Liputan6.com, Jakarta Sektor properti dinilai masih memiliki prospek cerah tahun ini, terutama berkat dukungan pelonggaran suku bunga dan insentif pemerintah.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, pelonggaran kebijakan suku bunga Bank Indonesia dapat menekan biaya dana sekaligus mendorong permintaan kredit properti.
Selain itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) yang masih berlaku hingga akhir 2025 juga memberikan dorongan tambahan bagi penjualan emiten properti.
“Hal ini berdampak positif pada marketing sales paruh pertama 2025, khususnya di segmen menengah hingga atas,” ujar Audi. Ia mencontohkan capaian sejumlah emiten, seperti BSDE Rp5,08 triliun (50% dari target), CTRA Rp4,2 triliun (38% dari target), SMRA Rp2,2 triliun (44% dari target), dan LPKR Rp2,47 triliun (40% dari target),” kata Oktavianus kepada Liputan6.com, Selasa (26/8/2025).
Lebih lanjut, Audi menekankan jika dilihat berdasarkan segmen residensial, BSDE menjadi pemain utama dengan kontribusi lebih dari 65% marketing sales. Sementara itu, Ciputra Development (CTRA) akan diuntungkan dari dominasi produk dengan kisaran harga Rp1–3 miliar, dan Summarecon Agung (SMRA) juga memiliki porsi lebih dari 70% dari segmen residensial.
“Dengan karakteristik tersebut, ketiga emiten ini berpotensi tetap mendapat dukungan permintaan yang solid,” ujarnya.
Atas dasar itu, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham properti unggulan dengan rekomendasi beli, yaitu BSDE dengan target harga Rp1.220, CTRA Rp1.240, dan SMRA Rp580.
IHSG Terbakar Awal Perdagangan 26 Agustus, 280 Saham Terjerumus di Zona Merah
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Selasa pagi ini bergerak di dua arah. Pada saat pembukaan perdagangan mampu menghijau tetapi kemudian indeks saham mengalami tekanan sehingga jatuh ke zona merah.
Mengutip data RTI, Selasa (26/8/2025), IHSG hari ini dibuka di posisi 7.971,78, naik dari perdagangan sebelumnya yang ada di angka 7.926,90. Pada pukul 09.15 WIB, IHSG bergerak melemah dengan turun 35 poin atau 0,44% ke posisi 7.889,54.
Indeks LQ45 juga jatuh 0,94% ke posisi 821,55. Sebagian besar indeks saham acuan terbakar. Hanya dua indeks yang mampu bertahan di zona hijau yaitu DBX dan ABX.
Pada perdagangan awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.978,06 dan level terendah 7.884,54.
Sebanyak 280 saham berada di zona merah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 210 sajam menghijau tapi tak mampu mengangkat indeks. Di luar itu, 178 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 351.884 kali dengan volume perdagangan 8,8 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 2,6 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.253.
Mayoritas sektor saham memerah. Hanya ada dua sektor yang berada di zona hijau yaitu sektor cyclic yang naik 0,92% dan sektor kesehatan yang menguat tipis 0,17%
Prediksi IHSG Hari Ini 26 Agustus 2025
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan sideway pada perdagangan Selasa, (26/8/2025). IHSG hari ini akan bergerak di kisaran 7.900-8.000 pada perdagangan Selasa pekan ini.
Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG ditutup naik 0,87% pada perdagangan saham Senin, 25 Agustus 2025 dan masih disertai dengan aksi beli saham oleh investor asing senilai Rp 727 miliar.
Saham-saham yang banyak dibeli oleh investor asing mencapai Rp 727 miliar. Saham-saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing itu antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT MD Entertainmen Tbk (FILM).
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman menuturkan, IHSG berpotensi sideways di kisaran 7.900-8.000 pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Ia mengatakan, IHSG akan bergerak di level support 7.850-7.900 dan level resistance 7.950-8.000 pada perdagangan saham Selasa pekan ini.
Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar menuturkan, IHSG berada di area teknikal di level resistance 7.972-8.013 dan level support 7.884-7.836 pada perdagangan Selasa pekan ini. Posisi itu critical level di 7.836 sebagai batas risiko utama.
Kondisi ini mencerminkan fase konsolidasi dengan peluang rebound bila harga mampu bertahan di atas support, sementara konfirmasi bullish baru terlihat bila menembus resistance,” kata dia.