Kisah Mahasiswa Undip Merespons Pertanian Indonesia yang Rusak Parah

1 week ago 10

Liputan6.com, Jakarta Cerita diawali dari Dusun Duwet, Desa Mlokomanis Wetan, Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Petani di kabupaten ini terus dihajar harga pupuk.

Bukan itu saja, tanah yang mendapatkan pupuk ternyata juga lelah dan seperti ketagihan.

“Pupuk kimia sekarang Rp7.000 Rp9.000 per kilo. Namun tanah kami jadi lebih keras sehingga tanaman susah tumbuh,” kata Sukardi, petani yang juga beternak kambing.

Kondisi ini membuat para mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang sedang menggelar Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersilat otak. Dipimpin Muhammad Akbar Pradana, para mahasiswa ini menawarkan solusi pupuk organik dari kotoran kambing yang melimpah. “Kami bersama warga akhirnya tahu, solusi itu ada di sekitar kita,” kata Akbar.

Ketergantungan petani Indonesia pada pupuk kimia bukan cerita baru. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat 86,41% petani masih menggunakan pupuk anorganik, sementara hanya 13,5% memakai pupuk berimbang, dan 0,07% murni organik. Harga pupuk kimia seperti urea dan NPK melonjak 30-40% dalam tiga tahun terakhir, dengan urea kini mencapai Rp 7.000–9.000 per kilogram di banyak daerah.

Kementerian Pertanian melaporkan kandungan bahan organik tanah di banyak lahan pertanian Indonesia turun di bawah 2%, jauh dari ideal 5%, akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan. Kondisi ini membuat tanah kehilangan porositas, mengeras dan sulit menyerap air serta udara.

Menurut laporan FAO, 69% tanah pertanian Indonesia dikategorikan rusak parah akibat pupuk kimia dan pestisida berlebihan. Ini mengancam ketahanan pangan hingga 2050. Pupuk kimia, meski cepat meningkatkan hasil panen, meninggalkan residu yang merusak.

“Pupuk kimia membunuh mikroorganisme pengurai yang membuat tanah subur. Akar tanaman juga bisa rusak karena tanah jadi asam. Data FAO juga bilang, pertanian organik bisa meningkatkan ketahanan pangan lokal sampai 20%," tutur Akbar.

Dampak negatif pupuk kimia tak berhenti di tanah. Nitrogen berlebih dari pupuk mencemari air tanah dan sungai, memicu eutrofikasi atau ledakan alga atau lumut yang mengurangi oksigen di air hingga membunuh fauna perairan.

Konsentrasi nitrogen tinggi bahkan bisa masuk ke tanaman atau hewan yang dikonsumsi manusia, meningkatkan risiko kerusakan DNA dan penyakit kronis seperti Alzheimer akibat akumulasi cadmium dan aluminium.

Nitrous oxide, produk sampingan nitrogen, adalah gas rumah kaca ketiga terbesar setelah karbon dioksida dan metana, memperparah pemanasan global.

“Ini lingkaran setan. Makin banyak pupuk kimia, tanah makin rusak, petani makin tergantung,” ucap Akbar.

Produksi pupuk organik dari kotoran kambing dimulai. Di Joglo Dusun Duwet, mahasiswa UNDIP bersama warga berupaya mengubah limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik.

Prosesnya sederhana, kotoran kambing dicampur sekam bakar, dolomit, dan bio-aktivator EM4 untuk fermentasi. Dalam sehari, 50 kilogram pupuk organik diproduksi, siap untuk padi, jagung hingga sayuran.

“Menurut penelitian IPB, pupuk organik ini bisa meningkatkan kandungan organik tanah sampai 3-4% dalam setahun, menjadikan tanah gembur dan tahan air,” terang Akbar.

Dinas Pertanian Wonogiri mencatat 70% petani di kabupaten ini masih andalkan pupuk kimia, padahal 40% punya ternak kambing atau sapi. Inisiatif ini mengubah limbah jadi pupuk organik ini jelas membantu penghematan tiap musim.

Pertanian Indonesia, meski jadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi 13,3% terhadap PDB nasional (BPS 2024), terjebak dalam ketergantungan pupuk kimia sejak Revolusi Hijau era Orde Baru.

Revolusi Hijau mengubah pola pikir petani ke solusi instan. Misalnya data dari daerah lain, Magelang, dari 28.690 hektare lahan di Magelang, sebagian besar sudah kehilangan unsur hara. Petani memilih pupuk kimia karena praktis dan tersedia luas, tapi ini bikin tanah makin miskin hara, memaksa mereka pakai dosis lebih tinggi dengan biaya lebih besar.

Regulasi seperti Permentan No. 70/2011 dan revisinya pada 2019 mencoba mendorong penggunaan pupuk organik, tapi adopsinya lambat.

“Kualitas pupuk organik kadang enggak konsisten, bahan bakunya terbatas, dan butuh dosis lebih banyak,” kata Muhrizal Sarwani dari Kementerian Pertanian.

Pemerintah juga banyak memberikan bantuan Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) sejak 2017, namun hanya segelintir petani beralih. Di Sembalun, Lombok, misalnya, petani masih pilih pupuk kimia meski tanahnya subur, karena aksesnya mudah.

Kehadiran para mahasiswa KKN UNDIP ini diharapkan bisa menjadi pemicu kesadaran untuk tak merusak tanah dengan pupuk kimia.

“Kami ingin Dusun Duwet jadi contoh. Dari kotoran kambing, petani bisa hemat dan tanahnya sehat,” kata Akbar.

Langkah ini selaras dengan visi pertanian berkelanjutan. Dengan pupuk organik, petani tak hanya berhemat, tapi juga mengurangi polusi, memperbaiki tanah dan mendukung ketahanan pangan.

Langkah pertama sudah dibuat. Dari joglo sederhana, mereka belajar bahwa solusi tak selalu mahal. Kotoran kambing, yang tadinya limbah, kini jadi kunci menuju masa depan yang lebih baik.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |