Liputan6.com, Jakarta - Intel memperingatkan pada Senin, 25 Agustus 2025 akan ada reaksi negatif dari investor, karyawan dan pihak lain terhadap pengambilalihan 10% saham perusahaan oleh pemerintahan Donald Trump.
Hal itu disampaikan dalam sebuah dokumen yang terkait dengan kesepakatan tersebut yang dikutip dari CNBC, Selasa (26/8/2025).
Salah satu area yang menjadi perhatian utama yakni penjualan global, dengan 76% pendapatan Intel pada tahun fiskal terakhirnya berasal dari luar Amerika Serikat (AS), menurut dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa.
Perusahaan mencatat pendapatan sebesar USD 53,1 miliar untuk tahun fiskal 2024, turun 2% dari tahun sebelumnya.
Bagi pelanggan internasional Intel, perusahaan kini terhubung langsung dengan kebijakan tarif dan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terus berubah.
“Mungkin ada reaksi negatif, baik langsung maupun seiring waktu, dari investor, karyawan, pelanggan, pemasok, mitra bisnis atau komersial lainnya, pemerintah asing atau pesaing,” tulis perusahaan dalam dokumen tersebut.
“Mungkin juga ada litigasi terkait transaksi tersebut atau lainnya dan peningkatan pengawasan public atau politik terhadap perusahaan,” ia menambahkan.
Timbulkan Risiko bagi Pemegang Saham
Intel juga menyatakan kalau potensi perubahan lanskap politik di Washington dapat menantang atau membatalkan kesepakatan tersebut dan menimbulkan risiko bagi pemegang saham saat ini dan pada masa mendatang.
Kesepakatan yang diumumkan Jumat lalu itu memberikan Departemen Perdagangan hingga 433,3 juta lembar saham perusahaan yang bersifat dilutif bagi pemegang saham yang ada. Pembelian saham itu sebagian besar didanai oleh dana yang telah diberikan kepada Intel berdasarkan Undang-Undang CHIPS Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.
Intel telah menerima USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 35,86 triliun dari program itu dan akan menerima tambahan USD 5,7 miliar atau sekitar Rp 92,92 triliun. Sebuah program federal terpisah memberikan USD 3,2 miliar atau Rp 52,16 triliun dengan total USD 11,1 miliar atau Rp 180,97 triliun, menurut sebuah rilis.
Saham Intel Menguat
Trump menyebut perjanjian itu kesepakatan hebat bagi Amerika Serikat (AS) dan mengatakan pengembangan chip canggih sangat penting bagi masa depan bangsa.
Saham Intel menguat seiring momentum menuju kesepakatan pada Agustus. Saham Intel naik sekitar 25% dalam sebulan.
Perjanjian itu mengharuskan pemerintah untuk memberikan suara bersama dewan direksi Intel. Dalam pengajuan yang dilakukan pada Senin, perusahaan itu mencatat kepemilikan saham pemerintah mengurangi hak suara dan hak tata kelola lainnya dari pemegang saham serta dapat membatasi potensi transaksi pada masa mendatang yang mungkin bermanfaat bagi pemegang saham.
Tahun Fiskal 2024
Namun, pengajuan itu mencatat Departemen Perdagangan dapat memberikan suara menentang setiap langkah yang dapat membatalkan kesepakatan atau menolak kepemilikan saham pemerintah di Intel.
Perusahaan mengakui dalam pengajuan tersebut bahwa mereka belum menyelesaikan analisis atas semua "implikasi keuangan, pajak, dan akuntansi".
Tahun fiskal Intel yang penuh gejolak 2024 ditandai dengan keluarnya CEO Pat Gelsinger pada Desember setelah empat tahun menjabat, yang mengakibatkan harga saham anjlok dan perusahaan kehilangan pangsa pasar dari para pesaingnya dalam ledakan kecerdasan buatan. CEO Lip-Bu Tan mengambil alih kepemimpinan pada Maret.