskal 2026. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu upaya penghabisan stok produk lama dan biaya yang meningkat akibat tarif. Kendati demikian, mereka optimistis laba perusahaan akan mulai membaik pada paruh kedua tahun fiskal ini.

Meski ada sejumlah sinyal positif, masih terlalu dini untuk memastikan kapan Nike benar-benar akan kembali mencatat pertumbuhan penjualan yang stabil. Saat ditanya apakah perusahaan mungkin meraih kembali pertumbuhan pendapatan dalam tahun ini, CEO Elliott Hill enggan memberikan kepastian mengenai waktunya.

“Dengan segala dinamika yang terjadi, kami memilih untuk menjalani proses ini dari waktu ke waktu setiap 90 hari,” ujar Hill. “Kami percaya pemulihan penuh akan membutuhkan waktu.”

Reporter: Linda Maulina Khairunnisa

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |