Cerita Mbah Supiti Jauh-Jauh dari Malang Ikut Demo Lengserkan Bupati Pati

2 weeks ago 16

Liputan6.com, Jakarta Berpakaian serba hitam, seorang pria berada di tengah-tengah warga yang sedari malam memenuhi Alun-Alun Pati, Jawa Tengah. Dia bersama ratusan atau bahkan mungkin ribuan orang berkumpul dengan satu tujuan, demonstrasi.

Penampilannya beda dari orang-orang di sana. Mengenakan kalung dan gelang, dipadu cincin akik yang melingkar di jari. Dialah Mbah Supiti, pria yang sudah berumur asal Kota Malang, Jawa Timur.

Dia rela datang jauh-jauh bersama rombongan, menempuh perjalanan darat yang tidak sebentar paling tidak 6 jam dengan total jarak mencapai 380 kilometer.

"Saya sangat mendukung kebijakan Mas Husein, beserta rekan-rekan semuanya," kata Mbah Supiti mantap sambil menggenggam tangan, Selasa (12/8).

Husein merupakan penggerak utama massa demonstran. Dia memperkenalkan diri sebagai Ketua Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

Demo hari ini, Rabu (13/8), membawa tuntutan yang tidak main-main. Massa mendesak Bupati Pati Sudewo turun dari kursi jabatan.

Jika ditarik ke belakang, telah terjadi pergeseran tuntutan demonstrasi. Awalnya, warga ingin menggelar demo sebagai respons atas kebijakan Sudewo yang menaikkan pajak bumi bangunan (PBB) 250 persen.

Kebijakan ini mendapat respons luas, berbagai elemen masyarakat sepakat menggelar demonstran. Namun akhirnya Sudewo membatalkan kebijakan tersebut.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, pembatalan ini tidak serta merta direspons positif semua pihak. Massa pun terbelah, ada yang membatalkan demo, ada yang tetap lanjut.

Massa yang melanjutkan menggelar demonstran, tidak lagi terfokus pada isu PBB, namun semakin melebar ke kritik atas kinerja Bupati hingga mendesak pelengseran.

Bagi Mbah Supiti gondrong, konstelasi ini tidak terlalu jadi persoalan. Meski tidak punya kerabat di Pati, harapan dia pemerintahan daerah yang lebih terbuka bisa dimulai dari Pati.

"Saya sangat mendukung kebijakan, mungkin awalnya dari Pati sini. Misalnya untuk renovasi, semuanya bisa terbuka," terangnya.

Sebagai bentuk solidaritas kepada sesama demonstran, Mbah Supiti juga memberikan sumbangan berupa air mineral dan rokok.

Nasi Tumpeng dan Istigasah

Suasana di depan kantor Bupati dan Alun-Alun Pati sudah terasa berbeda semenjak beberapa hari ke belakang. Tadi malam, gelombang massa datang dari berbagai penjuru Pati.

Mereka tumplak di lokasi tersebut. Ada yang berbincang, sampai ilir mudik menyiapkan segala sesuatunya.

Uniknya lagi, di lokasi juga sudah disediakan makanan berat berupa nasi dan lauk pauknya, buah-buahan, minuman ringan serta air mineral hasil donasi warga.

Suasana posko donasi yang berada di barat Kantor Bupati Pati, juga dipadati massa sembari berdoa bersama. Usai berdoa, mereka menyantap nasi tumpeng.

Selain itu, spanduk serta baliho dengan berbagai kalimat kecaman juga sudah terpasang di depan kantor Bupati dan Alun-alun Pati. Beberapa tulisan pada spanduk di antaranya'KPK Usut Tuntas' serta 'Pak Presiden Prabowo Pecat Bupati Sudewo'.

Koordinator Donasi Masyarakat Pati Bersatu, Teguh Istyanto mengaku menerima donasi ribuan kardus air mineral. Ribuan botol air minum ini nantinya akan ditempatkan di sejumlah titik di Alun-alun Pati. Selain itu, pihaknya juga mendirikan posko evakuasi dan dapur umum untuk menunjang aksi besok.

"Donasi kardus air mineral kita bagikan bagi peserta demo. Kita juga mendirikan tenda besar untuk evakuasi jika ada peserta demo yang sakit dan didirikannya dapur umum," ucap Teguh.

Sementara itu, di Pendopo Pati juga digelar istigasah yang bertujuan agar unjuk unjuk rasa berjalan aman dan tanpa anarkhis. Hadir dalam doa bersama itu, Plt Sekda Kabupaten Pati, Riyoso dan sejumlah pimpinan OPD di Pemkab Pati.

Hanya saja, Bupati Pati Sudewo tidak tampak hadir. Diperoleh informasi bahwa orang nomor satu di Kabupaten Pati ini, sedang menenangkan diri dan berziarah ke makam Syeh Jangkung.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |