Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama sekaligus pemegang kendali PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC), Djonny Saksono tercatat menambah kepemilikan saham sejak awal 2025. Hingga pekan ketiga Agustus 2025, ia sudah mengakumulasi 5,83 juta lembar saham.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (28/8/2025), dengan tambahan tersebut, porsi saham Djonny meningkat menjadi 642,39 juta saham ITIC atau setara 68,29% per 21 Agustus 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar 632,11 juta saham atau 67,67%.
Transaksi terakhir dilaksanakan pada 21 Agustus dengan pembelian 47.900 saham di harga Rp214 per saham. Sementara itu, pada bulan sebelumnya, ia juga tercatat menambah 139.300 saham dengan harga rata-rata Rp214,88 per saham. Langkah pembelian ini dilakukan sebagai bentuk investasi yang berujung pada bertambahnya porsi kepemilikan.
Pada semester I 2025, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) juga mencatat penjualan turun tipis 8,4% menjadi Rp 149,64 miliar. Pada semester I 2024, Perseroan meraup penjualan Rp 163,37 miliar.
Sementara itu, laba tahun berjalan tercatat Rp 7,75 miliar hingga semester I 2025. Laba tahun berjalan merosot 7,85% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,41 miliar.
Indonesian Tobacco Bagi Dividen Rp 4,7 Miliar
Sebelumnya, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) berencana membagikan dividen tunai sebesar Rp 4,7 miliar atau Rp 5 per saham. Rencana pembagian dividen itu telah mendapat restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indonesian Tobacco Tbk yang diselenggarakan pada 21 Mei 2024.
Pembagian dividen merujuk pada data keuangan perseroan tahun buku 2023 yang berakhir pada 31 Desember 2023. Pada periode tersebut, perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 26,96 miliar.
Sampai dengan 31 Desember 2023, PT Indonesian Tobacco Tbk membukukan saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 56,01 miliar. Bersamaan dengan itu, total ekuitas tercatat sebesar Rp 397,93 miliar.
Melihat Prospek Emiten Rokok pada Semester II 2025
Sebelumnya, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai prospek emiten rokok pada semester II 2025 masih cenderung melemah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kebijakan cukai, peredaran rokok ilegal, dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
"Di sini wait and see ya, untuk emiten basis rokok, ya karena masih bearish consolidation. Jadi tentunya prospek emiten rokok pada semester kedua, ya bisa jadi nanti masih relatively underwhelming, karena di semester satu pun juga masih relatively underwhelming," ujar Nafan kepada Liputan6.com, Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, jika ketiga faktor tersebut dapat dimitigasi, hal itu berpotensi menjadi katalis positif bagi peningkatan kinerja penjualan. Namun, ia menegaskan bahwa potensi tersebut belum terlihat kuat pada paruh kedua tahun ini.
Selain itu, Nafan mendorong emiten rokok untuk lebih gencar menjalankan strategi diversifikasi bisnis di luar industri tembakau. Ia mencontohkan langkah PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang telah merambah sektor infrastruktur jalan tol untuk mendapatkan pendapatan berulang.
"Kalau GGRM itu sudah pasti, sudah diversifikasi bisnis ke program infrastruktur. Jadi ini tujuannya untuk mendapatkan recurring income," kata Nafan.
Kinerja Emiten Rokok hingga Juni 2025
Emiten-emiten rokok membukukan kinerja keuangan beragam sepanjang semester I 2025. Dari emiten rokok yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya satu emiten yang mencetak pertumbuhan penjualan dan laba.
PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) meraih penjualan Rp 55,17 triliun hingga Juni 2025. Penjualan HMSP turun 4,57% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 57,81 triliun. Demikian mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/8/2025).
Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk HMSP tercatat Rp 2,12 triliun hingga Juni 2025. Laba merosot 35,82% dari Juni 2024 sebesar Rp 3,31 triliun.
Kinerja Emiten Rokok Lainnya
Dalam riset Stockbit menyebutkan, kinerja laba bersih HMSP tersebut jauh di bawah ekspektasi (28% estimasi 2025 konsensus vs rata-rata dua tahun terakhir:48% realisasi tahunan).
Kinerja laba bersih Perseroan ditekan oleh beban pajak one-off pada kuartal II 2025 seiring ada penyesuaian pajak periode lalu. Secara operasional, laba kotor mencatatkan pertumbuhan tahunan yang positif. Laba kotor HMSP tumbuh 11,03% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,68 triliun.
Penurunan kinerja penjualan dan laba ini juga diikuti PT Gudang Garam Tbk (GGRM). PT Gudang Garam Tbk mencetak pendapatan Rp 44,36 triliun hingga Juni 2025. Pendapatan Perseroan turun 11,29% dari semester I 2024 sebesar Rp 50,01 triliun.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas 87,3% menjadi Rp 117,16 miliar hingga Juni 2025 dari periode Juni 2024.
Selain itu, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) juga mencatat penjualan turun tipis 8,4% menjadi Rp 149,64 miliar hingga Juni 2025. Pada semester I 2024, Perseroan meraup penjualan Rp 163,37 miliar.
Sementara itu, laba tahun berjalan tercatat Rp 7,75 miliar hingga semester I 2025. Laba tahun berjalan merosot 7,85% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,41 miliar.
Di sisi lain, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat pertumbuhan penjualan dan laba. Penjualan WIIM mencapai Rp 2,87 triliun hingga Juni 2025, naik 29,64% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,22 triliun.
Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 148,27 miliar hingga semester I 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 147,24 miliar.