Gerak Saham MIRA Tarik Perhatian Investor, Ini Gara-garanya

2 days ago 12

Liputan6.com, Jakarta PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) mengalami lonjakan aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kenaikan harga lebih dari 675% dalam beberapa hari terakhir. 

Dari sebelumnya Rp 8 per saham, harga saham MIRA ditutup di posisi Rp 62 pada penutupan perdagangan Rabu , mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek strategis perseroan.

Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menuturkan kenaikan harga saham MIRA terjadi di tengah munculnya sentimen positif terkait potensi aksi korporasi, termasuk kemungkinan akuisisi oleh pihak strategis. 

Walau belum ada konfirmasi resmi dari manajemen MIRA mengenai rencana tersebut, tren pasar mencerminkan meningkatnya ketertarikan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Hendra juga mengingatkan secara historis MIRA kerap terlibat dalam aksi korporasi dan restrukturisasi. Sejak 2014, perusahaan pernah melakukan akuisisi anak usaha di sektor logistik serta beberapa kali menjalankan restrukturisasi aset sebagai bagian dari strategi bisnis. 

Jusuf Hamka jadi Pemegang Saham

Bahkan, nama besar seperti Jusuf Hamka sempat tercatat sebagai pemegang saham dengan porsi lebih dari 9% sebelum melepas seluruh kepemilikannya pada Juli 2025. Hingga kini, belum diketahui pihak yang mengambil alih saham tersebut, sehingga menambah spekulasi di kalangan pasar.

“Dengan dinamika yang berkembang, MIRA kini menjadi salah satu saham yang paling diperhatikan di lantai bursa. Bagi investor dengan profil risiko agresif, saham ini menawarkan peluang spekulatif yang menjanjikan,” kata Hendra dalam keterangan resmi, Rabu (27/8/2025).

Data perdagangan mencatat volume transaksi MIRA meningkat tajam selama periode kenaikan harga ini. Kondisi tersebut menempatkan MIRA sebagai saham yang dipandang memiliki potensi multibagger, menarik perhatian para trader yang mencari peluang jangka pendek dengan potensi keuntungan tinggi.

“Namun, bagi investor jangka panjang, arah kebijakan korporasi dan kejelasan strategi pasca-rumor akuisisi akan menjadi penentu utama dalam menilai kelanjutan tren positif MIRA,” tutup Hendra.   

Meski Bursa Asia Melemah, IHSG Justru Naik

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu sore, 27 Agustus 2025. Performa ini terbilang istimewa karena terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

IHSG berhasil naik 30,42 poin (0,38%) ke posisi 7.936,18. Namun, indeks 45 saham unggulan atau LQ45 justru turun 4,14 poin (0,51%) menjadi 813,47.

Menurut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan ini didorong oleh respons pasar terhadap data ekonomi China.

"Pasar tampaknya merespons rilis data profit industrial China yang mengalami pemulihan di tengah masih melemahnya permintaan domestik mereka," sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dikutip dari Antara. 

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS) China, laba industri hanya turun 1,5% secara tahunan (year on year atau yoy) pada Juli 2025. Penurunan ini jauh melambat dibandingkan 4,3% pada Juni 2025.

Pelaku pasar melihat melambatnya penurunan ini sebagai tanda positif dari langkah-langkah stimulus yang diterapkan oleh pemerintah China untuk membangkitkan kembali ekonominya.

Sentimen Global dan Domestik Pengaruhi Pergerakan IHSG

Selain data ekonomi China, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan pasar. Dari Amerika Serikat (AS), sentimen pasar dibayangi kekhawatiran tentang independensi The Fed pasca Presiden Donald Trump memberhentikan Gubernur Fed, Lisa Cook. Ketidakpastian ini berpotensi mengikis kepercayaan investor di pasar global.

Namun, dari dalam negeri, ada kabar baik yang menjadi penopang IHSG. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan bahwa AS sepakat untuk mengecualikan komoditas ekspor utama Indonesia, yaitu kakao, minyak sawit, dan karet, dari bea masuk 19% yang diberlakukan sejak 7 Agustus 2025. Kabar ini disambut baik karena diperkirakan akan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, yang pada akhirnya akan memperkuat neraca perdagangan.

Sepanjang hari, IHSG konsisten berada di zona hijau, baik pada sesi pertama maupun sesi kedua, hingga penutupan perdagangan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |