Tentang Laut yang Tak Terduga, Kabar Duka Saat Badai

1 week ago 11

Liputan6.com, Jakarta Laut, dengan segala kedalaman dan misterinya, menjadi cermin kehidupan, tempat manusia mencari ketenangan, rezeki, dan makna. Selasa, 19 Agustus 2025, perairan utara Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dan Korowelang, Kendal, menunjukkan bahwa alam bisa berbalik dalam sekejap, menguji ketabahan mereka yang bergantung padanya.Dua peristiwa tragis di hari yang sama menyisakan duka.

Di dam merah, kawasan Tambak Lorok, sisi utara Pelabuhan Tanjung Emas, 12 pemancing mulai berlabuh sejak pagi. Mereka diantar oleh Singgih, warga Tambak Lorok dengan perahu sederhana yang disewakan.

Bagi para pemancing ini, dam merah lebih dari sekadar tempat mencari ikan. Dia menjadi ruang untuk menikmati hobi yang menenangkan jiwa.

Berdasarkan penelitian dalam Journal of Environmental Psychology (2016), memancing mampu menurunkan kadar kortisol penyebab hormon stres dan menciptakan ketenangan melalui ritme alam yang repetitif. Gerakan menunggu tarikan pancing, mendengar debur ombak, dan terhubung dengan air merangsang pelepasan endorfin, meningkatkan kesejahteraan psikis.

Sementara Frontiers in Psychology (2018) juga menyebutkan bahwa memancing memperkuat resiliensi mental, membantu menghadapi tekanan hidup melalui kesabaran dan fokus. Bagi para pemancing di dam merah, laut adalah tempat merenungi hidup, mencari kedamaian di tengah hiruk-pikuk dunia.

Hanya saja sekitar pukul 10.30 WIB, angin meraung dan hujan deras turun. Singgih yang awalnya mengantar bergegas menjemput mereka. Dia tiba di dam merah pukul 11.30 WIB. Namun saat itu dia hanya menemukan tujuh pemancing yang berpegang pada sisa harapan. Lima lainnya hilang, tersapu gelombang yang tak kenal kompromi.

Pukul 14.00 WIB badai reda. Singgih mengajak nelayan setempat untuk mencari para pemancing yang hilang. Dua jam kemudian, mereka mendapati dua jasad, satu di antaranya mereka kenal bernama Bagus. Sementara satunya tak mereka ketahui.

Tiga pemancing lain, Kiswanto, Mono, dan satu orang lagi belum diketahui nasibnya. Hari semakin gelap dan laut tetap bergejolak, akhirnya warga melapor ke Basarnas. Mendapat laporan, Basarnas bergerak cepat dan langsung mengirim tim dan perahu karet.

"Tapi malam tadi terlalu berisiko. Pagi ini, kami akan kembali mencari,” kata Budiono, Kepala Kantor SAR Semarang.

Ia meminta timnya berangkat sesegera mungkin ketika laut mulai tenang.

"Masih ada tiga jiwa di luar sana. Semoga cuaca pagi ini mendukung, dan semoga mereka segera ditemukan dalam kondisi selamat," katanya.

Kisah lain terjadi sehari sebelumnya. Jika para pemancing di Tanjung Emas adalah sosok pencari ketenangan melalui hobi, di perairan Korowelang, Kendal, laut adalah darah kehidupan bagi para nelayan.

Saat itu kapal Sikawit berlayar pada pukul 11.00 WIB. Membawa sepuluh anak buah kapal (ABK) yang menyandarkan rezeki pada tangkapan hari itu. Namun, sekitar pukul 14.35 WIB, hujan deras dan angin kencang menghantam, membuat kapal terbalik di pelukan ombak.

Tujuh nelayan diselamatkan oleh kapal lain yang sigap, tetapi tiga lainnya lenyap, seolah direnggut rahasia laut.

“Untuk peristiwa di Korowelang Kendal, kami telah menyisir dari Pelabuhan Tanjung Emas hingga lokasi kejadian, sampai malam. Namun belum menemukan tanda,” katanya.

Pencarian dilanjutkan pagi (20/8/2025) ini, menyisir ke arah barat hingga dua kilometer dengan RIB Basarnas.

“Laut ini luas, ombaknya tak mudah. Tapi kami akan terus mencari, dan berharap agar mereka segera ditemukan dalam keadaan terbaik," katanya

Bagi para pemancing, dam merah adalah terapi psikis dari beban hidup. Sedangkan bagi nelayan Korowelang, laut adalah napas kehidupan. Namun, ketika laut berbalik, semua bermuara menjadi doa dan ketabahan. Bagi tim SAR, setiap misi adalah harapan keluarga, menjaga nyala keikhlasan di tengah ketidakpastian.

Laut, dengan segala kuasa dan rahasianya, mengajarkan untuk mendengarkan, bukan melawan. Filsuf Tiongkok, Lao Tzu menyebut bahwa alam tidak pernah terburu-buru, namun segalanya tercapai. Memahami alam berarti menerima bahwa ia tak selalu bisa diprediksi, namun setiap fenomena membawa pelajaran, tentang kerendahan hati, keberanian, dan keikhlasan.

Kisah ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan laut.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |