Liputan6.com, Jakarta Senyum Raisya, siswi kelas Va SD Swasta Ibnu Sina Batam, sedikit mengembang ketika Tray (piring) berisi nasi putih, ayam tepung asam manis, tahu saus tomat, tumis sawi putih, dan sebiji jeruk mendarat di mejanya. Meski begitu, ada satu hal yang membuatnya tak sepenuhnya lahap.
“Ayamnya asin tapi enak,” ujarnya pelan sambil menunggu segelas air mineral.
Dia lalu menambahkan dengan nada menyiratkan kerinduan. “Cuma kurang cabainya,” singkatnya.
Habibi, teman sekelas Raisya, justru punya favorit lain. “Saya paling suka kalau dapat lauk ayam kecap,” ujarnya sambil mengunyah tempe goreng.
Bagi Raisya, hari-hari makan siang di sekolah kini jauh lebih menyenangkan, meski kadang masih merindukan sensasi cabai yang membakar lidah. Ia tahu, suatu hari mungkin saja sepiring nasi bergizi itu akan disertai sambal kecil di sisinya.
“Kalau ada cabai, pasti lebih semangat makannya,” katanya sambil terkekeh.
Hampa Tanpa Cabai
Di kelas yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina Batam (Yaspita) , sejak 4 Agustus 2025, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menjadi rutinitas.
Menu yang disajikan berganti setiap hari, dari lauk ayam, ikan, hingga telur, disertai sayur dan buah. Namun, bagi sebagian anak, ada satu rasa yang belum sepenuhnya hadir. Yaitu rasa pedas. Menurut wali kelas 1A, Rindi Destawely, itu sudah lumrah bagi anak-anak di Batam.
“Anak-anak sini memang suka pedas. Bahkan ada yang berani makan cabai setan. Jadi kalau menunya tanpa cabai, mereka bilang rasanya hampa,” ungkapnya sambil tersenyum.
Sebagai solusinya Rindi menyediakan saus sambal jika anak - anak ada yang menginginkanya. Walaupun untuk di Batam, anak -anak di sumatera identik cabai merah.
" Ya kami sebagi guru juga berhati- hati, dan mengawasi, walaupun suka pedas, tetap mengutamakan keamanan dan kesehatan," ucapnya.
Meski begitu, ia menilai program ini membawa dampak positif besar. Orang tua merasa terbantu karena tak perlu lagi menyiapkan bekal dari rumah.
“Mereka berterima kasih. Anak-anak sudah dapat makan gratis, gizi tercukupi,” katanya.
Dia hanya berharap menu MBG bisa bervariasi. Agar anak-anak tidak bosan. Namun tetap menjaga gizinya.
“Kadang mereka minta bakso, mie ayam, hamburger. Kalau bisa, menunya lebih bervariasi supaya nggak bosan,” kata Rindi.
MBG Gerakkan Ekonomi Lokal
Program MBG di Ibnu Sina melayani 1.197 siswa setiap hari, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah kejuruan.
Makanan diolah di Dapur MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampung Seraya yang setiap hari menyalurkan 3.126 porsi ke delapan sekolah di Batam.
Menteri Perdagangan Budi Santoso yang meninjau langsung pelaksanaan MBG di Ibnu Sina, Kamis (14/8/2025). Dia menyebut program ini bukan hanya soal gizi.
“MBG bukan sekadar menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak, tapi juga menggerakkan ekosistem perdagangan lokal. Peternak, petani sayur, pemasok beras, semua ikut terserap,” kata Menteri Budi.
Kemendag memastikan pasokan bahan pokok seperti beras, ayam, ikan, dan telur tetap lancar, bahkan jika sebagian harus didatangkan dari luar daerah seperti Medan.