Arkora Bakti Raup Rp 158,13 Miliar Usai Lepas Saham ARKO

2 days ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu pemegang saham sekaligus pengendali PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yakni PT Arkora Bakti Indonesia melepas saham pada 9 Januari 2026.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (13/1/2026), Arkora Bakti Indonesia melepas 87.854.850 saham ARKO dengan harga saham Rp 1.800 per saham. Tahap pertama, Arkora Bakti Indonesia melepas 55,50 juta saham dan 32,35 juta saham ARKO dengan harga Rp 1.800 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi penjualan saham itu sekitar Rp 158,13 miliar.

Setelah transaksi, Arkora Bakti Indonesia memiliki 38,89 persen saham ARKO atau 1,13 miliar saham ARKO. Sebelumnya, Arkora Bakti Indonesia mengenggam 41,89% saham ARKO atau setara 1,22 miliar saham.

Berdasarkan data Google Finance, harga saham ARKO ditutup naik 37,82% dalam lima hari terakhir. Sedangkan pada tahun lalu, harga saham ARKO melonjak 1.031%.

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah pada perdagangan saham Senin, pekan ini. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah transaksi harian saham tembus Rp 40 triliun.

Mengutip data RTI,IHSG hari ini ditutup merosot 0,58% ke posisi 8.884,72. Indeks saham LQ45 turun 0,17% ke posisi 866,55. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Pada awal pekan ini, IHSG sempat sentuh level tertinggi 9.000,96. Namun, pada sesi kedua, IHSG berbalik arah melemah. IHSG menyentuh level terendah 8.715,41.

Sebanyak 435 saham merosot sehingga bebani IHSG. 279 saham menguat dan 97 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 5.972.586 kali dengan volume perdagangan saham 74,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 40,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.840.

Intip Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro Garapan ARKO

Sebelumnya, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memiliki dua proyek strategis pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) yang sedang dalam tahap pengerjaan yakni Yaentu yang berlokasi di Poso, Sulawesi Tengah, dan Proyek Kukusan yang berlokasi di Lampung.

Presiden Direktur Arkora Hydro Aldo Artoko mengatakan, proyek Yaentu memiliki kapasitas sebesar 10 MW dan Kukusan sebesar 5,4 MW. Keduanya saat ini masih dalam tahap konstruksi.

Untuk Proyek Yaentu, progress konstruksinya saat ini sudah mencapai 95,5 persen, yang mana sudah mulai instalasi Turbin dan Generator, dengan target commercial operating date pada kuartal II 2024

"Sementara untuk Proyek Kukusan, saat ini progress konstruksi saat sudah mencapai 7,7 persen dengan target commercial date pada kuartal III 2025,” ujar dia dalam hasil public expose di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (25/11/2023).

Proyek Perseroan

Kehadiran kedua proyek tersebut akan melengkapi lanskap produksi dari PLTA Cikopo II di Garut, Jawa Barat, yang memiliki kapasitas 7,4 MW dan PLTA Tomasasa di Palu, Sulawesi Tengah, dengan kapasitas 10 MW.

"Sesuai dengan strategi perseroan salah satunya yakni ekspansi melalui akselerasi proyek pipeline dan akuisisi, kami akan fokus pada pengembangan proyek hidro power yang terdapat pada pipeline kami di mana saat ini mencapai 220 megawatt serta secara aktif berupaya membuka peluang kerja sama dalam pengembangan proyek hidro berpotensi besar di atas 25 megawatt (MW),” kata dia. 

Di samping itu, ia melihat sektor bisnis EBT di Indonesia masih memiliki potensi besar sehingga menjadi peluang bagi perseroan untuk meraih pertumbuhan bisnis yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan rencana pengembangan pembangkit EBT Hidro mencapai 10,3 GW berdasarkan RUPTL 2021-2030.

Potensi Bursa Karbon

Pada 2023, ARKO telah memiliki pipeline sebesar 220 MW atau bertumbuh sebesar 120 persen yaitu 120 MW apabila dibandingkan dengan periode 2022 sebesar 100 MW.

Sebagai perusahaan yang berfokus kepada penyediaan listrik ramah lingkungan atau energi baru dan terbarukan, kehadiran bursa karbon tentu memberikan angin segar bagi perseroan. Apalagi, ke depan, penggunaan energi ramah lingkungan akan terus meningkat.

“Kami juga melihat potensi yang ada dari bursa karbon tersebut tentunya dapat memberikan katalis positif bagi ARKO sebagai Perusahaan penghasil carbon credit,” ujarnya. 

Tak hanya itu, Perseroan selalu memperhatikan implementasi dampak lingkungan, sosial dan tata kelola dari setiap proyek yang telah beroperasi maupun sedang dalam pengembangan.

Selain itu, Perseroan juga cukup memperhatikan issue perubahan iklim khususnya pada emisi CO2, dalam hal ini Perseroan telah bekontribusi dalam penghematan emisi selama periode 2017- Oktober 2023 sebesar ±315.942 ton CO2, Ke depannya, setelah seluruh proyek yakni Cikopo, Tomasa, Yentu dan Kukusan beroperasi, kami dapat melakukan penghematan emisi hingga ±134.988 ton CO2 per tahun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |