Liputan6.com, Jakarta - Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer menyoroti dominasi saham perusahaan konglomerasi dalam pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dia menuturkan, hal itu tidak lepas dari masuknya dua saham konglomerasi ke dalam indeks, yang mendorong aliran dana pasif signifikan ke saham-saham tersebut.
"Memang saat ini kita lihat di IHSG ini memang didrive oleh sektor-sektor konglomerasi, dan ini memang karena didorong oleh sebelumnya, ada ekspektasi di mana indeks inclusion yang baru saja terjadi itu terhadap dua saham, dan itu bisa disebut oleh pasar sebagai sektor konglomerasi, makanya memang sentimennya terdampak dari situ ya,” ujar Adrian dalam Economic Outlook Q3 2025 Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas, Kamis (28/8/2025).
Dia mengatakan, pasar juga berspekulasi saham dari grup usaha lain dengan karakter serupa berpotensi mengikuti jejak tersebut, sehingga memberi tambahan sentimen positif. Namun, ia menegaskan, dominasi sektor konglomerasi tidak akan berlangsung selamanya karena pasar saham selalu bergerak dalam siklus.
Investor Harus Dinamis
"Ke depannya bisa saja akan ada pergantian. Jadi kita sebagai investor mungkin harus selalu dinamis juga melihat potensi-potensi opportunity, pocket of opportunity akan ada di mana ke depannya, sambil melihat data-data makro," ia menambahkan.
Adrian menekankan rotasi sektor akan terus terjadi, mengikuti arah kebijakan ekonomi dan peluang pertumbuhan di sektor lain. Oleh karena itu, ia mendorong investor untuk terus memantau potensi fundamental dan valuasi di luar saham konglomerasi agar tidak tertinggal dari peluang baru di pasar modal.
Saham Konglomerat Dongkrak IHSG, BEI: Terbentuk Secara Organik
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan reli di level 7.500. Kenaikan ini tidak lepas dari saham-saham yang dimiliki para konglomerat Indonesia.
Sebut saja emiten milik Prajogo Pangestu semisal PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Ada juga saham milik Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang turut menopang penguatan IHSG.
Menanggapi tren tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna tak menampik, saham konglomerat itu turut berkontribusi besar terhadap pergerakan indeks.
"Kami memandang hal ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang terbentuk secara organik. Mencerminkan ekspektasi pasar terhadap perusahaan-perusahaan tersebut," ujar Nyoman, Jumat (25/7/2025).
Menurut dia, pergerakan harga saham di pasar sangat ditentukan oleh mekanisme supply and demand, serta pertimbangan investor atas informasi yang tersedia di publik. Baik terkait kinerja keuangan, rencana bisnis, maupun sentimen global dan domestik.
Sebagai self-regulatory organization (SRO), Nyoman menyatakan, BEI tidak memiliki kebijakan yang membedakan emiten berdasarkan kepemilikan atau afiliasi pemegang saham pengendalinya.
Seluruh Emiten Setara
Ia menambahkan, Bursa Efek Indonesia memperlakukan seluruh emiten secara setara. Dengan tetap memastikan bahwa seluruh transaksi dilakukan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
"Selama pergerakan saham terjadi secara wajar maka pergerakan tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang sah," tegas Nyoman.
Selain itu, ia turut menekankan, BEI senantiasa bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan stakeholders terkait lain, untuk menjaga integritas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Dengan senantiasa menjalankan perannya sebagai penyelenggara perdagangan efek. Sehingga pergerakan IHSG terus dapat berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.
"Kami mengimbau agar seluruh investor selalu melakukan analisis yang cermat, memperhatikan aspek fundamental dan risiko investasi, serta memanfaatkan informasi yang tersedia secara publik dalam membuat keputusan investasinya," tutur dia.