Liputan6.com, Jakarta Di tengah musim panen ketela atau singkong yang tengah berlangsung di Kabupaten Gunungkidul, para petani kembali dihadapkan pada tantangan klasik yang muncul hampir setiap tahun. Salah satu dampaknya adalah munculnya fenomena 'jembuten' istilah lokal yang digunakan warga Gunungkidul untuk menyebut kondisi singkong yang menghitam, akibat terkena air hujan sebelum sempat dikeringkan menjadi gaplek.
Bagi Sumari (62), petani asal Padukuhan Karangasem, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, istilah ini bukan lagi hal asing. Dia mengaku, hampir setiap musim panen, kekhawatiran akan datangnya hujan yang tiba-tiba menjadi momok tersendiri.
“Baru dua hari dijemur, eh sore kemarin mendung. Malamnya hujan deras. Besok paginya gaplek saya sudah basah dan sebagian mulai berubah warna. Itu yang kami sebut jembuten,” ujar Sumari saat ditemui di ladangnya, Senin (4/8).
Menurutnya, proses pengeringan singkong menjadi gaplek membutuhkan waktu minimal tiga hari cuaca cerah. Namun belakangan ini, langit Gunungkidul sulit diprediksi. Hujan turun meskipun bulan masih dalam masa kemarau. Kondisi ini disebut warga lokal sebagai 'salah mongso' — cuaca yang tak sesuai musim seharusnya.
“Kalau sudah jembuten begini, harga jual bisa turun sampai separuhnya. Kadang malah tidak laku sama sekali di pengepul. Ya mau gimana lagi, kami cuma bisa pasrah,” kata Sumari.
Namun di balik keterbatasan itu, Sumari juga menyebut bahwa singkong yang sudah menghitam tidak sepenuhnya sia-sia. Beberapa petani masih bisa mengolahnya menjadi makanan khas gatot, yakni olahan dari singkong hitam yang memiliki tekstur kenyal dan cita rasa khas.
Gatot biasanya dibuat dari singkong yang sudah membusuk sebagian dan ditumbuhi jamur putih halus seperti serabut, yang justru menjadi penanda khas dari bahan ini.
“Kalau sudah terlalu jembuten dan enggak bisa dijadikan gatot, biasanya masih bisa dijual murah untuk campuran pakan ternak. Jadi tetap ada nilai manfaatnya, meski sedikit,” tambahnya.
Tradisi dan Kearifan Lokal yang Bertahan
Masyarakat Gunungkidul sudah turun-temurun menggunakan istilah ini untuk menyebut singkong yang menghitam. Kata ini tidak memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia, namun menjadi bahasa sehari-hari dalam dunia pertanian lokal.
Bagi sebagian besar petani, istilah ini tidak hanya menggambarkan kerusakan fisik singkong, tapi juga mengandung makna emosional kegagalan panen, kehilangan pendapatan, dan hasil kerja keras yang terbuang sia-sia.
Bupati Endah menyatakan bahwa kearifan lokal semacam ini penting untuk dipahami, terutama oleh generasi muda dan para perancang kebijakan.
“Di balik istilah jembuten, ada narasi besar tentang ketahanan petani kita. Ini perlu jadi perhatian semua pihak. Cuaca memang tak bisa dikendalikan, tapi strategi adaptasi bisa kita siapkan bersama,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan saat ini sedang mendorong pembangunan rumah-rumah jemur berbasis teknologi sederhana di beberapa wilayah sentra ketela.
Selain itu, pelatihan pengolahan pascapanen juga terus digiatkan agar petani dapat mengolah singkong menjadi produk lain seperti tiwul instan, keripik, hingga tepung mocaf.
“Kami juga berupaya membantu petani memahami prakiraan cuaca harian dari BMKG. Tapi ya, memang tak mudah mengubah kebiasaan menjemur di pekarangan terbuka. Maka edukasi dan pendampingan tetap kami gencarkan,” tutur Endah.
Endah menyebutkan bahwa istilah ini bukan hanya sekadar kata, tetapi gambaran nyata perjuangan petani dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
"Istilah ini sudah sangat akrab bagi petani kita. Kalau singkong sudah jembuten, bukan hanya warnanya yang rusak tapi juga kualitasnya menurun drastis, bahkan tidak bisa dijual. Ini tentu sangat merugikan," terang dia.
Endah menambahkan bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus berulang setiap tahun. Pemerintah daerah, lanjutnya, tengah berupaya mencari solusi jangka panjang melalui pelatihan petani, pembangunan infrastruktur penjemuran yang lebih baik, dan mendorong diversifikasi olahan ketela agar petani tidak hanya bergantung pada hasil gaplek semata.