Liputan6.com, Jakarta - PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), emiten alat-alat perlengkapan mesin pabrik dan kendaraan mendapatkan pendapatan dividen dari entitas anak pada Senin, (25/8/2025).
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Selamat Sempurna Tbk mendapatkan pendapatan dividen dari entitas anak antara lain PT Panata Jaya Mandiri sebesar Rp 34,12 miliar dan PT Prapat Tunggal Cipta sebesar Rp 12,52 miliar. Dengan demikian, pendapatan dividen dari entitas anak sebesar Rp 46,64 miliar.
“Tidak ada dampak kejadian, informasi dan fakta material tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum kondisi keuangan atau keberlangsungan usaha Perseroan,” ujar Wakil Direktur Utama PT Selamat Sempurna Tbk, Ang Andri Pribadi.
Pada perdagangan Senin, 25 Agustus 2025, harga saham SMSM stagnan di posisi Rp 1.995 per saham. Harga saham SMSM dibuka stagnan di posisi Rp 1.995 per saham. Saham SMSM berada di level tertinggi Rp 2.020 dan terendah Rp 1.990 per saham. Total frekuensi perdagangan 364 kali dengan volume perdagangan 2.301 saham. Nilai transaksi Rp 460,5 juta.
Kinerja IHSG 19-22 Agustus 2025
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 19-22 Agustus 2025. Koreksi IHSG terjadi usai mencatat rekor tertinggi yang dipengaruhi sentimen internal dan eksternal.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sepekan terpangkas 0,50% ke posisi 7.858,85 selama sepekan. Koreksi IHSG pekan ini lebih besar dari pekan lalu seiring IHSG susut 0,06% ke posisi 7.533,38.
Selain itu, kapitalisasi pasar BEI juga terpangkas 0,81% menjadi Rp 14.131 triliun dari pekan lalu di posisi Rp 14.247 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG melemah dipengaruhi sejumlah hal. Pertama, rilis suku bunga China yang masih tetap di tengah perang tarif dagang. Kedua, rilis BI Rate atau suku bunga acuan yang dipangkas menjadi 5% (vs 5,25%). “ Di mana hal itu di luar ekspektasi konsensus,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Ketiga, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Keempat dari Jackson Hole Simposium, menurut dia, the Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuan meski terdapat peluang yang secara konsensus akan ada pemangkasan suku bunga. Selain itu, ada aliran dana investor asing yang didorong sentimen suku bunga.
“Kelima, masih ada inflow asing yang kami perkirakan karena adanya ekspektasi pemangkasan suku bunga,” ujar dia.
Aksi Beli Saham
Berdasarkan data BEI, investor asing masih melanjutkan aksi beli saham mencapai Rp 2,7 triliun selama sepekan. Sepanjang 2025, investor asing melepas saham Rp 52,44 triliun.
Di sisi lain, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa pekan ini sebesar 10% menjadi 39,47 miliar saham dari 35,88 miliar saham pada pekan lalu.
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan meningkat 1,98% dari 2,08 juta kali transaksi menjadi 2,12 juta kali transaksi.
Selama sepekan terdapat dua pencatatan obligasi dan satu sukuk di pasar modal Indonesia. Pada Kamis, 21 Agustus 2025, Obligasi Berkelanjutan I dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap II Tahun 2025 oleh PT Merdeka Battery Materials Tbk mulai dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai nominal obligasi sebesar Rp 1,32 triliun dan nilai nominal sukuk sebesar Rp 1,77 triliun.
Total Obligasi
Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk obligasi dan sukuk tersebut masing-masing idA (Single A) dan idA(sy) (Single A Syariah) dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai Wali Amanat.
Kemudian pada Jumat, 22 Agustus 2025, Obligasi Berkelanjutan III Sinar Mas Multiartha Tahap III Tahun 2025 (SMMA03CN3) memiliki nilai nominal sebesar Rp 300 miliar dengan tingkat bunga 8,50% per tahun, jangka waktu 5 tahun sejak tanggal emisi.
Hasil pemeringkatan dari PT Kredit Rating Indonesia (KRI) untuk Obligasi Berkelanjutan III Sinar Mas Multiartha Tahap III Tahun 2025 adalah irAA (Double A) dengan Wali Amanat PT Bank KB Bukopin Tbk.
Total Obligasi
Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2025 adalah 119 emisi dari 66 emiten senilai Rp135,87 triliun.
Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 650 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp519,80 triliun dan USD117,27 juta, yang diterbitkan oleh 139 emiten.
Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 194 seri dengan nilai nominal Rp6.221,26 triliun dan USD502,10 juta. Selain itu, di BEI telah tercatat sebanyak 7 emisi EBA dengan nilai Rp2,13 triliun.