Pefindo Kantongi Mandat Penerbitan Surat Utang Rp 62,37 triliun hingga Juni 2025

1 month ago 27

Liputan6.com, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menerima mandat utang korporasi senilai Rp62,37 triliun hingga Juni 2025. Mayoritas mandat tersebut berasal dari sektor swasta, mencerminkan tren positif minat korporasi terhadap penggalangan dana melalui pasar obligasi.

Kepala Ekonom Pefindo, Suhindarto menuturkan terdapat 53 perusahaan yang telah menyampaikan rencana penerbitan surat utang untuk semester II tahun ini. Dari jumlah tersebut, sektor perbankan menjadi salah satu kontributor utama dengan lima perusahaan yang siap menerbitkan obligasi senilai total Rp9,4 triliun.

Di bawahnya, sektor multifinance berkontribusi melalui delapan perusahaan dengan nilai mencapai Rp9,1 triliun. Sementara itu, tujuh perusahaan dari sektor pertambangan juga tercatat berencana menerbitkan surat utang senilai Rp7,8 triliun.

Suhindarto menambahkan kontribusi signifikan juga datang dari perusahaan induk atau holding company dengan nilai mandat sebesar Rp6,8 triliun. Diikuti oleh lembaga keuangan khusus yang mencatatkan potensi penerbitan sebesar Rp6,5 triliun. Sektor lainnya menyumbang masing-masing di bawah angka Rp5 triliun.

Dari segi jenis instrumen, mayoritas penerbitan akan menggunakan skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) dengan total nilai mencapai Rp41,29 triliun. Selain itu, terdapat pula rencana penerbitan instrumen lain seperti sukuk dan medium term notes (MTN) sebesar Rp3 triliun, serta sekuritisasi senilai Rp2,05 triliun.

Jika dilihat berdasarkan tipe institusi penerbit, sektor swasta masih mendominasi dengan total rencana penerbitan mencapai Rp32,73 triliun. Sedangkan entitas yang tergabung dalam grup BUMN menyusul dengan nilai Rp29,63 triliun.

Kebutuhan Refinancing Mendorong Penerbitan Surat Utang

Aktivitas penerbitan surat utang korporasi di pasar domestik menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang Semester I-2025. Berdasarkan data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp90,9 triliun atau tumbuh 48,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp61,29 triliun.

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, menjelaskan pertumbuhan tersebut banyak didorong oleh meningkatnya kebutuhan refinancing perusahaan, di tengah tren jatuh tempo surat utang yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Dari sisi refinancing sendiri kami menyoroti terjadi kenaikan dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu karena memang ini sesuai dengan tren jatuh tempo di tahun ini yang menjadi paling tinggi sepanjang sejarah surat utang korporasi di kisaran 161 triliun,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (15/7/2025).

Data Pefindo mencatat, penerbitan dengan tujuan refinancing pada semester I-2025 mencapai Rp31,49 triliun. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp15,21 triliun. 

Selain refinancing, kebutuhan modal kerja juga menjadi pendorong besar penerbitan, yang nilainya meningkat dari Rp38,61 triliun menjadi Rp56,26 triliun.

Pefindo Kantongi Mandat Penerbitan Surat Utang Rp 56,7 Triliun per Januari 2025

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mengantongi mandat penerbitan surat utang senilai Rp 56,7 triliun per 31 Januari 2024.

Berdasarkan institusinya, non BUMN mendominasi dengan nilai mencapai Rp 36,2 triliun yang berasal dari 27 perusahaan. Sisanya sekitar Rp 20,49 triliun berasal dari 13 BUMN dan anak perusahaan atau BUMD.

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto menjabarkan, mandat tersebut berupa PUB obligasi senilai Rp 33,18 triliun dan PUB sukuk Rp 8,57 triliun. Kemudian obligasi Rp 8,4 triliun, sukuk Rp 4,52 triliun, MTN Rp 1,73 triliun, dan sekuritisasi Rp 300 miliar.

"Mandat yang diterima Pefindo per akhir Januari 2025 dan belum listing ini ada sekitar Rp 56,69 triliun atau Rp 56,7 triliun ini terdiri dari 40 perusahaan. Secara nilainya, paling besar dari sektor perbankan yaitu di Rp 11,8 triliun. Yang kedua disusul oleh sektor pertambangan ini dari 7 perusahaan nilainya Rp 11,4 triliun," ungkap Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Selasa (11/2/2025).

Selanjutnya, sebanyak 6 perusahaan merupakan dari induk perusahaan atau holding company dengan nilai Rp 7,6 triliun. Lalu 2 perusahaan sektor industri bubur kertas dan tissue senilai Rp 6,82 triliun. Sebanyak 5 perusahaan dari multifinance dengan nilai Rp 5,57 triliun.

"Kalau melihat dari sisi instrumennya, sejauh ini memang mandat yang kami terima mostly adalah dari bentuk PUB atau penawaran umum berkelanjutan, baik dari obligasi maupun sukuk," imbuh Suhindarto.

Penerbitan Surat Utang Korporasi pada Januari 2025

Total penerbitan surat utang korporasi secara keseluruhan pada 2024 mencapai Rp 149,7 triliun. Sementara itu, penerbitan surat utang periode Januari 2025 baru mencapai Rp 8,6 triliun.

"Pefindo melakukan pemeringkatan pada 78,7% surat utang korporasi yang diterbitkan selama periode Januari 2025. Tujuan penggunaan dana sebagian besar adalah untuk modal kerja sebesar 36,4% dan refinancing 56,9%," ungkap Suhindarto.

Penerbitan Obligasi dan Sukuk

Penerbitan obligasi korporasi & sukuk tercatat sebesar Rp 147,7 triliun pada tahun 2024, naik dibandingkan Rp 127,5 triliun periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan, periode Januari 2025 mencapai Rp 8,6 triliun, naik dibandingkan Rp 6,0 triliun pada periodeyang sama tahun sebelumnya.

Penerbitan MTN pada 2024 menunjukkan penurunan yaitu mencapai Rp 1,5 triliun dibandingkan Rp 2,4 triliun pada 2023 . Sementara itu periode Januari 2025 juga menunjukkan penurunan, yaitu baru mencapai Rp 45,0 miliar dibandingkan Rp 581,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerbitan efek utang lainnya (perpetual, SBK, dan sekuritisasi) menunjukkan penurunan dari Rp 900 miliar pada menjadi Rp 500 miliar pada 2024. Hingga Januari 2025, masih belum ada penerbitan efek utang lainnya, dibandingkan saat Januari 2024 lalu senilai Rp 500 miliar.

Penerbitan Obligasi Korporasi 2025 Diproyeksikan Tembus Rp 144 Triliun

Pefindo memproyeksikan penerbitan baru surat utang 2025 berkisar Rp 139- Rp 155 triliun, dengan titik tengah pada Rp 144 triliun.

Direktur Utama Pefindo, Irmawati Amran menjelaskan, proyeksi itu merujuk pada tren kebutuhan pembiayaan atau refinancing yang masih tinggi. Kebutuhan refinancing diperkirakan masih tinggi seiring dengan nilai surat utang jatuh tempo yang masih besar dengan proyeksi Rp 150,07- Rp 155,66 triliun, setelah tingginya penerbitan bertenor pendek di tahun 2024. Bersamaan dengan itu, aktivitas sektor riil diperkirakan relatif menguat.

"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan terdorong oleh kebijakan pemerintah yang lebih ekspansif, dengan inflasi yang diperkirakan mash terkendali," kata Irmawati dalam Media Forum PEFINDO Semester II Tahun 2024.

Peluang penerbitan surat utang baru pada 2025 juga mempertimbangkan suku bunga acuan yang lebih rendah sejalan dengan ekspektasi berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter. Di samping itu, likuiditas lembaga keuangan yang semakin ketat mendorong perusahaan mencari alternatif dana yang relatif murah, seperti obligasi korporasi, untuk mendukung leverage keuangan dan permintaan bisnis.

"Ini juga menjadi dorongan bagi lembaga keuangan untuk mencari sumber dana baru untuk disalurkan menjadi kredit atau pembiayaan," kata Irmawati. Selain itu, premi diperkirakan relatif melandai, seiring dengan leverage keuangan yang membaik akibat suku bunga yang relatif lebih rendah.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |