Nestapa ABG di Gunungkidul Diperkosa Tetangga lalu Hamil, Orang Tua Dipaksa Berdamai dan Dijauhi Warga

4 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta Seorang ABG asal Panggang, Gunungkidul, menjadi korban pemerkosaan hingga hamil, harus diungsikan ke Kota Jogja akibat trauma berat.

Remaja putri berusia 15 tahun asal Girisuko, Panggang, Gunungkidul, yang menjadi korban perkosaan oleh tetangganya. Tak sekadar itu, kisah ini makin memilukan karena pemerkosaan yang terjadi menyebabkan korban hamil.

Kejadian itu membuat korban trauma berat hingga harus diungsikan ke rumah keluarganya di kawasan Pugeran, Kota Yogyakarta.

W, ibunda korban, mengungkapkan bahwa putrinya tidak sanggup lagi tinggal di kampung halaman karena rumah pelaku hanya berjarak beberapa langkah dari rumah mereka. Hampir sebulan terakhir, ia dan anaknya menetap di Yogyakarta untuk menenangkan diri.

"Anaknya tidak mau tinggal di sana karena trauma. Kalau di sana, teringat terus dan rumah pelaku dekat sekali dengan rumah saya. Di sini pun kadang masih menangis kalau mengingat kejadian itu," kata W di Pugeran, Jogja, Minggu (24/8/2025).

Tak Ada Tetangga yang Membela

Korban sebenarnya sudah diterima di salah satu sekolah menengah di Gunungkidul. Namun terpaksa dicabut karena kasus tersebut. W sendiri sempat berniat menyekolahkan putrinya di Jogja agar lebih tenang, tetapi dia masih menunggu perkembangan psikologis sang putri.

Kesedihan W semakin mendalam lantaran warga sekitar tidak ada yang membelanya. Malah, katanya, tokoh masyarakat setempat menganggap masalah ini selesai karena ia bersama suami pernah dipaksa menandatangani surat perdamaian.

"Tidak ada yang membela. Tapi saya dan suami tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu. Saya juga tidak akan mencabut laporan di Polres Gunungkidul, karena sakit hati melihat anak saya mendapat perlakuan seperti itu,” tegas W.

Pemerkosaan bukan Pacaran Kebablasan!

Kasus ini pun mendapat perhatian dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, yang datang langsung menjenguk korban di Pugeran. Ia menekankan bahwa kasus ini adalah pemerkosaan, bukan “pacaran kebablasan” sebagaimana sering digiring oleh sebagian orang.

“Masyarakat harus paham, ini bukan soal pacaran. Ini jelas pemerkosaan, dan pelaku harus diberi efek jera sesuai hukum yang berlaku. Menikahkan korban dengan pelaku bukan solusi, justru akan semakin merugikan korban dan keluarganya,” tegas Esti.

Selain mendukung penegakan hukum, Esti juga memastikan akan membantu pendidikan korban. Ia menyebut, jika trauma masih berat, maka pola pendidikan alternatif seperti home schooling bisa dipertimbangkan.

“Kami akan berkoordinasi dengan Bupati Gunungkidul karena beliau juga memiliki kepedulian. Bahkan di rumah dinasnya sudah disiapkan rumah aman untuk korban kekerasan seksual,” tambahnya.

Kronologi Pemerkosaan

Kasus ini terungkap pada Juli lalu ketika korban mengeluh sakit perut. Awalnya dikira sakit lambung, namun setelah diperiksa dokter, korban ternyata tengah hamil. Ternyata, korban mengalami kekerasan seksual berulang sejak Februari 2025, disertai ancaman penyebaran video oleh pelaku.

Kini, meski masih diliputi trauma, keluarga korban menegaskan akan terus memperjuangkan keadilan bagi anaknya melalui jalur hukum.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |