Perjuangan Dominggus, Merantau dari Papua ke Larantuka Seorang Diri Tak Disangka jadi Komandan Paskibra di NTT

1 week ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Dominggus Wellip, tak pernah menyangka. Keputusannya meninggalkan kampung halaman di Papua malah mengantarkannya menjadi salah satu dari 45 anggota Paskibra HUT ke-80 RI di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Minggu (17/8/2025) kemarin.

Perjalanannya dimulai dari mengikuti seleksi di sekolah hingga terpilih sebagai salah satu pelajar dari SMA Katolik Frateran Podor Larantuka untuk menjadi komandan Paskibra.

Namun di tengah kebanggaannya itu, Dominggus masih mengingat jelas. Bagaimana perjuangan dan perjalanan hidupnya yang sulit hingga harus berpindah dari Papua ke NTT.

Merantau Sejak Usia 12 Tahun

Kala itu, Dominggus masih berusia 12 tahun. Di usia beranjak remaja, dia terpaksa meninggalkan tanah Papua menuju Maumere, Kabupaten Sikka. Orang tuanya bukan tanpa alasan melakukan itu. Mereka ingin Dominggus kecil mendapatkan pendidikan terbaik. Dia kemudian dimasukkan ke SMP Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere. Selama mengenyam pendidikan di sana, dia tinggal di asrama.

"Saat tamat SD, ada informasi dari pastor di Papua, kalau di Maumere sudah ada SMP Seminari BSB. Akhirnya ayah antar saya ke Maumere. Waktu itu ayah cuma pesan, jika ingin tahu kerasnya dunia dan tantangan hidup, kamu harus keluar dari Papua," pesan ayah yang masih terkenang jelas di ingatan Dominggus.

Oleh orangtuanya, biaya sekolah langsung dibayar lunas untuk tiga tahun termasuk biaya asrama.

"Tapi untuk kebutuhan lain, saya cari sendiri. Ayah mendidik saya untuk mandiri," sambungnya.

Berbekal Rp50 Ribu Daftar Sekolah Impian

Tiga tahun berlalu. Dominggus menamatkan bangku SMP. Tetapi masalah baru muncul. Dia bingung harus melanjutkan pendidikan ke bangku SMA atau tidak. Dia memberanikan diri menghubungi orangtuanya via telepon, namun selalu gagal.

Di tengah kebingungannya, Dominggus diajak salah satu teman berangkat ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Padahal saat itu, sisa uang di tangannya hanya Rp50.000. Sudah coba menghubungi orang tuanya untuk meminta bekal dan masukan, telepon tak kunjung tersambung.

"Saya bingung harus ke mana. Terpaksa ikut teman datang ke Larantuka," ungkapnya.

Setibanya di Larantuka, ia dan temannya itu nekat mendaftar ke SMA Frateran Podor Larantuka. Salah satu sekolah impiannya. Padahal saat itu, dia sama sekali tidak memegang uang.

"Ada dua sekolah impian saya yakni SMA Podor atau Seminari Sandominggo Hokeng, karena cita-cita saya jadi pastor," ujarnya.

Berkat bantuan temannya, segala biaya pendaftaran akhirnya bisa dibayar. Seperti memang diajarkan untuk berjuang dan mandiri, setelah semua proses itu selesai, dia tiba-tiba bisa menghubungi orangtuanya.

"Saya sampaikan bahwa saya sudah daftar di Larantuka. Ayah mengirim uang untuk semua biaya," tuturnya.

Semakin Mencintai Indonesia dan Merah Putih

Kerasnya perjuangan hidup yang dilalui Dominggus kini berbalas manis. Mewakili kelas XI SMA Katolik Frateran Podor Larantuka, dia terpilih menjadi komandan Paskibraka di Larantuka. Capaian ini membuatnya semakin mencintai Indonesia dan Merah Putih sampai kapan pun.

"Kelak saya akan menceritakan ke umat Allah di tanah Papua bahwa di Flores Timur saya dididik menjadi manusia," tandasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |