Syukuran Cai Masyarakat Petani Cipangisikan, Berkah Cilisung yang Tidak Kunjung Kering

1 month ago 20

Liputan6.com, Bandung - Setiap bulan Muharam, masyarakat petani Kampung Cipangisikan memanjat syukur di Cilisung, sumber air yang selama ini telah mengaliri kebun-kebun sayur, mengisi gelas-gelas minum anak cucu, yang mengucur di tiap pancuran wudu tempat bersuci.

Genangan air di kaki Gunung Padaringan, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, itu berwarna biru menunjukkan kedalaman, tak pernah surut. Wujud berkah alam, juga jerih jariah para leluhur, para karuhun.

Di sunyi pagi itu, suasana haru berlangsung, mereka yang datang ke Cilisung mengisak, membisik surah fatihah. Tradisi syukuran cai atau syukuran air itu masih terjaga secara temurun, hingga kini, Kamis, 24 Juli 2025, khidmat dan sederhana.

Warga berdatangan sekira pukul delapan pagi, utamanya membawa tiga wadah besar tertutup karembong, berisi tumpeng dan lauk pauk hasil udananan sukarela.

Sumber air seluas kira-kira 50 tumbak atau setara 700 meter persegi itu sedikitnya mengairi 170 kepala keluarga di RW 07 Cipangisikan, belum lagi ke dua kampung lainnya. Artinya, ribuan jiwa bergantung secara langsung ke Cilisung.

Berpuluh tahun dulu, warga bergotong-royong agar air itu mengalir ke permukiman. Menurut tokoh setempat, tempo itu, para leluhur berupaya membuat saluran air agar sampai ke rumah-rumah.

Almarhum Abah Kurdi, Almarhum Apa Haji Salim, dan Apa Haji Engkun, adalah beberapa nama saja di samping nama-nama lain yang tak tersebut tapi turut berjasa dalam memanfaatkan sumber air itu demi kemaslahatan orang banyak.

Jasa itu terus mengalir menyambung hidup dan penghidupan masyarakat petani di sini, tak kering hingga anak cucu bergenerasi. Sejatinya, masyarakat petani menghayati air sebagai berkah tak ternilai dari Tuhan Semesta Alam, yang menopang kehidupan, menunjang mata pencaharian, dan menyambung riwayat keluarga-kerabat.

Suasana haru pun mengiringi doa bersama di pinggiran sumber air itu. Setiap tempat adalah tempat berdoa, kata Ustaz Asep, saat memimpin doa. Oleh sekelompok fanatik, ia sempat dicap ustaz musyrik karena berdoa di gunung.

Tapi, menukil riwayat Nabi Musa yang pernah bermunajat di Gunung Tursina, kata dia, begitu pula masyarakat petani di sini tak ada salahnya berdoa di kaki Gunung Padaringan, di sumber air Cilisung, bersyukur dan menyaksikan bagaimana karunia Tuhan itu mengalir menjadi air ke kebun-kebun, ke rumah-rumah keluarga petani.

"Aya contona, sepertos Nabi Musa," katanya.

Keluarga Uwa Imas, adalah salah satu bukti yang hingga kini memanfaatkan air Cilisung untuk masak-minum. Mereka tak perlu membeli air galon, air Cilisung dirasanya lebih jernih dan segar.

Ia bercerita, pernah membandingkan sejumlah air kemasan dengan air Cilisung. Gelas-gelas berisi air itu dijejer di atas meja, dicicipi gelas per gelas, dan Uwa Imas teguh memilih air Cilisung untuk makan minum, pun mengairi kebunnya.

"Uwa mah tara meser galon," kata dia, menegaskan bahwa mata air Cilisung sudah sangat cukup memenuhi segala kebutuhan airnya.

Syukuran di Cilisung ditutup dengan makan bersama, sebelum kemudian mereka kembali ke kebun atau pulang ke rumah masing-masing.

Tradisi syukuran cai menegaskan bagaimana manusia dan alam itu silih terhubung, sumber air Cilisung adalah karunia yang tak kunjung kering hingga kini, yang selayaknya dijaga demi kelangsungan bersama.

Kecamatan Pangalengan diketahui sebagai wilayah pertanian. Berdasarkan data kependudukan, secara keseluruhan jumlah penduduk Pangalengan tahun 2023 mencapai 157 jiwa. Sementara, data Simluhtan Kabupaten Bandung pada 2021 menunjukan, jumlah petani di Kecamatan Pangalengan tercatat 2.267 orang.

Maka, tradisi sakral seperti syukuran cai pun dihayati sebagai bagian dari masyarakat petani dalam memagari lingkungan khususnya sumber air dari berbagai ulah-laku yang bisa mencemari bahkan merusak.

Seperti belum lama ini, orang dari kota dikabarkan sempat berdatangan, tak sungkan berenang di mata air Cilisung, memandangnya semata hidden gem, menangkap dua ikan besar yang padahal bagi masyarakat petani itu ialah berarti ciri penjaga.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |