Liputan6.com, Jakarta - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) resmi menyerahterimakan Pusat Persemaian Mentawir kepada Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dalam seremoni yang berlangsung di Arboretum Ir. Lukito Daryadi, Kompleks Manggala Wanabakti.
Serah terima ini menandai selesainya seluruh tahapan proyek strategis tersebut dan telah dikembalikan kepada negara sebagai wujud tuntasnya tanggung jawab ITM.
Seremoni serah terima dihadiri oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Wakil Menteri Kehutanan Sulaiman Umar Siddiq, beserta seluruh jajaran Kementerian Kehutanan, Direktur Utama ITM Mulianto, Direktur ITM Ignatius Wurwanto, beserta jajaran Direksi ITM, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara Myrna Asnawati Safitri, serta perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Dokumen serah terima ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Dyah Murtiningsih, Direktur Utama dan Direktur ITM, disaksikan oleh Menteri Kehutanan dan Wakil Menteri Kehutanan.
Pusat Persemaian Mentawir berdiri di atas lahan seluas 32,5 hektare di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Dirancang untuk memproduksi hingga 15 juta bibit tanaman endemik Kalimantan per tahun, Persemaian Mentawir merupakan lumbung bibit terbesar di Indonesia yang diharapkan dapat menopang kegiatan rehabilitasi lahan kritis, pemulihan kawasan hutan, dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni menuturkan, kolaborasi dalam membangun dan mengembangan Pusat Persemaian Mentawir merupakan tonggak penting keterlibatan dunia usaha dalam rehabilitasi hutan secara konkret dan terukur.
”Saya percaya bahwa antara pembangunan dan pelestarian hutan dapat berjalan beriringan. Dalam konteks industri pertambangan, di sinilah Good Mining Practices harus terus kita tekankan, kita jalankan. ITM telah memberikan contoh sebagai Perusahaan yang punya komitmen terhadap pelestarian hutan dan lingkungan yang baik,”ujar dia seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (25/6/2025).
Penopang Rehabilitasi Hutan
Pada kesempatan sama, Menteri Kehutanan juga menandatangani buku Etnobotani dan Pascatambang—hasil kolaborasi ITM dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—yang merupakan bagian dari studi keanekaragaman hayati ITM di area konsesi anak usahanya. Studi ini berfokus pada jenis-jenis tumbuhan lokal dan pemanfaatannya oleh masyarakat di sekitar konsesi.
Direktur Jenderal PDASRH, Dyah Murtiningsih mengatakan, pentingnya keberlanjutan fungsi persemaian ini setelah serah terima.
"Dengan kapasitas produksi bibit yang sangat besar, Pusat Persemaian Mentawir diharapkan menjadi penopang rehabilitasi hutan dan lahan di berbagai wilayah. Kami berkomitmen untuk mengoptimalkan operasionalnya dalam program-program strategis kehutanan nasional di masa mendatang,” ujar Dyah.
Pusat Persemaian Mentawir
Direktur Utama ITM, Mulianto mengapreasi atas kepercayaan Pemerintah terhadap ITM sebagai mitra pembangunan fasilitas ini.
"Bagi kami, menyelesaikan Pusat Persemaian Mentawir bukan hanya soal memenuhi mandat. Ini menjadi bukti komitmen kami dalam melestarikan hutan dan menjaga lingkungan. Melalui proyek ini, kami ingin menegaskan posisi ITM sebagai Perusahaan energi yang menjadikan keberlanjutan sebagai pilar inti.”
Pembangunan Pusat Persemaian Mentawir merupakan hasil kolaborasi multipihak antara ITM, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). ITM mendapat mandat dari Pemerintah untuk membangun fasilitas inti pada 2022 dan Pusat Persemaian Mentawir telah diresmikan Presiden ke-7 Republik Indonesia pada 4 Juni 2024.
ITM telah mencatat jejak panjang dalam kegiatan rehabilitasi ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati. Melalui anak usahanya, PT Indominco Mandiri, ITM membangun Arboretum seluas 270 hektar di area pascatambang yang telah menjadi habitat bagi flora dan fauna endemik Kalimantan, termasuk satwa yang dilindungi dari kelompok mamalia, primata, dan burung. ITM juga melaksanakan penanaman pohon dalam rangka rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS).
Hingga kuartal pertama 2025, ITM dan seluruh anak usahanya telah mengembalikan area DAS terehabilitasi seluas 26,800.42 hektare kepada Pemerintah. Pelaksanaan rehabilitasi DAS oleh ITM dan anak usaha tersebar di berbagai wilayah termasuk Ibu Kota Nusantara, Taman Nasional Kutai, dan Bukit Menoreh-Borobudur.
Serah terima Pusat Persemaian Mentawir menegaskan bahwa proyek lingkungan yang dikelola dengan pendekatan kolaboratif, transparan, dan terukur dapat menjadi warisan berkelanjutan bagi Bangsa. Bukan sekadar infrastruktur fisik, Pusat Persemaian Mentawir adalah simbol kerja bersama lintas sektor demi masa depan yang lebih hijau dan lebih tangguh.