Liputan6.com, Jakarta Ibunda Raya, Edah (38), menceritakan kondisi putrinya. Anak bungsu berusia 3 tahun ini meninggal dunia setelah cacing bersarang pada tubuh hingga otaknya.
Awalnya, sang ibu menduga Raya sakit dengan gejala sesak napas yang sering dikira batuk. Kondisi fisiknya pun mengkhawatirkan karena Raya terlihat sangat kurus dan lemah.
"Sakitnya sudah lama, sakitnya seperti sesak," ucap Endah, Rabu (20/8/2025).
Keluhan ini telah dirasakan Raya selama berbulan-bulan, namun keluarga belum mampu membawa anak itu ke fasilitas kesehatan yang memadai.
Cacing Ukuran Besar
Balita ini menjadi sorotan usai kondisinya terinfeksi cacing parah viral di media sosial. Keadaan kritis Raya dibagikan oleh akun Rumah Teduh, dalam video 9 menit itu terlihat cacing keluar dari hidung dan feses.
Dalam video itu juga disebut jika Raya tinggal bersama kedua orang tua yang mengalami gangguan kejiwaan (ODGJ). Sehingga lepas dari pengasuhan.
Meskipun kondisi Raya sudah lama mengkhawatirkan, Endah mengakui bahwa putrinya belum pernah dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. Perawatan yang dilakukan selama ini bersifat tradisional.
"Belum pernah ke rumah sakit, belum pernah ke puskesmas. Biasanya saya hanya memandikannya dengan air hangat dan daun singkong. Iya, secara tradisional,” ungkapnya.
Kondisi kian memburuk, Raya pun akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit di Sukabumi menggunakan ambulans.
Namun, Endah masih belum tahu pasti penyakit apa yang diderita putrinya. "Belum tahu kalau ada penyakit dalamnya," ucapnya.
Tak lama kemudian, sebuah temuan mengejutkan terungkap. Tim dokter mendiagnosis Raya menderita cacingan parah.
"Banyak cacing, cacingnya ada yang ukurannya sekilo. Berarti sudah besar di dalam perut," kata Endah.
Dia tidak tahu pasti penyebab cacing bersarang dalam tubuh anaknya. Apakah dari makanan atau faktor lain. Endah menegaskan bahwa mereka tidak memelihara hewan peliharaan di rumah, bahkan ayam sekali pun.
Cerita di Balik Kebiasaan sang Anak Sering Main Tanah
Dengan tatapan sayu, Endah mengenang saat ia merawat sang putri. Mereka hanya bisa mengandalkan perawatan seadanya di rumah.
Selama ini, Endah merasakan kesedihan yang mendalam. Apalagi melihat kondisi putrinya yang semakin memburuk.
Setiap hari, dia menyaksikan Raya yang sulit bernafas, namun tak tahu harus berbuat apa. Selain mengurus Raya, Endah juga memiliki satu anak lain.
Selama ini Endah tinggal di rumah panggung beralas triplek dan kayu. Dia mengenang perkataan orang-orang di sekitarnya. Nasihat yang sering didengar adalah agar Raya tidak terlalu sering digendong, karena bisa membuat anak itu lumpuh dan lambat berjalan.
"Sebelumnya dia suka main di tanah, makanya didudukkan saja di bawah" tutur Endah.
Tanpa pengetahuan medis yang memadai, ia hanya menuruti nasihat tersebut dengan harapan kondisi Raya akan membaik secara alami.
Mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan Raya bermain di tanah justru menjadi salah satu faktor risiko.