Nasib Bocah Raya: Tubuh dan Otak Penuh Cacing, Orang Tua ODGJ, Tak Punya BPJS, Dinkes Angkat Tangan

1 week ago 12

Liputan6.com, Sukabumi - Raya, hidup bocah tiga tahun berakhir tragis. Badan dan otaknya penuh cacing. Tak cuma miskin, Raya juga tak ada yang mengurus.

Penderitaan Raya bertambah. Kedua orang tuanya mengalami gangguan jiwa (ODGJ). Sehingga Raya harus tinggal sehari-hari sendiri. Pemerintah desa mengaku sudah maksimal dalam memberikan perhatian kepada Raya.

"Anak itu sering main di kolong sama ayam karena rumahnya panggung. Anaknya untuk jalan juga agak lambat, terus dia punya sakit demam. Sudah diperiksa ke klinik terdekat, ternyata dia punya penyakit paru," Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi.

Wardi menjelaskan, ada bantuan dari pemerintah desa. Baik dari Dinkes maupun Dana Desa. Dalam proses pengawalan pemeriksaan kesehatan, berat badan Raya sempat naik. Pemerintah desa juga telah memberikan rutin makanan tambahan setiap hari.

Wardi menambahkan, bahkan rumah tempat tinggal Raya sempat hancur. Lalu dibangun kembali oleh warga dan pemerintah desa. 

Ironisnya, karena faktor ODGJ, alas rumah panggung mereka dirusak menjadi bahan bakar untuk memasak orang tua Raya. Menurut Wardi, keluarga Raya tidak langsung membawa bocah itu ke rumah sakit saat kondisi memburuk. 

"Mungkin mereka tidak menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan sekarang itu," katanya. 

Ia baru mengetahui kondisi parah Raya setelah berita viral dan langsung berkoordinasi dengan Rumah Teduh untuk pemakaman.

Upaya Terakhir Menyelamatkan Raya

Raya yang tinggal di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi sempat ditolong oleh Rumah Teduh. 

Sayang, kondisinya sudah memprihatinkan. Sehingga tak bisa lagi untuk ditolong. Cacing sudah beranak pinak dan bersarang pada tubuh hingga otaknya,

Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, menceritakan kronologi kejadian yang dimulai dari laporan kerabat Raya pada 13 Juli 2025. 

"Kami dapat berita dari kerabatnya Raya, mereka cuma bilang sakitnya sesak napas," ujar Iin dikonfirmasi pada Selasa (19/8/2025). 

Relawannya segera melakukan asesmen di hari yang sama. Saat tiba, kondisi Raya sudah tidak sadarkan diri. Penyakit cacingan akut yang diderita Raya baru diketahui setelah ia dibawa ke RSUD R Syamsudin Sh (Bunut). 

"Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit)," kata Iin. 

Birokrasi Berbelit

Namun, tim Rumah Teduh dihadapkan pada kendala besar. Raya tidak memiliki identitas. 

Pihak rumah sakit memberikan kesempatan 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar biaya perawatan bisa ditanggung pemerintah.

Meskipun dalam perjalannya, perjuangan mengurus dokumen tersebut menemui jalan buntu. Karena kondisi orang tuanya dengan gangguan kejiwaan (ODGJ). 

"Kita langsung ke Disdukcapil, diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan, dan akhirnya Dinas Kesehatan angkat tangan," jelasnya. 

"Waktunya sudah habis 3 hari berturut-turut, tidak ada tanggapan apapun," tambahnya.

Akibatnya, tenggat waktu dari rumah sakit pun terlewat. Meskipun hubungan dengan RSUD Bunut sangat baik dan rumah sakit telah memberikan kelonggaran biaya selama tiga hari awal, aturan tetap harus dipatuhi. 

"Kami alihkan status perawatannya menjadi tunai, ditanggung oleh Rumah Teduh," kata Iin. 

Iin menyebutkan, total tagihan perawatan Raya mencapai Rp23 juta lebih, yang akhirnya mendapatkan diskon dan sisa tagihan dibebaskan setelah pembayaran awal.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |