Investor Cermati Batas Waktu Keputusan Tarif Dagang AS

1 month ago 43

Liputan6.com, Jakarta - Investor akan mencermati berita utama tarif dari Washington pekan depan. Hal ini seiring penangguhan sementara pungutan impor akan segera berakhir.

Jika batas waktu penangguhan itu berlalu pada Rabu tanpa peningkatan ketegangan perdagangan, hal itu dapat terbukti positif bagi pasar.

Mengutip Channel News Asia, Minggu (6/7/2025), negosiator dengan lebih dari selusin mitra dagang utama AS sedang bergegas mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump paling lambat 9 Juli untuk menghindari tarif lebih tinggi. Trump beserta timnya telah terus memberikan tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Pada Rabu pekan ini, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Vietnam yang menurut dia akan mengenakan tarif 20% yang lebih rendah dari yang dijanjikan pada banyak ekspor Vietnam. Sementara pemerintah telah mengisyaratkan kesepakatan yang akan datang dengan India, pembicaraan dengan Jepang, mitra dagang AS terbesar keenam dan sekutu terdekat di Asia, tampaknya menemui hambatan.

Investor telah beralih dari kepanikan tentang tarif ke pembelian yang baru-baru ini mengangkat pasar saham Amerika Serikat kembali ke rekor tertinggi. Hal ini didukung laba perusahaan dan ekonomi AS bertahan lebih baik dari yang diharapkan banyak orang melalui periode perubahan kebijakan yang dramatis.

Indeks S&P 500 telah naik sekitar 26% dari 8 April, saat saham mencapai titik terendah menyusul pengumuman tarif Trump pada 2 April.

Namun, sebagian besar reli itu didorong oleh pelaku pasar ritel dan pembelian kembali saham perusahaan, bahkan ketika investor institusi lebih diam. Indeks S&P 500 meski mencapai level tertinggi baru, posisi saham jauh di bawah level Februari seiring investor tetap kurang memperhatikan saham, menurut estimasi Deutsche Bank.

“Ini jelas merupakan reli buruk dan lebih spekulatif,” ujar Chief Investment Officer Morgan Stanley Wealth Management, Lisa Shalett.

Sentimen Tarif Dagang Membayangi

"Dalam seminggu terakhir ini, menurut saya, hal itu lebih banyak didorong oleh sektor ritel daripada oleh lembaga. Posisi lembaga sebenarnya hanya rata-rata,” kata dia.

Analis menilai, banyak faktor meski yang membuat investor berhati-hati termasuk kekhawatiran  tentang pertumbuhan ekonomi AS dan valuasi pasar saham tinggi, melewati batas waktu tarif tanpa eskalasi ketegangan besar akan menjadi satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan dalam waktu dekat.

"Saya pikir mungkin ada beberapa ancaman dan gertakan, tetapi saya tidak benar-benar berpikir semua itu sekarang menimbulkan bahaya besar bagi pasar,” ujar Chief US Equities Strategist BCA Research, Irene Tunkel.

Namun, investor tidak berharap batas waktu tarif akan mengakhiri ketegangan perdagangan untuk selamanya.

"Saya tidak melihatnya sebagai batas waktu yang ketat,” ujar Portfolio Manager Janus Henderson Investors, Julian McManus.

Ia mengatakan, penghentian sementara selama 90 hari itu sendiri ditetapkan karena pasar sedang anjlok, dan pembuat kebijakan butuh ruang bernafas. “Waktu untuk mencoba dan menegosiasikan kesepakatan ini atau menemukan semacam jalan keluar,” ujar dia.

Investor Hati-Hati

Deutsche Bank Strategist, Parag Thatte menuturkan, pendekatan hati-hati investor untuk meningkatkan eksposur saham sekarang mengingatkan pada sikapnya setelah koreksi pasar akibat pandemi pada Maret 2020. Hal ini ketika alokasi untuk saham pulih lebih lambat daripada indeks pasar utama.

“Itu berarti ada ruang bagi eksposur untuk terus meningkat, yang merupakan hal positif bagi pasar saham jika semuanya sama,” ujar Thatte.

Berdasarkan analis Reuters terhadap data LSEG, setelah semester pertama bergejolak, indeks S&P 500 memasuki periode yang secara historis kuat. Selama 20 tahun terakhir, Juli telah menjadi bulan terkuat untuk indeks acuan dengan rata-rata pengembalian 2,5%.

Investor juga akan mencermati data ekonomi, terutama inflasi dan hasil kuartal kedua dalam beberapa minggu mendatang untuk mendapatkan petunjuk mengenai kesehatan ekonomi AS dan prospek suku bunga the Federal Reserve (the Fed).

“Kita berada di titik di mana lembaga harus memutuskan satu atau cara lain, apakah mereka percaya pada reli atau tidka,” ujar Shalett dari Morgan Stanley.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |