Alarm Serius di Balik Insiden Meledaknya Stasiun Pengumpul Gas Pertamina Cidahu Subang

3 weeks ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Insiden ledakan pipa gas yang selalu berulang di Indonesia mengundang keprihatinan banyak orang, apalagi jika menimbulkan korban jiwa. Terakhir pipa gas di Stasiun Pengumpul PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Field Subang, tepatnya di Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Jawa Barat, meledak dan terbakar hebat, pada Selasa (5/8/2025).

Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar, ikut prihatin dan menyebutnya sebagai pelajaran yang tak pernah selesai karena peristiwa seperti ini masih kerap terulang.

"Sudah terlalu sering kita mendengar ledakan di kilang maupun lapangan produksi migas. Ini harus menjadi alarm serius bagi pemerintah dan Pertamina," ungkap politisi PDI Perjuangan itu kepada Liputan6.com, Selasa (5/8/2025).

Gunhar menjelaskan, ledakan semacam ini kerap dipicu oleh kebocoran pipa atau tangki, faktor usia infrastruktur, serta kurangnya sistem pengamanan di sekitar area operasi. Padahal, kata dia, lapangan migas adalah objek vital yang menyangkut keselamatan pekerja, masyarakat, dan pasokan energi nasional.

"Kalau pengamanan terus dibiarkan longgar, dampaknya bisa sistemik, tidak hanya menimbulkan korban jiwa tapi juga mengganggu distribusi energi nasional," ungkap Gunhar.

Usul Pelibatan TNI

Sebagai langkah konkret, Gunhar mengusulkan agar TNI dilibatkan secara aktif dalam sistem pengamanan kilang bahan bakar minyak (BBM) maupun lapangan produksi migas. Menurutnya, kehadiran TNI penting mengingat lingkungan kilang adalah kawasan dengan risiko tinggi, penuh dengan zat mudah terbakar dan potensi bahaya besar.

"Tidak bisa lagi kita anggap remeh. Kilang dan field migas harus diperlakukan sebagai kawasan strategis dengan tingkat keamanan tertinggi. Untuk itu, keterlibatan TNI menjadi sangat relevan dan mendesak," tandasnya.

Gunhar menegaskan bahwa keberlangsungan produksi energi Indonesia sangat tergantung pada kesiapan infrastruktur dan keamanan operasional, terutama di sektor hulu migas. Ia meminta Pertamina dan seluruh pemangku kepentingan segera melakukan evaluasi menyeluruh dan peningkatan sistem proteksi di semua titik operasi yang berisiko tinggi.

"Kita tidak boleh menunggu jatuh korban atau gangguan pasokan energi yang masif baru bergerak. Pencegahan harus jadi prioritas," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan ledakan dan kebakaran terjadi di stasiun pengumpul gas milik PT Pertamina EP Subang Field yang berlokasi di Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat, Subang, Jawa Barat. Insiden ini terjadi pada Selasa, 5 Agustus 2025, sekitar pukul 04.20 WIB, dan menyebabkan dua pekerja mengalami luka bakar.

Menurut keterangan dari Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawa, ledakan ini dipicu oleh kebocoran gas. "Selasa 5 Agustus 2025 Pukul 04.20 Wib bertempat di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Field Subang telah terjadi kebocoran gas yang mengakibatkan ledakan," ungkapnya, Selasa (5/8/2025).

Peristiwa itu sempat membuat warga sekitar panik dan berhamburan keluar rumah. Salah seorang warga, Ali Nurdin, mengaku kaget dengan dentuman yang sangat keras.

"Ledakan pertama itu dentumannya keras sekali. Sekitar pukul 04.00 WIB," ujar Ali kepada Liputan6.com.

Ali menambahkan, sebelum ledakan, ia sempat melihat semburan gas dari arah sumur pengeboran.

"Semburannya itu buat api menyala-nyala. tinggi sekali," katanya, seraya mengungkapkan kekhawatiran semburan itu berdampak pada lingkungan sekitar rumahnya yang berjarak 3-4 kilometer dari lokasi kejadian.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |