Liputan6.com, Jakarta Prospek obligasi lokal Asia diperkirakan makin cerah pada paruh kedua 2025. Dalam rilis Market Outlook terbaru yang diterbitkan oleh Manulife Investment Management, disebutkan bahwa kombinasi pelemahan dolar AS, ekspektasi pelonggaran suku bunga, dan stabilitas makroekonomi domestik menjadi katalis utama yang memperkuat daya tarik segmen ini, baik bagi investor regional maupun global.
Head of Asia ex-Japan Fixed Income di Manulife Investment Management, Murray Collis mengungkapkan bahwa obligasi lokal Asia menunjukkan ketahanan dan kinerja solid sepanjang semester pertama 2025.
“Pendapatan tetap Asia siap meraih momentum positif di paruh pertama 2025 untuk membukukan kinerja tahunan yang menarik bagi para investor,” ujarnya, dikutip Selasa (15/7/2025).
Keuntungan Obligasi
Obligasi dalam mata uang lokal di kawasan Asia juga diuntungkan oleh ekspektasi pelonggaran moneter yang lebih agresif dibanding negara maju.
Kondisi ini memberi ruang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil kompetitif dengan risiko nilai tukar yang lebih rendah, terlebih ketika volatilitas pasar global masih tinggi.
Potensi Penurunan Suku Bunga Dorong Kinerja Obligasi Domestik
Manulife memproyeksikan bahwa negara-negara Asia seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina memiliki ruang penurunan suku bunga yang cukup luas pada semester kedua 2025.
Langkah ini diyakini dapat menjadi katalis positif bagi kinerja obligasi lokal di negara-negara tersebut, terutama di tengah tekanan eksternal dari kebijakan tarif dan pelemahan permintaan global.
“Secara selektif kami melihat adanya ruang penurunan suku bunga untuk memberikan dorongan pertumbuhan ekonomi akibat dampak tarif,” jelas Collis.
Dengan inflasi yang mulai mereda dan adanya kebutuhan untuk mendorong konsumsi domestik, pelonggaran moneter dinilai akan menjadi strategi yang semakin menonjol di kawasan Asia Tenggara.
Penurunan suku bunga akan menciptakan peluang capital gain pada instrumen pendapatan tetap, terutama obligasi dengan durasi menengah. Dengan daya tarik ini, investor institusional dan global diperkirakan akan meningkatkan alokasi portofolio mereka ke aset lokal Asia, sejalan dengan tren diversifikasi dari pasar negara maju.
Stabilitas Makro dan Dukungan Domestik Perkuat Pasar Obligasi Asia
Salah satu keunggulan pasar obligasi lokal Asia terletak pada dukungan kuat dari investor domestik, seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi, yang memiliki kebutuhan jangka panjang terhadap aset pendapatan tetap. Hal ini memberikan stabilitas likuiditas dan mengurangi ketergantungan terhadap arus dana asing.
Manulife menilai bahwa kondisi fiskal dan moneter yang relatif stabil di negara-negara berkembang Asia juga turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap obligasi lokal. Negara-negara dengan neraca transaksi berjalan yang sehat dan cadangan devisa yang kuat akan lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal seperti tekanan dari arah kebijakan AS.
“Dengan ketidakpastian seputar posisi fiskal AS dan dolar AS yang kalah unggul sepanjang tahun ini, kami melihat minat yang lebih besar dari investor global dan Asia untuk kembali ke kawasan ini demi peluang investasi dan diversifikasi,” ujar Collis. Obligasi lokal Asia pun dinilai mampu menyediakan imbal hasil riil yang kompetitif dengan volatilitas yang relatif rendah.
Indonesia dan ASEAN Menjadi Favorit di Mata Investor Global
Kawasan Asia Tenggara menonjol sebagai salah satu titik terang dalam lanskap pendapatan tetap global. Indonesia, bersama Malaysia dan Thailand, menjadi pasar favorit berkat kombinasi antara imbal hasil yang menarik, stabilitas inflasi, serta peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Di Indonesia, peluang pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia dipandang semakin terbuka. Inflasi yang stabil, nilai tukar yang relatif terjaga, serta pertumbuhan ekonomi yang masih positif memberikan ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif guna mendorong konsumsi dan sektor riil. Hal ini sekaligus memperkuat outlook positif bagi pasar obligasi lokal.
“Penurunan suku bunga domestik di negara-negara tersebut akan menjadi katalis kinerja obligasi lokal. Ditambah lagi dengan profil demografis yang mendukung dan permintaan domestik yang kuat, kami percaya pasar-pasar ini akan tetap resilien terhadap tekanan eksternal,” tutup Collis.