Transaksi Semakin Diminati, BEI Tambah 5 Saham Underlying Single Stock Futures

1 month ago 29

Liputan6.com, Jakarta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menambah lima saham sebagai underlying baru untuk produk Kontrak Berjangka Saham (KBS) atau Single Stock Futures (SSF) pada Senin, 14 Juli 2025.

Sejak peluncuran SSF sebelumnya, BEI terus memperluas cakupan produk derivatif ini guna memberikan diversifikasi instrumen investasi kepada para investor. Dengan tambahan ini, investor kini dapat memperdagangkan SSF atas total 10 saham dengan membuka rekening derivatif di Anggota Bursa yang memiliki izin sebagai Anggota Bursa Derivatif.

Tren transaksi SSF menunjukkan pertumbuhan positif sejak diluncurkan. Hingga akhir Juni 2025, tercatat volume transaksi SSF mencapai 2.175 kontrak dengan nilai sebesar Rp1,02 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 19% dibandingkan jumlah kontrak pada tahun 2024, menandakan bahwa minat investor terhadap produk ini semakin menguat di tengah berbagai dinamika pasar.

Peningkatan minat tersebut juga tercermin dari pertumbuhan jumlah investor derivatif, yang melonjak 142% dibandingkan tahun sebelumnya dan kini mencapai 359 investor. Capaian ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kepercayaan investor terhadap produk SSF, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai alternatif investasi yang semakin relevan dalam lanskap pasar modal Indonesia.

Penambahan 5 Saham Baru, Fokus ke Sektor Konsumsi dan Energi

BEI menambahkan lima saham baru sebagai underlying SSF, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Penambahan ini dilakukan dengan mempertimbangkan tren dan dinamika pasar terkini, khususnya kinerja positif pada sektor konsumsi, pertambangan, dan energi.

Dengan penambahan tersebut, saat ini terdapat total 10 saham yang menjadi underlying SSF, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Komposisi ini merefleksikan pendekatan strategis BEI dalam memilih saham-saham berfundamental kuat dan representatif dari berbagai sektor ekonomi.

“Penambahan underlying SSF ini merupakan bentuk komitmen BEI untuk meningkatkan kedalaman pasar serta memberikan lebih banyak pilihan produk di pasar modal Indonesia,” ujar Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik dalam keterangan resmi, Senin (14/7/2025). Ia menambahkan bahwa hal ini sekaligus menjadi langkah penting dalam mendukung pertumbuhan pasar derivatif secara berkelanjutan.

Upaya Strategis BEI Tingkatkan Daya Tarik Pasar Modal

Menurut Jeffrey Hendrik, inisiatif penambahan underlying SSF tidak hanya menjadi pencapaian penting dalam pengembangan produk derivatif, tetapi juga bagian dari strategi besar BEI untuk meningkatkan daya tarik dan likuiditas pasar modal secara menyeluruh. Produk derivatif seperti SSF dinilai mampu melengkapi kebutuhan investor yang mencari fleksibilitas dalam berinvestasi.

“Dengan semakin luasnya pilihan produk derivatif, kami berharap investor memiliki lebih banyak alternatif instrumen investasi untuk menyesuaikan strategi investasinya,” ujar Jeffrey. Dengan keberagaman saham yang menjadi underlying, investor dapat memilih instrumen yang paling sesuai dengan profil risiko dan ekspektasi keuntungan mereka.

Produk SSF sendiri menawarkan fitur-fitur menarik seperti leverage, fleksibilitas modal awal yang rendah, serta kemampuan melakukan transaksi dua arah (long dan short), yang menjadikannya alat yang efektif untuk lindung nilai (hedging) maupun optimalisasi portofolio. Saham-saham dari sektor yang beragam juga membantu investor dalam diversifikasi risiko.

Sosialisasi dan Akses Jadi Fokus Pendorong Partisipasi

Seiring dengan peningkatan minat terhadap SSF, BEI berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh pelaku pasar. Langkah ini penting agar investor semakin memahami manfaat, risiko, dan mekanisme transaksi derivatif secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Selain itu, BEI juga aktif mendorong partisipasi Anggota Bursa agar menyediakan akses perdagangan derivatif bagi para nasabahnya. Dengan demikian, semakin banyak investor yang bisa menjangkau produk derivatif dan memanfaatkannya sebagai bagian dari strategi investasi yang adaptif dan efisien di tengah kondisi pasar yang terus berubah.

“BEI akan terus berupaya memastikan bahwa produk derivatif tidak hanya dikenal, tetapi juga digunakan secara optimal oleh investor. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam menciptakan ekosistem pasar modal yang inklusif, modern, dan kompetitif,” tutup Jeffrey.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |