Petani Sampang Menjerit, Harga Tembakau Anjlok Akibat Anomali Cuaca

1 week ago 10

Liputan6.com, Jakarta Hujan deras berturut-turut dalam dua hari membawa cerita pilu para petani tembakau di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Bulan Agustus, seharusnya menjadi bulan penuh senyum bagi petani di sana. Karena di bulan ini proses panen si 'daun emas' dilakukan. Mulai memetik, merajang, hingga menjemur. 

Namun terjadinya anomali cuaca yang disebut kemarau basah, menyebabkan petani tembakau merugi. Hujan deras telah merusak tembakau petani yang siap jual. Tidak hanya rusak, tembakau yang terkena air hujan juga terancam tak laku jual di pasaran.

Moh Sadulla, warga Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, adalah petani yang tembakaunya sempat terkena hujan. Dia mengaku cemas tembakau miliknya sulit laku karena sebagian telah berubah warna menjadi merah setelah terkena air hujan.

"Ada sekitar 250 rigen tembakau milik saya yang rusak. Para pengepul untuk sementara sudah mengumumkan tidak mau membeli tembakau yang basah akibat hujan," kata Sadullah, Rabu (20/8/2025).

Sadulla menjelaskan, anomali cuaca kemarau basah, juga menghambat proses penjemuran tembakau. proses pengeringan tembakau yang seharusnya selesai dalam satu hari, kini memakan waktu hingga tiga hari agar kering dan bisa disimpan.

Proses pengeringan yang lama itu, kata dia, juga bisa menyebabkan menurunkan mutu tembakau secara drastis.

"Petani sekarang repot. Dijemur lama karena sering mendung kualitasnya turun. Kalau kena hujan kualitasnya hancur," ungkap dia.

Keluhan serupa disampaikan oleh petani lain, Asnawi. Ia menyebutkan harga jual tembakau tahun ini anjlok lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Harga tembakau tahun ini hanya Rp30.000 sampai Rp40.000 per kilogram. Padahal tahun lalu harganya bisa mencapai Rp75.000 hingga Rp80.000 per kg. Petani tentu saja mengeluh karena harganya sangat murah," terang petani yang juga berasal dari Desa Tobai ini.

Faktor utama penyebab anjloknya harga adalah cuaca yang sering hujan, yang sangat memengaruhi kualitas hasil panen.

"Beberapa Minggu lalu, cuaca sempat panas terus. Saya berharap bisa membuat harga tembakau naik. Ternyata hujan lagi," kata dia.

Mayoritas petani di daerahnya menanam tembakau hanya sekali setahun pada musim kemarau, dengan potensi panen 3-4 kali dalam satu periode tanam.

"Ini panen kedua saya, tetapi harganya tetap murah. Seharusnya sudah naik," imbuh Asnawi.

Kondisi kemarau basah ini, lanjut Asnawi, mengancam kelangsungan usaha tani tembakau di Sampang. Dia mengkhawatirkan banyak petani yang akan enggan menanam tembakau pada musim mendatang jika harga tidak kunjung membaik.

"Dengan harga semurah ini, petani pasti rugi besar. Kami berharap harga tembakau bisa naik dan setara dengan tahun lalu," harapnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |