Liputan6.com, Palembang - Video seorang dokter dipaksa membuka masker oleh keluarga pasien menjadi viral di media sosial. Peristiwa itu belakangan diketahui terjadi di RSUD Sekayu Palembang. Dalam potongan video itu terlihat keluarga pasien dengan emosi memaksa dr Syahpri Putra Wangsa, seorang dokter di rumah sakit tersebut, untuk membuka maskernya di hadapan pasien yang tengah terbaring.
Peristiwa itu terjadi di ruang rawat inap di RSUD Sekayu, pada Selasa (12/8/2025).
Sebenarnya bagaimana duduk perkaranya? Berikut 6 fakta terkait peristiwa tersebut:
1. Aksi Pemaksaan
Saat dokter Syahpri sedang memeriksa pasiennya, keluarga pasien yang berada di ruangan yang sama, meminta dokter melepas masker dengan nada emosi. Namun permintaan tersebut ditolak oleh dokter Syahpri, karena melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit.
Tiba-tiba, salah satu anggota keluarga pasien mendekati dan memegang bagian belakang leher dokter sembari memaksa melepaskan masker dokter, dan akhirnya masker di mulut dokter terlepas.
2. Emosi Lihat Kondisi Pasien
Dengan nada tinggi juga mempertanyakan identitas dokter serta meminta penjelasan kondisi pasien, yang disebut adalah ibu dari keluarga pasien tersebut.
"Ibu saya ini setiap hari disuruh tunggu dahak, dikit-dikit tunggu dahak. Hasil rontgen dia bilang, hasil rontgen, kita sewa ruangan VIV ini untuk pelayanan," ucap pria tersebut sembari merekam sang dokter.
Walau dokter Syahpri sudah menjelaskan ke seluruh keluarga pasien, namun salah satu anggota keluarga pasien masih emosi dan meminta dokter bisa menangani ibunya dengan cepat.
"Pelayanan yang bagus, kamu ngerti nggak, pelayanan yang layak, bukan sekadar nyuruh nunggu. Kita nggak mau pakai BPJS, nggak mau dimain-mainkan seperti kamu ini ya, kamu paham ya. Kau bilang ini ruangan VVIP, paling layak. Buka masker, kau belum tahu kita ya," ujarnya.
3. Lapor ke Polisi
Kasubag Humas RSUD Sekayu Dwi berujar, dokter Syahpri memang dikenal sebagai sosok yang baik, namun akhirnya pihak rumah sakit dan korban melanjutkan kasus penganiayaan tersebut ke aparat kepolisian.
"Benar, itu dokter spesialis ginjal. Di video terlihat beliau dimarahi keluarga pasien dan tetap sabar," ujarnya.
Didampingi pihak RSUD Sekayu dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Musi Banyuasin Sumsel, dokter Syahpri Putra Wangsa melaporkan penganiayaan tersebut ke Polres Musi Banyuasin, Rabu (13/8/2025) kemarin.
"Saya mewakili nakes (tenaga kesehatan) di seluruh Indonesia berharap, jangan lagi menimpa Syahpri-Syahpri yang lain. Memang harus tegas, karena dapat membahayakan nakes lain seperti perawat, dokter umum, bukan hanya spesialis saja," ungkapnya, Selasa (13/8/2025).
4. Dilaporkan Baru Minta Maaf
Sebelum dilaporkan oleh dokter Syahpri ke kepolisian, belum ada itikad baik dari keluarga pasien untuk meminta maaf, terkait penganiayaan yang dilakukan di depan pasien di RSUD Sekayu Musi Banyuasin Sumsel tersebut.
"Yang bersangkutan belum meminta maaf secara pribadi. Kasus ini sudah saya laporkan dan kita menunggu saja," ungkapnya.
Akhirnya ruang mediasi pun dilakukan, antara pihak RSUD Sekayu, dokter Syahpri, Sekda Musi Banyuasin dan keluarga pasien, tepat setelah laporan ke polisi masuk, Selasa (13/8/2025).
Putra, salah satu anggota keluarga pasien yang ada dalam rekaman video tersebut meminta maaf, karena telah melakukan aksi tidak terpuji ke dokter Syahpri dengan alasan emosi memuncak.
“Setelah kejadian itu, langsung dimediasi. Saya selaku keluarga pasien sudah meminta maaf. Saya akui saat itu emosi,” katanya.
5. Kaget Videonya Viral
Menurutnya, mediasi sudah dilakukan sebelum video penganiayaan tersebut viral di media sosial. Dia dan anggota keluarganya juga kaget, dengan viralnya video tersebut yang penuh dengan kritikan pedas dari warganet.
"Saya tidak tahu itu video sumbernya dari mana, siapa yang unggah. Padahal setelah kejadian itu sudah selesai. Saya bahkan mengakui sudah emosi dan kita sudah minta maaf saat itu juga," ucapnya.
Alasan dia dan adiknya membuka paksa masker dokter, hanya untuk memastikan jika yang memeriksa ibunya adalah dokter RSUD Sekayu Musi Banyuasin Sumsel. Video itu juga sengaja direkamnya, sebagai bukti jika terkait status dokter yang menangani ibunya.
Syahpri mengaku sempat meminta satu perawat bersiap merekam dan perawat lainnya memanggil petugas keamanan.
6. VIP Tidak Diprioritaskan
Ibu Putra yang sudah dirawat di rumah sakit sejak Jumat (8/8/2025) lalu, didiagnosa diabetes komplikasi, saat itu juga Putra masih berada di Jakarta dan saudaranya yang mengurus ibunya.
Saat berkunjung ke rumah sakit, Putra dibuat kesal karena pengecekan laboratorium baru dilakukan hari Selasa. Padahal ibunya sudah ditempatkan di ruang VIP, yang harusnya mendapatkan prioritas.
"Saya disuruh bersabar, kenapa saya disuruh bersyukur dan sabar padahal saya tidak marah. Di situ emosi saya memuncak. Apalagi melihat ibu saya terbaring di situ, saya sangat emosional," ungkapnya.
Walaupun sudah dilaporkan ke polisi, pihak RSUD Sekayu Musi Banyuasin masih melakukan perawatan di ruang VIP ke pasien bernama Rita.