IHSG Anjlok 8% dan Trading Halt Dua Hari Beruntun Imbas Pengumuman MSCI

3 days ago 24

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada akhir Januari 2026, anjlok hingga 8% dan memicu penghentian perdagangan sementara (Trading Halt) selama dua hari berturut-turut setelah pengumuman dari MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia. Peristiwa ini menandai periode volatilitas tinggi di pasar modal Tanah Air, dengan kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham menjadi sorotan utama. Sebelumnya, pada tahun 2025, IHSG juga sempat mengalami trading halt akibat ambrolnya indeks, serta mencatatkan kinerja yang bervariasi sepanjang tahun.

Penurunan tajam ini dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia, menimbulkan sentimen negatif yang meluas di kalangan investor.

Konteks Penurunan IHSG Akhir Januari 2026

Sebelum gejolak akhir Januari, IHSG sempat menunjukkan penguatan. Pada Senin, 26 Januari 2026, IHSG menguat 0,27% atau 24,32 poin ke level 8.975,33, ditopang oleh kinerja positif saham-saham sektor pertambangan dan perdagangan emas. Namun, sinyal pelemahan mulai terlihat pada Selasa, 27 Januari 2026, ketika IHSG dibuka melemah ke 8.974 dari penutupan sebelumnya di 8.975. Pada pukul 09.40 WIB, indeks sudah turun 0,59% atau 55 poin ke level 8.920,13, dengan sembilan dari sebelas sektor mengalami tekanan.

Kondisi pasar semakin memburuk setelah MSCI mengumumkan hasil konsultasi terkait penilaian free float saham-saham Indonesia pada Selasa malam, 27 Januari 2026. Pengumuman ini menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Kronologi Anjloknya IHSG dan Keputusan Trading Halt

Gejolak pasar mencapai puncaknya pada Rabu, 28 Januari 2026. IHSG anjlok signifikan, mencapai 7,34% ke level 8.321 pada sesi pertama perdagangan, sebagai respons langsung terhadap pengumuman MSCI. Penurunan ini memicu aksi jual panik di pasar.

Pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) di hari yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) karena penurunan IHSG telah mencapai 8%. Perdagangan kemudian dilanjutkan pada pukul 14:13:13 JATS. Pada penutupan perdagangan Rabu, IHSG ditutup melemah 7,35% ke posisi 8.320,56, dengan investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) jumbo sebesar Rp6,12 triliun, yang merupakan outflow harian asing terbesar sejak 16 April 2025.

Tekanan berlanjut pada Kamis, 29 Januari 2026. IHSG dibuka turun 293 poin ke posisi 8.027. Kurang dari 30 menit setelah pembukaan, tepatnya pukul 09.26 WIB, IHSG kembali terjun bebas, ambruk 8% atau 665,89 poin ke level 7.654,66, memicu trading halt kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut. Pada siang hari, IHSG anjlok 7,25% dan telah jauh meninggalkan level 8.000.

Penyebab Utama: Pengumuman MSCI dan Dampaknya

Penyebab utama anjloknya IHSG adalah keputusan MSCI untuk membekukan rebalancing indeks saham Indonesia. MSCI menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan data free float di Indonesia. Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan bahwa diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi.

Keputusan MSCI ini berlaku efektif segera, membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta meniadakan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Hal ini dilakukan untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi.

Dampak Langsung Terhadap Pasar Saham Indonesia

Dampak langsung dari pengumuman MSCI dan aksi jual investor sangat terasa. IHSG anjlok 7,35% pada 28 Januari 2026 dan kembali ambruk 8% pada 29 Januari 2026, menyebabkan dua kali trading halt. Seluruh sebelas sektor saham ditutup merah pada 28 Januari 2026, dengan sektor energi mengalami penurunan terdalam sebesar 9,57%. Aksi jual investor asing mencapai Rp6,12 triliun pada 28 Januari 2026, menunjukkan sentimen negatif yang kuat dari pasar global.

Goldman Sachs, salah satu bank investasi global, merespons dengan menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight, memperkirakan aksi jual pasif oleh investor global masih akan berlanjut.

Respons Bursa Efek Indonesia dan Pandangan Ekonom

Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyatakan bahwa BEI telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di website resmi BEI sejak 2 Januari 2026.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengimbau investor untuk tidak panik berlebihan. Ia menjelaskan bahwa kebijakan freeze rebalancing MSCI memberikan kepastian bagi pelaku pasar bahwa tidak terjadi perubahan konstituen maupun bobot saham Indonesia dalam indeks global pada periode rebalancing terdekat. Iman Rachman juga menekankan pentingnya dialog dengan MSCI untuk memahami kebutuhan data dan menjawab kekhawatiran yang mendasari kebijakan tersebut.

Di tengah situasi ini, beberapa ekonom melihat momen ini sebagai kesempatan untuk perbaikan struktur pasar saham Indonesia. Analis pasar juga mencatat bahwa skala aksi jual lebih didorong oleh sentimen jangka pendek daripada fundamental ekonomi nasional yang stabil.

Kondisi Terkini dan Proyeksi Pasar

Hingga Kamis, 29 Januari 2026, pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan setelah IHSG mengalami trading halt dua hari berturut-turut. Kapitalisasi pasar terkikis ke level Rp13.968 triliun pada 29 Januari 2026. Sentimen negatif dari keputusan MSCI diperkirakan masih akan membayangi pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.

MSCI akan terus memantau aksesibilitas pasar Indonesia. Apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia. Hal ini berpotensi pada penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes, bahkan reklasifikasi dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Reklasifikasi ini dapat menyebabkan lebih banyak dana investor asing keluar, menekan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Meskipun demikian, BEI dan SRO berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI melalui penguatan transparansi data. Analis menyarankan investor untuk fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental solid, terutama yang tidak termasuk dalam indeks MSCI Indonesia, untuk memitigasi risiko. Selain itu, musim pembagian dividen yang akan datang (mulai April 2026) dapat menjadi peluang bagi investor untuk 'dividend play' di tengah koreksi harga saham.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |