Laba Nvidia Melonjak, Redam Kekhawatiran Gelembung AI

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa chip asal California, Nvidia, kembali melampaui ekspektasi pendapatan pada laporan kuartalan terbaru, Rabu (27/8/2025). Perusahaan membukukan penjualan $46,7 miliar dalam tiga bulan hingga Juli, sedikit di atas perkiraan analis sebesar USD 46,2 miliar.

Dikutip dari abcnews.go.com, Kamis (28/8/2025), angka ini sekaligus mencatat lonjakan 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menegaskan bahwa permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) masih menjadi pendorong utama industri.

Sebagai perusahaan dengan valuasi pasar mencapai $4 triliun, Nvidia berada di jantung ledakan AI yang dimulai sejak peluncuran ChatGPT pada 2022. Dalam dua tahun terakhir, harga sahamnya meroket hampir 700%, menjadikannya salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia.

Meski pertumbuhannya spektakuler, Nvidia tidak lepas dari tantangan politik. Presiden AS Donald Trump sempat melarang penjualan chip ke Tiongkok awal tahun ini, sebelum akhirnya mencabut aturan tersebut pada Juli.

Tak lama kemudian, Gedung Putih mengumumkan kesepakatan yang memungkinkan Nvidia tetap menjual chip ke Tiongkok dengan syarat menyerahkan 15% dari pendapatan ekspor ke pemerintah AS.

Tantangan Regulasi dan Risiko Pasar

Pada Mei lalu, Nvidia sempat memperkirakan kerugian hingga USD 8 miliar akibat pembatasan ekspor chip. Namun dalam laporan keuangan terbaru, perusahaan tidak mencatat kerugian dari kebijakan tersebut, meski juga mengungkap tidak ada penjualan chip H20 di Tiongkok pada kuartal terakhir.

Isu geopolitik ini muncul di tengah diskusi lebih luas tentang risiko “gelembung AI”. Sejumlah ekonom dan tokoh industri menilai lonjakan valuasi perusahaan teknologi berbasis AI bisa jadi tidak berkelanjutan. Torsten Sløk, Kepala Ekonom Apollo, bahkan memperingatkan bulan lalu bahwa gelembung AI berpotensi melampaui gelembung dot-com pada 1990-an.

CEO OpenAI, Sam Altman, juga mengakui adanya tanda-tanda gelembung. Dalam wawancara dengan The Verge, ia mengatakan: “Apakah investor saat ini terlalu antusias pada AI? Menurut saya, ya. Namun, apakah AI akan menjadi hal terpenting dalam jangka panjang? Menurut saya juga ya.”

AI Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Kendati ada kekhawatiran soal valuasi, sektor AI tetap menjadi penopang ekonomi Amerika Serikat. Menurut riset Pantheon Macroeconomics, belanja terkait AI menyumbang tambahan 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB tahunan AS pada paruh pertama 2025.

Dengan permintaan chip AI yang belum menunjukkan tanda-tanda surut, Nvidia masih memegang posisi kunci dalam ekosistem teknologi global. Tantangannya kini bukan hanya soal inovasi, tetapi juga bagaimana menghadapi dinamika regulasi dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan di tengah bayang-bayang “gelembung” pasar.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |