Liputan6.com, Jakarta Tawa riang anak-anak berpadu dengan aroma nasi hangat dari dapur sehat mewarnai pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Jumat (22/8/2025).
Dari meja-meja makan sederhana, lahir kisah mengharukan sekaligus menggelitik yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Anak-anak menuliskan pesan unik di atas sobekan kertas, menjadikannya semacam “surat cinta” bagi para penyelenggara.
Kotak makan yang mestinya ditinggalkan kosong setelah disantap, justru berubah menjadi kotak saran penuh suara jujur. Tulisan tangan mungil dengan huruf yang masih kaku, kadang belum rapi, berderet di atas kertas bekas.
Ada yang singkat, ada pula yang panjang penuh kesadaran. Semua lahir dari ketulusan hati anak-anak setelah mencicipi menu makan siang bergizi.
Salah satu catatan berbunyi, “Makasih yang mengantar makan bergizi gratis. Semangat para relawan.” Pesan itu ditulis rapi, seolah berasal dari anak yang benar-benar memahami arti kerja keras orang dewasa.
Namun di sampingnya, ada pula kertas sederhana bertuliskan, “Mie ayam request buah apel,” yang polos namun menggemaskan. Tidak ketinggalan pesan lain, “Kurang jajanan,” dengan huruf besar kecil tak beraturan.
Yang paling mengundang tawa sekaligus rasa haru adalah tulisan singkat di secarik kertas kusut: “Tolong tambahkan sambel bawang.” Sederhana, lucu, tetapi juga jujur bagi anak-anak, kebahagiaan bisa hadir dari tambahan rasa pedas yang akrab dengan lidah mereka.
Surat Cinta yang Menguatkan Semangat
Pimpinan Dapur Sehat Kalurahan Jati Ayu, Muncarno, tak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya ketika membaca pesan-pesan itu. Ia menyebut catatan kecil dari anak-anak sebagai “surat cinta” yang tak ternilai harganya.
“Alhamdulillah, responsnya bagus, luar biasa. Saya tidak menyangka malah dapat surat cinta dari anak-anak. Itu kepolosan yang patut kita hargai,” ujarnya.
Menurutnya, catatan sederhana itu menjadi penguat semangat bagi tim dapur sehat yang sejak pagi harus menyiapkan ribuan porsi untuk 33 satuan pendidikan di Karangmojo. “Semua lelah terbayar lunas ketika melihat anak-anak tersenyum puas. Surat-surat itu hadiah terindah bagi kami,” tambahnya.
Pelaksanaan MBG perdana di Karangmojo memang berlangsung meriah. Anak-anak datang dengan rasa penasaran, membuka kotak makan bergizi dengan wajah berbinar, lalu menyantapnya dengan lahap. Suasana riuh canda mereka berpadu dengan kesibukan relawan yang lalu-lalang.
Tak hanya anak-anak, ibu hamil pun ikut merasakan manfaat. Mereka mengaku terbantu menjaga asupan gizi tanpa harus memikirkan biaya tambahan. MBG benar-benar menghadirkan kebersamaan bersama anak-anak yang ceria, ibu hamil yang lega, relawan yang ikhlas, hingga warga yang gotong royong mendukung dapur sehat.
Kertas kecil bertuliskan “tolong tambahkan sambel bawang” memang terlihat sepele. Namun bagi penyelenggara, itu adalah simbol bahwa anak-anak merasa nyaman dan berani menyampaikan keinginan mereka. MBG bukan lagi sekadar program pemerintah, melainkan ruang interaksi yang membuka kesempatan bagi anak-anak untuk didengar.
Bagi Muncarno dan timnya, pelaksanaan perdana ini adalah puncak perjalanan panjang persiapan. Ia lega karena semua kerja keras membuahkan hasil nyata. “Surat cinta anak-anak ini akan selalu menjadi pengingat bagi kami. Bahwa makanan bukan hanya soal menu, tapi juga kebahagiaan dan harapan masa depan,” pungkasnya.