Seniman Portugal Gunakan 'Teknik Aneh' Lukis Borobudur, Hasilnya Mengejutkan

4 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta Borobudur di malam hari biasanya jadi tempat kontemplasi, syahdu dan penuh mistis. Tapi kali ini, Candi megah itu justru jadi “studio alam” bagi seniman asal Portugal, Nelson Ferreira. Dengan teknik aneh tapi keren bernama PlatiGleam, ia menorehkan cahaya di atas kanvas gelap. Hasilnya?

Lukisan yang bisa berubah-ubah tampilan sesuai sudut pandang dan intensitas cahaya. Kalau dilihat sekali, seperti lukisan biasa. Tapi coba geser posisi sedikit, eh, tiba-tiba gambar itu seperti hidup, muncul–hilang, bikin orang geleng-geleng kepala.

Nelson Ferreira tidak asal melukis. Ia seperti “membaca” makna setiap candi. Katanya, Borobudur mengajarkan manusia untuk membumi karena bentuknya menjalar ke bawah. Prambanan, yang menjulang tinggi, mengingatkan manusia menengadah ke surga. Sementara Sewu, katanya, justru menghadirkan rasa berada di masa lalu, seperti mesin waktu spiritual.

“Melukis Candi Sewu di malam hari itu favorit saya. Dengan proyektor, cahayanya dramatis sekali. Volume candi terlihat berbeda dibanding siang hari. Rasanya saya sedang berjalan di antara dua–tiga dunia masa lampau,” ujar Nelson.

Dari Portugal ke Borobudur

Nelson datang bukan sekadar melancong. Kehadirannya adalah bagian dari program Twin World Heritage yang sejak 2017 digagas IDM. Borobudur sudah punya “saudara kembar” lintas benua mulai dari Angkor Wat, Machu Picchu, Taj Mahal, sampai Monastery Batalha di Portugal.

Pameran bertajuk Nyawiji “The Unity” ini digagas oleh InJourney Destination Management (IDM) dan dibuka lewat Pop Up Exhibition di Lalitavistara Restaurant, Borobudur Cultural Center, Magelang. Setelah itu, rangkaian pameran akan berlanjut di Museum Borobudur, Kampung Seni Borobudur, awal September 2025.

Commercial Group Head PT Taman Wisata Borobudur, AY Suhartanto, menegaskan bahwa program ini bukan proyek iseng. “Kerja sama ini menekankan pada pelestarian heritage melalui pertukaran budaya. Bukan cuma destinasi yang untung, tapi juga ekosistem seni kita dapat perspektif baru,” ujarnya.

Suhartanto menambahkan, kolaborasi ini juga terkait program besar pemerintah lewat Danantara, sebuah inisiatif yang menyatukan pariwisata, seni, dan budaya ke dalam satu gerakan nasional. Jadi, jangan kaget kalau nanti makin banyak seniman luar negeri berkarya di candi-candi Indonesia, atau malah sebaliknya seniman kita pamer karya di luar negeri.

Cahaya, Humor dan Pesan Moral

Nelson sendiri punya pandangan cukup “nakal” tentang dunia seni kontemporer. Menurutnya, banyak museum modern di Eropa yang justru “mengejek” spiritualitas dan mengabaikan budaya kuno. Padahal, katanya, kita bukan siapa-siapa tanpa masa lalu.

“99 persen karya seni hari ini terhubung dengan tradisi panjang dari generasi sebelumnya. Kalau seni terpisah dari spiritualitas dan warisan budaya, ia kehilangan makna,” kata Nelson.

Ia lalu mengajak para seniman muda untuk berani melirik masa lalu. “Belajarlah dari maestro sejati, hormati generasi pendahulu. Kalau tidak, kita hanya akan jadi seniman sok original padahal sebenarnya cuma mendaur ulang,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Nelson, Platigleam bukan sekadar teknik cat-cat-an. Ini pengalaman visual. “Anda akan suka dengan efek aneh dari lukisan ini. Gambar muncul–hilang, mengikuti cahaya. Anak kecil sampai orang tua bisa menikmatinya. Beda budaya, beda usia, semua bisa merasakan hal baru,” Pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |