Saham Energi Terbarukan Menguat Setelah Pajak Ini Dihapus di AS

1 month ago 30

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham sektor energi terbarukan di Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan setelah Senat Amerika Serikat menghapus ketentuan pajak terhadap proyek-proyek tenaga surya dan angin dalam revisi One Big Beautiful Bill Act (OBBBA).

Keputusan ini memberikan angin segar bagi para pelaku industri yang sebelumnya cemas dengan potensi beban pajak tambahan.

Melansir CNBC International, Kamis (3/7/2025), pada perdagangan Selasa waktu setempat, saham NextEra Energy, yang merupakan pengembang energi hijau terbesar di Amerika, naik sekitar 5 persen. Saham AES, penyedia energi terbarukan lainnya, juga menguat sekitar 2 persen. 

Selain itu, saham Invesco Solar ETF (TAN) tercatat naik 2,9 persen, sementara  iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) turut menguat sebesar 0,8 persen.

Kenaikan ini dipicu oleh pencabutan pajak yang semula dirancang untuk membebani proyek-proyek yang menggunakan komponen dari “foreign entities of concern,” istilah yang banyak diartikan mengarah pada pemasok asal Tiongkok. 

Menurut American Clean Power Association (ACP), pajak tersebut bisa menambah beban industri hingga USD 7 miliar atau setara Rp 113,4 triliun (asumsi kurs Rp 16.203 per dolar AS). Namun, setelah mendapat kritik tajam, klausul pajak tersebut akhirnya dihapus dari versi Senat, seperti dikonfirmasi oleh ACP dan Solar Energy Industries Association (SEIA).

Hapus ITC dan PTC

Kendati demikian, versi RUU dari Senat tetap menghapus investment tax credit (ITC) dan production tax credit (PTC) yang selama ini menjadi fondasi ekspansi energi bersih di AS, meski masa berlakunya tidak seketat rancangan sebelumnya. 

Menurut ACP, proyek yang mulai dibangun dalam waktu 12 bulan setelah RUU diundangkan masih dapat memperoleh insentif penuh. Sementara itu, proyek yang dimulai lebih dari 12 bulan setelah pengesahan tetap memiliki peluang untuk mendapatkan kredit jika dapat mulai beroperasi sebelum akhir 2027.

Pasar Bereaksi Positif

Pasar bereaksi cukup positif terhadap perkembangan ini. Saham Array Technologies dan Nextracker, dua produsen sistem pelacak panel surya, masing-masing melonjak lebih dari 12 persen dan 5 persen. 

Sunrun, perusahaan pemasang panel surya untuk perumahan, naik lebih dari 10 persen. Di sisi lain, produsen inverter seperti SolarEdge dan Enphase mencatat kenaikan sekitar 7 persen dan 3 persen. Namun tidak semua perusahaan menikmati penguatan saham First Solar, produsen panel surya terbesar di AS, justru turun lebih dari 1 persen karena kekhawatiran persaingan harga.

Meskipun pencabutan pajak menjadi kabar baik bagi industri, banyak pihak masih mengkhawatirkan dampak keseluruhan dari RUU ini. Solar Energy Industries Association (SEIA) menegaskan perbaikan dalam RUU Senat terbatas dan undang-undang tersebut secara keseluruhan masih berbahaya bagi energi terbarukan. 

“Undang-undang ini merusak pondasi kebangkitan manufaktur Amerika dan kepemimpinan energi global. Jika RUU ini menjadi undang-undang, keluarga akan menghadapi tagihan listrik yang lebih tinggi, pabrik akan tutup, orang Amerika akan kehilangan pekerjaan, dan jaringan listrik kita akan melemah, kata CEO SEIA, Abigail Ross Hopper.

Saat ini, RUU OBBBA masih akan dibahas di Dewan Perwakilan AS, dan pasar akan terus mencermati bagaimana arah kebijakan ini memengaruhi masa depan energi bersih di Amerika Serikat.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |