IHSG Anjlok 2,27% pada Sesi I Imbas Demo dan Ketidakpastian Global

20 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur hingga penutupan perdagangan sesi pertama, Jumat (29/8/2025). Koreksi IHSG terjadi di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan aksi demo.

Mengutip data RTI, hingga penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok 2,27% ke posisi 7.771,28. Indeks LQ45 merosot 2,2% ke posisi 793,68.  Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 7.913,86 dan level terendah 7.767,17. Sebanyak 662 saham melemah sehingga bebani IHSG. 89 saham menguat dan 49 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.625.838 kali dengan volume perdagangan 34 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13,3 triliun.

Pada perdagangan sesi pertama, mayoritas sektor saham memerah kecuali sektor saham industri naik 0,13%. Sektor saham siklikal merosot 4,69%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham infrastruktur turun 3,5% dan sektor saham properti tergelincir 3,41%.

Selain itu, sektor saham energi susut 2,71%, sektor saham basic terpangkas 3,47%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikal melemah 1,7%, sektor saham kesehatan melemah 1,76%, sektor keuangan terpangkas 2,55%, sektor saham teknologi susut 2,47%, dan sektor saham transportasi melemah 1,79%.

Top Gainers-Losers

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

  • Saham BMAS melonjak 25%
  • Saham DUTI melonjak 24,85%
  • Saham PGUN melonjak 24,70%
  • Saham KONI melonjak 24,52%
  • Saham TMPO melonjak 20,69%

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

  • Saham TIRA merosot 14,75%
  • Saham BSBK merosot 14,74%
  • Saham CPRO merosot 14,71%
  • Saham SOLA merosot 14,36%
  • Saham WIRG merosot 14,21%

Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:

  • Saham PSAB senilai Rp 677,1 miliar
  • Saham BBCA senilai Rp 659,1 miliar
  • Saham WIFI senilai Rp 593,2 miliar
  • Saham BBRI senilai Rp 467,5 miliar
  • Saham BMRI senilai Rp 454,1 miliar

Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:

  • Saham PSAB tercatat 65.389 kali
  • Saham ATLA tercatat 56.743 kali
  • Saham HUMI tercatat 56.155 kali
  • Saham GZCO tercatat 52.171 kali
  • Saham WIRG tercatat 46.762 kali

Bursa Saham Asia Pasifik

Bursa saham Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada Jumat,29 Agustus 2025. Hal ini berbeda dengan Wall Street karena investor juga menilai serangkaian data ekonomi di kawasan tersebut.

Mengutip CNBC, Nikkei 225 Jepang turun 0,41%, sementara Topix turun 0,39% setelah harga konsumen inti di Tokyo naik lebih lambat pada bulan Agustus. IHK inti Tokyo, yang tidak memasukkan makanan segar tetapi energi, naik 2,5% dari tahun sebelumnya, sesuai dengan perkiraan ekonom Reuters, dan menurun dari kenaikan 2,9% di bulan Juli. Namun, angka tersebut tetap di atas target Bank of Japan sebesar 2%.

Tingkat pengangguran Jepang juga turun menjadi 2,3% pada Juli, turun dari 2,5% pada bulan sebelumnya. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,22% sementara Indeks Kosdaq turun 0,27% setelah mantan ibu negara Korea Selatan Kim Keon Hee dilaporkan didakwa atas tuduhan korupsi dan penyuapan.

Kim adalah istri mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, yang dicopot dari jabatannya dan ditangkap awal tahun ini karena penerapan darurat militer yang singkat. Won Korea Selatan melemah 0,15% menjadi 1.387,38 terhadap dolar.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,14%. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,51% sementara CSI 300 Tiongkok daratan naik 0,13%.

Perdana Menteri India Narendra Modi dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai ke-25 pada akhir pekan di Tianjin, yang akan menjadi kunjungan pertama Modi ke Tiongkok dalam tujuh tahun.

New Delhi dan Beijing dapat melakukan perundingan di Tianjin, karena Kementerian Luar Negeri India telah mengisyaratkan kemungkinan pertemuan bilateral di sela-sela KTT tersebut.

Kata Pengamat

Sebelumnya, Penggiat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa mengatakan IHSG berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek di tengah bayang-bayang ketidakpastian global serta dinamika politik dalam negeri.

Reydi menilai ekspektasi inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat membuat pasar khawatir The Federal Reserve akan menunda pemangkasan suku bunga. Hal ini menambah kewaspadaan investor terhadap arah pasar.

“Pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Dari AS, ekspektasi inflasi yang masih tinggi bisa membuat The Fed menunda pemangkasan suku bunga,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Jumat (29/8/2025).

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |