Wall Street Anjlok, Dow Turun Tajam ke Level Terendah 2026

4 hours ago 3

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau sering disebut Wall Street ditutup melemah tajam pada Rabu, setelah data ekonomi terbaru AS serta pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) memicu kekhawatiran inflasi yang terus membayangi.

Mengutip CNBC, Kamis (19/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 768,11 poin atau 1,63% ke level 46.225,15. Posisi ini menjadi level penutupan terendah sepanjang 2026 dan berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari.

Dengan penurunan lebih dari 5% sepanjang bulan ini, Dow Jones berpotensi mencatat kinerja bulanan terburuk sejak 2022.

Sementara itu, indeks S&P 500 turun 1,36% ke 6.624,70 dan Nasdaq Composite melemah 1,46% menjadi 22.152,42.

Pelemahan ini terjadi setelah bank sentral AS memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Dalam pernyataannya, The Fed menyebut bahwa “implikasi perkembangan di Timur Tengah terhadap perekonomian Amerika Serikat masih belum pasti.”

Inflasi Jadi Sorotan, The Fed Akui Kemajuan Terbatas

Ketua The Fed Jerome Powell mengakui bahwa upaya menekan inflasi masih berjalan, namun belum sesuai harapan.

“Perkiraannya adalah kami akan membuat kemajuan terhadap inflasi, tidak sebesar yang kami harapkan, tetapi tetap ada kemajuan,” ujar Powell.

Meski demikian, bank sentral masih memberi sinyal kemungkinan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Di sisi lain, tekanan inflasi justru meningkat. Indeks harga produsen (PPI), yang mengukur perubahan harga di tingkat grosir, naik 0,7% pada Februari—jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 0,3%.

Data ini menunjukkan inflasi sudah berada dalam posisi rentan bahkan sebelum pecahnya perang Iran, yang kini memperbesar kekhawatiran stagflasi di tengah lonjakan harga minyak.

Harga Energi Melonjak, Wall Street Waspadai Risiko Lebih Besar

Chief Investment Officer CrossCheck Management, Todd Schoenberger, menilai lonjakan inflasi dipicu faktor struktural.

“Angka yang lebih tinggi dari perkiraan ini berkaitan dengan tarif. Logam, input industri, dan biaya manufaktur semuanya mengalami kenaikan,” ujarnya.

“Ini adalah inflasi struktural, bukan sementara, dan kemungkinan akan memengaruhi kebijakan moneter hingga kuartal ketiga.”

Ia juga menambahkan dampak kenaikan harga energi belum sepenuhnya tercermin dalam data saat ini.

“Ditambah kenaikan harga energi sejak perang Iran dimulai, yang belum sepenuhnya tercermin dalam laporan ini, Wall Street bersiap menghadapi lonjakan harga yang cepat hingga ke tingkat konsumen,” katanya.

Rezim Volatilitas Tinggi

Harga minyak dunia melonjak, dengan Brent naik 3,83% ke USD 107,38 per barel. Sementara minyak AS (WTI) ditutup di USD 96,32 per barel.

Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik, termasuk serangan Israel ke fasilitas gas terbesar Iran di Provinsi Bushehr serta ancaman Iran terhadap fasilitas minyak di Timur Tengah.

Chief Investment Officer Savvy Wealth, Anshul Sharma, mengingatkan risiko volatilitas yang lebih tinggi.

“Saya pikir kita berada dalam rezim volatilitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

“Jika harga minyak tetap tinggi, kita tahu dampaknya akan merembet ke seluruh ekonomi,” lanjutnya.

Ia menilai kombinasi lonjakan inflasi dan perlambatan ekonomi sebagai kondisi berbahaya.

“Ini akan membuat tugas The Fed semakin sulit dalam menyeimbangkan mandatnya,” tutup Sharma.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |