Liputan6.com, Jakarta - Suasana pagi di Pantai Drini, Tanjungsari, Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selalu menyimpan daya tarik tersendiri.
Matahari yang pelan-pelan naik di ufuk timur menyinari hamparan pasir putih yang bersih, berpadu dengan ombak yang tenang.
Puluhan mobil dan bus pariwisata mulai berdatangan sejak pukul 07.00 pagi. Beberapa pengunjung sibuk membentangkan tikar, sebagian lain berfoto dengan latar bukit kecil yang menjadi ikon pantai ini.
Ini bukanlah pemandangan baru. Selama tujuh bulan terakhir, geliat wisata di Gunungkidul, DIY kian terasa.
Dinas Pariwisata Gunungkidul mencatat, sebanyak 1.618.244 wisatawan telah berkunjung ke berbagai destinasi di kabupaten yang dikenal dengan garis pantainya yang panjang dan eksotik ini.
Angka itu tidak hanya menunjukkan antusiasme pelancong, tetapi juga membuktikan bahwa Gunungkidul tetap menjadi magnet utama pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan di tengah persaingan antar destinasi yang makin ketat.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Oneng Windu Wardana atau akrab disapa Windu mengonfirmasi pencapaian tersebut. Ia menyebutkan, kunjungan wisatawan hingga 31 Juli 2025 telah memberikan kontribusi Rp16.840.389.480 terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Ini berarti 52,56 persen dari target PAD tahun 2025, yang dipatok sebesar Rp32.040.349.900, telah tercapai hanya dalam tempo tujuh bulan," ujar Windu saat ditemui di kantor Dinas Pariwisata, Minggu 3 Agustus 2025.
"Kami sangat optimistis target PAD akan tercapai bahkan terlampaui. Melihat tren dan momentum yang ada, apalagi masih ada bulan Agustus dan Desember yang selalu ramai dengan kunjungan," sambung dia.
Windu menjelaskan, pada 2025 ini, pihaknya menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 2.948.195 orang. Dengan capaian lebih dari 1,6 juta wisatawan hingga Juli, kata dia, Gunungkidul telah melampaui 50 persen dari target tahunan, sebuah sinyal positif bagi sektor pariwisata pascapandemi.
Tak punya biaya, mendorong seorang pria asal Gunungkidul, DIY, membuat olahan lidah buaya untuk mengobati sakit lambung yang akut. Dan tidak disangka tidak hanya mengobati sakitnya, olahan lidah buaya itu justru jadi peluang usaha baru. Berikut Beran...
Pantai Drini Tempati Urutan Teratas
Menurut Windu, dari seluruh destinasi yang tersebar di 18 kapanewon, Pantai Drini menempati urutan teratas dalam jumlah kunjungan.
Dia mengatakan, selain menawarkan keindahan laut selatan yang khas, pengelola juga telah menambahkan berbagai atraksi buatan seperti taman foto, spot selfie di atas bukit, hingga wahana air yang ramah anak.
"Drini kini bukan hanya tempat main air. Pengunjung datang karena ingin menikmati suasana baru, berfoto, bahkan sekadar ngopi di kafe tepi bukit," terang Windu.
"Pantai-pantai lain seperti Kukup, Slili, Ngrawe, Sadranan, Sepanjang, hingga Buluk juga terus bersinar. Infrastruktur jalan yang semakin baik, peningkatan kapasitas parkir, dan keberadaan petugas keamanan serta lifeguard dari Satlinmas turut mendukung kenyamanan wisatawan," sambung dia.
Menariknya, pertumbuhan pariwisata Gunungkidul tidak lagi hanya bertumpu pada pantai. Kawasan wisata minat khusus dan edukatif juga mencatatkan peningkatan kunjungan yang signifikan.
"Destinasi seperti Goa Pindul di Bejiharjo menjadi ikon wisata petualangan air dengan susur gua menggunakan ban. Di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, wisatawan lokal dan mancanegara tertarik pada geosite tua yang menawarkan jalur trekking, pemandangan sunrise, dan paket wisata edukatif berbasis masyarakat," papar Windu.
Bukan Sekadar Pantai: Wisata Minat Khusus dan Budaya Tumbuh Pesat
Sementara itu, lanjut Windu, Embung Nglanggeran, Embung Batara Sriten, dan Bukit Bintang Patuk menjadi alternatif wisata alam yang menyajikan panorama dari ketinggian.
Tak kalah menarik, lanjut dia, Desa Wisata Bleberan dengan Air Terjun Sri Gethuk dan potensi seni lokal, serta Desa Kemadang yang mengembangkan wisata edukasi batik, pertanian, dan kuliner khas, menunjukkan bahwa wisata budaya dan berbasis komunitas mulai dilirik wisatawan sebagai pengalaman baru yang autentik.
Menurut Windu, keberhasilan sektor pariwisata tak lepas dari sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal. Peran Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di tiap destinasi dinilai sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, kebersihan, hingga kenyamanan pengunjung.
"Keramahan warga pesisir, pelayanan bersih, dan keunikan lokal adalah kekuatan utama kita. Kami terus edukasi masyarakat untuk menjaga hal itu sebagai nilai jual utama," pungkas Windu.