UBS Pangkas Rating Pasar Saham AS, Ini Risiko yang Dikhawatirkan

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bank investasi UBS menurunkan pandangannya terhadap pasar saham AS dengan alasan risiko dolar melemah, valuasi yang dinilai mahal, serta ketidakpastian kebijakan di Washington. Meski belum sepenuhnya pesimistis, UBS menilai era dominasi saham Amerika mulai memudar.

Head of Global Equity Strategy UBS Andrew Garthwaite menjelaskan, UBS memangkas rekomendasi saham AS menjadi “benchmark” dalam portofolio saham global yang terdiversifikasi penuh. Dikutip dari CNBC, Minggu (1/3/2026), Ia menilai sejumlah faktor yang selama ini mendorong kinerja unggul saham AS mulai kehilangan tenaga.

Salah satu kekhawatiran utama adalah risiko pelemahan dolar AS. UBS memperkirakan euro berpotensi menguat hingga USD 1,22 pada akhir kuartal pertama 2026. Bank tersebut juga melihat adanya risiko struktural penurunan dolar yang bersifat asimetris.

Secara historis, ketika indeks dolar berbobot perdagangan turun 10%, saham AS cenderung berkinerja lebih rendah sekitar 4% dalam perhitungan tanpa lindung nilai.

Tahun ini, pasar luar negeri justru menunjukkan kinerja lebih kuat. Indeks MSCI World ex-US naik sekitar 8% sepanjang 2026, sementara S&P 500 relatif stagnan. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 17%, dan Stoxx Europe 600 menguat 7%, mencerminkan rotasi modal keluar dari saham AS.

Buyback Melemah dan Valuasi Dinilai Terlalu Mahal

UBS juga menyoroti melemahnya daya dorong pembelian kembali saham (buyback), yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan laba per saham (EPS).

Imbal hasil buyback di AS kini dinilai hanya setara dengan pasar global, sehingga tidak lagi menjadi keunggulan kompetitif. Bahkan, gabungan imbal hasil dividen dan buyback di AS disebut hanya sekitar setengah dari level Eropa.

“Imbal hasil buyback tidak lagi istimewa dan sebelumnya hal ini merupakan pendorong penting arus dana, laba per saham (EPS), dan valuasi,” tulis Garthwaite.

Dari sisi valuasi, UBS menghitung rasio harga terhadap laba (price-earnings ratio) saham AS yang disesuaikan sektoral kini 35% lebih tinggi dibandingkan pasar internasional. Padahal sejak 2010, premi rata-rata hanya sekitar 4%.

Sekitar 60% sektor di AS kini diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi dibandingkan rekan globalnya, bahkan melampaui rata-rata historisnya sendiri.

Risiko Kebijakan dan Harapan dari AI

Ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Donald Trump juga menjadi faktor penekan. Tahun ini diwarnai perubahan kebijakan tarif, usulan pembatasan bunga kartu kredit, potensi pembatasan investasi private equity di sektor perumahan, pengawasan harga obat, hingga wacana pembatasan dividen dan buyback perusahaan pertahanan.

Meski demikian, UBS belum sepenuhnya bearish terhadap pasar saham AS. Garthwaite menilai ekonomi AS dan pasar sahamnya kerap unggul pada fase awal potensi gelembung pasar.

UBS juga memperkirakan adopsi kecerdasan buatan (AI) di AS akan tetap lebih cepat dibandingkan sebagian besar kawasan lain, kecuali mungkin China. Hal ini dinilai dapat menopang pertumbuhan laba di berbagai sektor utama.

Strategis UBS lainnya, Sean Simonds, menetapkan target akhir tahun untuk S&P 500 di level 7.500. Angka ini sedikit di bawah rata-rata proyeksi 7.629 dari 14 analis top yang disurvei CNBC Pro.

Dengan berbagai faktor tersebut, UBS melihat pasar saham AS masih punya peluang, tetapi risikonya kini jauh lebih besar dibanding beberapa tahun terakhir.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |