BTPN Jual Kredit Rp 19,9 Triliun ke BTN

11 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) mengumumkan transaksi material tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) berupa pengalihan portofolio pinjaman kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk senilai Rp 19,93 triliun.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5/2026) manajemen PT Bank SMBC Indonesia Tbk menyampaikan bahwa transaksi tersebut diteken pada 22 Mei 2026 melalui dua perjanjian, yakni Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Melalui CPTA, perseroan sepakat menjual dan mengalihkan portofolio pinjaman terkait pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola oleh TASPEN kepada BTN. Sementara melalui CLATA, pengalihan mencakup aset pinjaman terkait pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola ASABRI dan dana pensiun lainnya, termasuk pinjaman kepada karyawan aktif.

Manajemen menjelaskan, kedua perjanjian tersebut merupakan satu rangkaian transaksi yang dijalankan secara terpadu, dengan masing-masing dokumen mengatur objek transaksi secara terpisah beserta hak, kewajiban, dan syarat pendahuluan yang harus dipenuhi kedua pihak sebelum transaksi diselesaikan.

Perseroan juga menegaskan tidak terdapat hubungan afiliasi antara PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan BTN dalam transaksi tersebut.

Adapun total nilai transaksi CPTA dan CLATA mencapai Rp 19.928.197.559.246 atau setara 46,3% dari nilai ekuitas perseroan per 31 Desember 2025, sehingga masuk dalam kategori transaksi material sesuai ketentuan OJK.

Bank SMBC Indonesia Kantongi Pendapatan Rp 13,8 Triliun

Sebelumnya, PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatat pendapatan operasional sebesar Rp 13,8 triliun, naik 11% hingga September 2025, year on year (YoY).

Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 9% YoY. Margin bunga bersih atau net interest margin/NIM yang lebih tinggi mendukung pertumbuhan ini, mencerminkan ketangguhan dan kinerja solid dari Perseroan di tengah persaingan pasar.

Kontribusi setelah akuisisi dari grup OTO mendorong kenaikan NIM Perseroan menjadi 7,1% pada September 2025 dari 6,8% pada periode sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perseroan mencatat laba bersih konsolidasi setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,5 triliun, turun 26% YoY yakni sebesar Rp 1,99 triliun.

"SMBC Indonesia tetap fokus mempertahankan NIM yang sehat di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan dan volatilitas pasar yang terus berjalan,” demikian seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (12/11/2025).

Dampak Berkelanjutan

Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar menuturkan, perseroan menjaga kinerja solid sepanjang periode tersebut dengan merespons dinamika pasar serta pergeseran kebijakan moneter secara cepat dan efektif.

"Kami berupaya menciptakan dampak berkelanjutan dengan mendukung kemajuan ekonomi Indonesia, mendorong kesejahteraan nasabah, dan memberdayakan komunitas menuju pertumbuhan berkelanjutan. Seluruh upaya ini kami lakukan berlandaskan pola pikir adaptif serta komitmen terhadap pertumbuhan yang bermakna," ujar Henoch.

Laporan keuangan konsolidasi SMBC Indonesia periode Januari–September 2025 sudah memperhitungkan kinerja keuangan PT Oto Multiartha (OTO) dan PT Summit Oto Finance (SOF), atau Grup OTO. Keduanya resmi menjadi bagian dari SMBC Indonesia setelah penyelesaian akuisisi pada akhir Maret 2024.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |