Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia-Pasifik sebagian besar melemah pada Rabu, 26 Agustus 2025 setelah Wall Street menguat semalam.
Mengutip CNBC, Rabu (27/8/2025), pasar India juga akan menjadi fokus seiring berlakunya tarif Amerika Serikat (AS). India saat ini menghadapi tarif tambahan hingga 50% untuk ekspor ke AS, setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancaman tarif sebagai tanggapan atas impor energi Rusia yang substansial.
Indeks Nikkei 225 Jepang di bursa saham Asia Pasifik melemah 0,17%, dan Topix melemah 0,3%. Indeks Kospi Korea Selatan susut 0,17% dan Kosdaq berkapitalisasi kecil melemah 0,16%. Indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,23%.
Indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.626, menunjukkan pembukaan yang lebih tinggi dibandingkan penutupan terakhir HSI di level 25.524,92.
Di wall street, tiga indeks saham acuan ditutup melesat. Indeks S&P 500 naik seiring wall street masih menunggu data kuartalan dari raksasa chip Nvidia. Indeks S&P 500 menguat ke posisi 6.465,94. Indeks Nasdaq menguat 0,44% dan ditutup ke posisi21.544,27. Indeks Dow Jones bertambah 135,60 poin atau 0,30% ke posisi 45.418,07.
Penutupan IHSG pada 26 Agustus 2025
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (26/8/2025), sejalan dengan tekanan di bursa Asia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap China.
IHSG terkoreksi 21,15 poin atau 0,27 persen ke level 7.905,76. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun lebih dalam, yakni 11,31 poin atau 1,36 persen ke 817,61.
“Sentimen negatif antara lain berasal dari koreksi indeks bursa regional Asia,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dikutip dari Antara.
Bursa Saham Asia Ditutup Melemah
Mayoritas pasar saham Asia memang ditutup di zona merah setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif impor hingga 200 persen apabila China tidak mengekspor mineral tanah jarang ke AS. Ia juga mengingatkan potensi pengenaan tarif bagi negara-negara yang tetap memberlakukan pajak digital.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pertemuan antara Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan perdagangan yang bulan lalu menetapkan tarif impor 15 persen atas ekspor Korea Selatan ke Negeri Paman Sam.
Dari AS, kabar lain datang dari bank sentral setelah Trump memutuskan memberhentikan Lisa Cook dari jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed.
Serangan Ukraina Meningkat
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Rusia telah membuat “konsesi signifikan” untuk mendorong negosiasi damai dalam perang yang telah berlangsung lebih dari 3,5 tahun.
Namun, di sisi lain, Ukraina terus meningkatkan serangan. Serangan drone pada Minggu lalu memicu kebakaran besar di terminal ekspor bahan bakar Ust-Luga, serta melumpuhkan kilang Novoshakhtinsk yang memiliki kapasitas produksi sekitar 100.000 barel per hari.
Meski ada ancaman gangguan pasokan dari Rusia, pasar juga dipengaruhi oleh pembatalan pemangkasan produksi OPEC+, yang justru menambah jutaan barel minyak ke pasar global.
“Faktor ini sedikit mengimbangi kekhawatiran pasokan,” jelas Kepala analis komoditas Saxo Bank Ole Hansen.