Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Senin (25/8/2025). IHSG hari ini akan menguji posisi 8.025-8.102.
IHSG merosot 0,40% ke posisi 7.858 dan masih didominasi oleh tekanan jual pada perdagangan saham Jumat, 22 Agustus 2025.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave [v] dari wave 1 dari wave (3) pada label hitam. “Hal tersebut berarti, masih terdapat ruang IHSG menguat menguji 8.025-8.102,” kata Herditya.
Ia mengingatkan tetap cermati akan ada koreksi jangka pendek ke posisi 7.815-7.831. Herditya menuturkan, IHSG akan berada di level support 7.800, 7.680 dan level resistance 8.008,8.103.
Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan level resistance 7.800-8.000 pada perdagangan Senin pekan ini.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham hari ini, Herditya memilih saham PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS).
Sedangkan PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT TBS Energi Sejahtera Tbk (TOBA).
Sentimen IHSG
Herditya mengatakan, ada sejumlah sentimen yang akan pengaruhi IHSG pekan ini. Pertama, rilis data produk domestik bruto (PDB) dan Personal Consumption Expenditure (CPE) Amerika Serikat (AS).
Kedua, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketiga, investor masih mencermati perkembangan Rusia-Ukraina.
“Pemangkasan BI Rate memang menjadi katalis positif, tetapi kami mencermati IHSG masih cenderung konsolidasi yang diperkirkaan karena adanya pullback dan aksi profit taking setelah mampu membentuk all time high (ATH) pada akhir pekan lalu,” ujar dia.
Rekomendasi Teknikal
Rekomendasi Teknikal
1.PT XL Axiata Tbk (EXCL) - Buy on Weakness
Saham EXCL menguat ke 2,930 dan masih didominasi oleh volume pembelian. "Kami perkirakan, posisi EXCL saat ini berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5," ujar Herditya.
Buy on Weakness: 2.810-2.870
Target Price: 3.020, 3.110
Stoploss: below 2.780
2.PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) - Buy on Weakness
Saham KLBF terkoreksi 3,90% ke 1.355 dan disertai dengan munculnya tekanan jual. "Kami perkirakan, posisi KLBF sedang berada pada bagian dari wave [v] dari wave C dari wave (B)," kata Herditya.
Buy on Weakness: 1.295-1.355
Target Price: 1.440, 1.530
Stoploss: below 1.280
3.PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) - Buy on Weakness
Saham NCKL menguat 2,04% ke 1.000 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. "Kami perkirakan, posisi NCKL saat ini berada pada bagian dari wave (iv) dari wave [iii]," ujar Herditya.
Buy on Weakness: 925-980
Target Price: 1.025, 1.085
Stoploss: below 905
4.PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) - Sell on Strength
Saham BTPS terkoreksi 1,72% ke 1.430 dan masih didominasi oleh tekanan jual, pergerakannya pun telah menembus MA20. Kami perkirakan, posisi BTPS saat ini sedang berada pada bagian awal dari wave C dari wave (B), sehingga BTPS masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 1,215-1,315
Sell on Strength: 1.445-1.465
Panel WTO
Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti dari hasil panel WTO. Panel WTO mengeluarkan putusan yang mendukung Indonesia dalam sengketa bea masuk imbalan Uni Eropa terhadap biodiesel asal Indonesia.
Putusan ini menegaskan kebijakan Uni Eropa tidak sesuai dengan aturan WTO dan merekomendasikan agar Uni Eropa menyesuaikan kebijakannya dengan Agreement on Subsidies and Countervailing Measures (SCM Agreement).
Industri sawit melalui Gapki juga menyambut positif keputusan tersebut, meski menekankan ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa relatif kecil karena sebagian besar produksi dipakai untuk kebutuhan domestik, sementara Eropa mengandalkan produksi biodiesel dari bahan baku lokal.
“Keputusan WTO ini diyakini membuka peluang ekspor biofuel berbasis sawit Indonesia ke Eropa. Namun, tantangan masih ada, terutama dari aturan nontariff seperti Renewable Energy Directive dan European Union Deforestation Regulation yang berlaku akhir 2025,” demikian seperti dikutip.
“Jika tidak dipenuhi, regulasi tersebut bisa menghambat ekspor sawit Indonesia, khususnya dari petani kecil. Secara garis besar kami menilai, keputusan WTO ini sebagai kabar baik dan katalis positif bagi ekspor komoditas unggulan Indonesia, khususnya sawit dan biodiesel, meskipun masih menunggu respons dari Uni Eropa terkait hal tersebut,” demikian seperti dikutip.