Liputan6.com, Jakarta Prajurit TNI dari Teritorial Pembangunan (TP) 834 Wakanga Mere Nagekeio, NTT, Prada Lucky Namo (23) meninggal secara tidak wajar. Korban diduga dianiaya oleh sesama prajurit TNI.
Berdasarkan informasi dari seseorang yang sempat mengurus jenazah Prada Lucky, terdapat sejumlah luka sayat dan lebam di sekujur tubuh Prada Lucky. Pengakuan itu sesuai dengan dokumentasi foto-foto yang diambil pada tubuh jenazah sebelumnya.
Kasus ini dalam penanganan Sub Denpom IX/1-1 Ende. Komandan Kompi (Danki) dari satuan tempat Prada Lucky bertugas yang diketahui bernama, Rahmat, memastikan kasus ini dalam proses penanganan.
"Terkait kasus kematian almarhum ini sementara masih proses penanganan oleh Sub Denpom Ende karena saat ini komandan batalyon tidak ada di tempat jadi saya tidak bisa memberikan statement, bukan kapasitas saya, tapi sementara proses, sudah ditangani Sub Denpom Ende," ujar Rahmat.
Berikut Fakta-Fakta Meninggalnya Prada Lucky
Tubuh Prada Lucky Penuh Luka Lebam dan Sayatan
Kondisi jenazah Prada Lucky memilukan. Ayah korban, Sersan Mayor Christian Namo mengungkapkan meski pihak Batalion TP 834/WM belum memberikan pernyataan resmi, namun keluarga korban menduga jika tewasnya Prada Lucky karena penganiayaan.
Hal itu sesuai dengan kondisi tubuh Prada Lucky yang dipenuhi luka lebam dan sayatan. Selain luka sayatan, ada juga luka seperti sulutan api rokok.
Pada bagian punggung korban penuh bekas hantaman benda keras, sementara lengan dan kakinya terdapat luka bakar mirip sundutan rokok.
Sersan Mayor Christian Namo tak terima dengan kematian putranya. Anggota Kodim 1627/Rote Ndao ini menduga kematian anaknya disebabkan penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya di kesatuan.
"Dianiaya senior dan saya akan kejar pelakunya sampai ke manapun. Anak saya sudah tidak ada, saya tuntut keadilan," ungkapnya sambil meneteskan air mata.
Dianiaya Senior
Saat dibawa ke rumah sakit, Prada Lucky masih sadarkan diri. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Prada Lucky sempat mengalami tindakan kekerasan di barak militer sebelum dilarikan ke rumah sakit. Prada Lucky sempat mengaku jika ia dianiaya seniornya kepada dokter yang merawatnya di ruang radiologi.
"Dia mengaku kepada dokter dipukuli oleh seniornya di barak," ungkapnya.
Tidak Ada Dokter Forensik
Sebelum meninggal, Prada Lucky pertama kali dibawa ke Rumah Sakit Tentara Wirasakti Kupang atas permintaan kedua orang tua.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata tidak ada dokter forensik, Cristian Namo kecewa dan membawa jenazah anaknya ke Rumah Sakit Bhayangkara, untuk divisum.
Keluarga korban menduga jika tewasnya Prada Lucky karena penganiayaan.
Hal itu sesuai dengan kondisi tubuh Prada Lucky yang dipenuhi luka lebam dan sayatan. Selain luka sayatan, ada juga luka seperti akibat sundutan rokok.
Pada bagian punggung korban penuh bekas hantaman benda keras, sementara lengan dan kakinya terdapat luka bakar mirip sundutan rokok. Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Batalion TP 834/WM terkait penyebab pasti kematian. Sementara penyelidikan oleh Polisi Militer (Pomdam) IX/Udayana sedang berlangsung.
Mimpi Ibunda
Kematian Prada Lucky meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Mereka tak menyangka, prajurit muda itu tewas di tangan sesama prajurit TNI.
Ibu Prada Lucky, Paulina Mirpey tak henti menangis menatap jasad putranya yang terbujur kaku. Sedangkan ayah, Christian Namo berusaha tegar menahan duka mendalam.
Sebelum kematian Prada Lucky, sang ibu sudah mendapatkan firasat buruk. Selama tiga malam, ia bermimpi didatangi anaknya.
"Ibunya mimpi kalau Lucky datang ke rumah dengan raut muka sedih. Mimpi yang sama selama tiga hari," kata paman Lucky, Rafael Davids, Kamis (7/8).
Meninggal Usai 4 Hari Dirawat
Saat itu, sang ibu tak mendapat kabar apapun dari Lucky maupun dari kesatuan tempat Prada Lucky mengabdi. Instingnya sebagai seorang ibu, membuat ibu empat anak itu memutuskan berangkat ke Nagekeo.
Namun, betapa kagetnya saat tiba di Nagekeo. Dia mendapatkan anaknya sudah sekarat terbaring di rumah sakit.
"Tidak ada informasi dari kesatuan ke orang tua. Tiba di sana baru kaget, ternyata Lucky di rumah sakit karena disiksa," kata Rafael.
Prada Lucky mengembuskan napas terakhirnya setelah empat hari dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Aeramo, Kabupaten Nagekeo.
"Dia mungkin tunggu ayahnya tiba di rumah sakit, karena sesaat ayahnya tiba, Lucky langsung berhenti napas," ucapnya penuh haru.