Gegara Uang Rp500 Ribu, ART di Purwakarta Tega Habisi Nyawa Majikan

2 weeks ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Satresrkim Polres Purwakarta berhasil menangkap pelaku pembunuhan DPK (27), warga Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur kurang dari 24 jam. Pelaku sendiri, diketahui merupakan asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumah korban.

Kapolres Purwakarta, AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya menjelaskan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan sesaat setelah warga di desa itu digegerkan dengan penemuan mayat perempuan bersimbah darah di sebuah rumah.

"Alhamdulillah, kurang dari 24 jam kami sudah berhasil mengamankan pelakunya," ujar Kapolres dalam keterangannya, Kamis (14/8/2025).

Kapolres menuturkan, untuk pelaku atas nama AD (25), warga Sukamulya, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta. Ia diketahui merupakan ART yang telah bekerja selama 1 tahun di kediaman korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Gede, pelaku mengaku kesal permintaannya mengenai uang gaji sebesar Rp500 ribu yang belum dibayarkan tidak ditanggapi korban.

Karena kesal, pelaku kemudian mengambil palu yang kemudian dipukulkan beberapa kali ke bagian kepala korban untuk membuat pingsan. Setelah melihat korban tidak berdaya, pelaku lalu keluar rumah untuk membuang barang bukti kejahatannya termasuk handphone korban di bawah jembatan Cinangka.

"Untuk penyebab kematian korban, kami masih menunggu hasil otopsi. Dan apabila ada motif-motif lain, kami masih melakukan pendalam," jelas dia.

Motif Pelaku

Adapun motif pelaku berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Gede, lantaran kesal dan sakit hati kepada korban karena gaji tidak dibayarkan.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 penjara dan paling lama seumur hidup.

Sebelumnya, warga Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur digegerkan dengan penemuan mayat perempuan dengan tubuh penuh luka di rumahnya pada Selasa 12 Agustus 2025.

Pelaku Ade sendiri, merupakan sosok yang pertama kali memberi tahu tetangga bahwa DPK telah tewas bersimbah darah di rumahnya.

Ade berlari keluar rumah sambil berteriak histeris dan memanggil bantuan ke tetangga. Rupanya aksinya itu pura-pura dan hanya alibinya untuk menutupi perbuatan kejinya.

Tetangga korban menceritakan suasana perumahan mendadak mencekam saat asisten rumah tangga korban itu berteriak minta pertolongan.

"Pembantunya lari-lari dan teriak (korban) dibunuh. Saya mau masuk, tapi di depan pintu ke dapur sudah ada jejak darah. Saya nggak berani lanjut, takut jadi keluar lagi," ujarnya.

Sempat Ada Isu Pengancaman

Namun, dia bercerita, beberapa jam sebelum ditemukan tewas, korban terlihat pulang membawa nasi uduk.

"Tadi sekitar jam 10 pagi, saya mau beli sayur. Bu Dea juga keluar, kayaknya mau belanja. Jam 11 siang, kami pulang hampir bersamaan, Bu Dea duluan baru saya. Tak lama dari itu ada kabar meninggal," ujar Salbiah.

Dibagian lain, S (65) ayah korban menuturkan jika anaknya sempat mendapatkan ancaman oleh seseorang sebelum ditemukan telah meregang nyawa.

"Sempat cerita, rumah tuh dilempari cat, kemudian juga orang yang ngancam itu pernah masuk ke dalam rumah juga," katanya.

Selain ancaman secara langsung, ia menyebut anaknya juga diancam pembunuhan melalui pesan singkat WhatsApp.

YS (55), ibu dari korban juga membenarkan hal tersebut. Sebagai orangtua, ia pun sebelumnya telah menyarankan agar sang anak melaporkan ancaman tersebut ke pihak kepolisian dan memasang CCTV di kediamannya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |