BEI Suspensi Saham MSIN dan BIMA, Ini Alasannya

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau suspensi saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) dan PT Primarindo Asia Infratructure Tbk (BIMA).

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/4/2026), BEI suspensi saham MSIN seiring terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Suspensi saham MSIN dilakukan dalam rangka cooling down sebagai bentuk perlindungan bagi investor, BEI memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham MSIN pada 13 April 2026.

"Penghentian sementara perdagangan saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) tersebut dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di Saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN),” demikian seperti dikutip dari pengumuman BEI.

BEI juga mengingatkan untuk para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan.

Selain itu, BEI suspensi efek BIMA yang tercatat di papan pemantauan khusus. BEI menyampaikan efek BIMA telah disuspensi di seluruh pasar sejak 19 November 2025. Selanjutnya efek perseroan telah tercatat pada papan pemantauan khusus karena ketentuan III.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-X sejak 9 April 2025.

Hingga 9 April 2026, efek perseroan telah beradal dalam papan pemantauan khusus selama lebih dari satu tahun berturut-turut.

“Sehubungan dengan hal tersebut, bursa memutuskan untuk tetap melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan efek PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk di seluruh pasar sejak sesi I periodic call auction pada Kamis, 9 April 2026 hingga pengumuman bursa lebih lanjut,”

Selain itu, bursa juga meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan tercatat.

IHSG Sepekan Naik 6,14%, Gencatan Senjata AS-Iran jadi Pemicu

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan 6-10 April 2026. Analis menilai IHSG sepekan ini dipicu sentimen global terutama gencatan senjatara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (11/4/2026), IHSG sepekan meroket 6,14% dan ditutup ke level 7.458,49. Pada pekan lalu, IHSG melemah 0,99% ke level 7.026,78.

Kapitalisasi pasar BEI juga naik 7,18% menjadi Rp 13.189 triliun dari pekan lalu sebesar Rp 12.305 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksano menuturkan, selama sepekan ini, IHSG bergerak menguat 6,14% dan masih didominasi oleh volume pembelian yang cenderung meningkat. Penguatan IHSG juga mampu menembus moving average (MA)-200 hariannya.

“Dari sisi sentimen kami mencermati adanya gencatan senjata antara AS dan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz menurunkan kekhawatiran investor akan konflik di Timur Tengah, di mana hal tersebut juga menurunkan harga minyak dunia,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sentimen IHSG Lainnya

Ia mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih melemah. “Kami perkirakan hal ini disebabkan oleh risiko inflasi dan fiskal domestik yang masih membayangi, Bank Dunia juga menurunkan pertumbuhan ekonomi domestik ke 4,7% (vs 4,8% karena hal tersebut,” ujar dia.

Di sisi lain, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian BEI yang naik 24,81% menjadi 32,28 milair saham dari 25,87 miliar saham pada pekan sebelumnya.

Peningkatan juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian, yang mengaut 17,26% menjadi Rp 17,32 triliun dari Rp 14,77 triliun pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat 15,05% menjadi 2,05 juta kali transaksi dari 1,78 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing juga masih mencatat aksi jual saham.Selama sepekan, investor asing melepas saham Rp 3,31 triliun. Sepanjang 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 37,14 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |