Ketika Suara Perempuan Rimba Menggema di Balai Desa

4 weeks ago 22

Liputan6.com, Jakarta Sekelompok perempuan orang rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dari Kelompok Tumenggung Yudi perlahan melangkah menuju Balai Desa Pelakar Jaya, Kecamatan Pamenang, Merangin, Rabu (30/7). Di antara mereka ada Mariam, Sinta dan Ponco. Berjalan berdampingan dengan Lukas dan Ngelelai, dua lelaki yang turut mewakili kelompok dalam kegiatan di balai desa.

Langkah mereka mantap. Bukan sekadar menghadiri pertemuan, tetapi membawa harapan dan menyuarakan aspirasi komunitas mereka dalam agenda Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).

Orang rimba, sebagai bagian dari masyarakat Desa Pelakar Jaya, tentu juga ingin sumber daya desa dialokasikan untuk masyarakat yang hingga ini masih tergolong marginal.

Momen RKPDes cukup penting bagi orang rimba untuk bersuara dan memberikan usulan supaya pembangunan yang direncanakan di desa juga menyentuh komunitas mereka. Maklum, sebelumnya kelompok mereka tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan desa.

Semangat ini yang mendorong Mariam dan perempuan rimba lainnya ke ruang pertemuan balai desa. Kegiatan yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah mereka jalani.

Pagi itu, mereka duduk di deretan kursi tetamu undangan desa, berdampingan dengan tokoh-tokoh desa lainnya. Mereka bertekad, kehadirannya bukan sebagai tamu yang datang dan mendengarkan, tetapi sudah bersiap dengan usulan yang akan disuarakan.

Ketika kesempatan itu datang, Mariam, seorang perempuan orang rimba, berdiri dan mengacungkan tangan. Dengan suara tegas namun bersahaja, dia menyampaikan harapan. Dia ingin sumber air di wilayah permukiman.

“Kami ingin ada sumber air bersih, Pak. Selama ini kami hanya punya satu sumur, dan semua keluarga menggunakannya. Di musim kemarau ini, airnya semakin sedikit. Kami minta ada tambahan sumur,” tutur perempuan berusia sekitar 30 tahun itu dengan lantang.

Pernyataan Mariam disambut anggukan setuju dari perempuan rimba lainnya. Keterbatasan air bersih dirasakan oleh komunitas orang rimba. Di permukiman mereka yang terdiri dari 25 rumah bantuan pemerintah, saat ini dihuni oleh 22 kepala keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka harus berjalan kaki cukup jauh ke sumber air Pamsimas. Setiap pagi, para perempuan berjalan beriringan membawa jeriken untuk menampung dan membawa air pulang ke rumah.

Bagi orang rimba, ketersediaan air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK) kini menjadi kebutuhan penting, tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung kesiapan anak-anak mereka bersekolah.

Seiring bergabungnya anak-anak orang rimba di sekolah bersama masyarakat umum, mereka mulai menyesuaikan diri, termasuk dalam hal kebersihan pribadi. Kini, aktivitas mandi pagi sebelum berangkat sekolah mulai menjadi kebiasaan baru. Namun, keterbatasan air bersih sering menghambat mereka.

"Kami ingin anak-anak kami terus bersekolah. Kami harap mereka bisa pergi ke sekolah dalam keadaan bersih dan mengenakan seragam yang layak. Kami juga berharap ada bantuan pakaian sekolah untuk anak-anak kami," sambung Mariam.

Mariam menyampaikan pendapatnya dengan lugas dan yakin. Wajahnya tak lagi ragu seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sampingnya, Sinta—seorang ibu muda dengan dua anak—menyuarakan aspirasi yang tak kalah penting.

"Kami juga ingin ada bantuan untuk beternak sapi. Perempuan rimba juga ingin maju seperti warga desa, punya penghasilan sendiri," ujar Sinta dengan nada serius.

Harapan Besar

Keterlibatan perempuan rimba dalam forum formal desa bukan hal yang lahir tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, mereka lebih banyak diam, menyimak, bahkan kadang tidak diundang.

Bermukim terpisah dari pemukiman warga desa lainnya, orang rimba cenderung terpisah dari masyarakat desa umumnya. Suara mereka tenggelam di antara tumpukan kertas proposal dan formalitas birokrasi desa.

Namun berkat advokasi yang dilakukan dan penerimaan yang juga mulai terbuka dari aparat dan warga desa lainnya, orang rimba kini mendapat tempat di desa yang sama-sama mereka huni.

Pembahasan RKPDes kali ini mereka hadir bukan untuk menyaksikan, tapi untuk menyampaikan. Sebuah proses panjang yang dibangun lewat pendampingan sensitif budaya oleh para fasilitator komunitas KKI WARSI.

“Kami tahu tidak mudah mengubah cara pandang masyarakat dan pemerintah terhadap Orang Rimba, apalagi terhadap perempuan, Tapi setiap kali mereka perempuan Rimba duduk bersama di forum ini, adalah langkah maju yang sangat berarti,” ujar Anggun Nova Sastika pendamping orang rimba dari KKI WARSI.

Kehadiran seluruh elemen masyarakat menjadikan Musrenbangdes kini lebih cair dan terbuka. Forum ini tidak lagi sekadar ruang bagi suara para tetua dan tokoh desa yang selama ini didominasi kaum lelaki.

Perempuan—termasuk perempuan Orang Rimba yang dahulu lekat dengan peran domestik dan menjaga anak-anak di pinggiran hutan—kini mulai meretas batas. Mereka angkat suara tentang air, jalan, pendidikan, dan ekonomi—isu-isu yang dulu dianggap bukan urusan perempuan.

Perubahan ini bukan sekadar soal hadir secara fisik di ruang rapat desa. Ini adalah perubahan paradigma. Di balik setiap suara yang mereka sampaikan, ada keberanian untuk melampaui stigma dan batas-batas identitas sebagai 'warga pinggiran'. Musrenbang kini menjadi panggung yang setara, tempat perempuan adat bisa bicara tentang masa depan.

Kepala Desa Pelakar Jaya Bapak Ayep dalam sambutannya, menyatakan komitmennya untuk membuka ruang inklusif bagi semua elemen masyarakat.

"Kita semua punya hak yang sama untuk didengar termasuk saudara kita dari warga Orang Rimba. Mereka adalah bagian dari desa ini, dan perempuan orang rimba juga berhak menyampaikan aspirasinya,” tegasnya Ayep.

Pernyataan ini menjadi penanda bahwa Pemerintah Desa Pelakar Jaya mulai memahami pentingnya pembangunan yang inklusif dan partisipatif. Bahwa suara-suara yang berasal dari pinggiran tak lagi bisa diabaikan.

Musrenbang kali ini mungkin hanya salah satu forum dari banyak proses yang akan terus berjalan. Tapi bagi Mariam, Sinta, dan perempuan Orang Rimba lainnya, ini adalah panggung penting. Tempat mereka berdiri bukan lagi di balik layar, melainkan di depan mikrofon, membawa suara komunitas yang selama ini nyaris tak terdengar.

Kini mereka tak lagi menunggu orang lain memperjuangkan haknya. Mereka sendiri yang melangkah, menyuarakan apa yang dibutuhkan, dan berharap apa yang diucapkan hari ini akan menjadi kenyataan esok hari.

Perempuan rimba tidak sedang meminta. Mereka sedang menuntut haknya sebagai warga negara. Dan ketika suara dari rimba mulai terdengar di ruang musyawarah desa, itu adalah pertanda bahwa perubahan sedang terjadi—pelan tapi pasti.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |