Wall Street Tertekan Gejolak Pasar Logam Mulia, S&P 500 Turun 3 Hari

1 day ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau biasa disebut Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat, dipicu tekanan saham teknologi dan aksi jual besar di pasar perak yang sebelumnya mengalami reli spekulatif. Meski demikian, indeks S&P 500 tetap berhasil menutup bulan Januari di zona positif.

Mengutip CNBC, Sabtu (31/1/2026), indeks S&P 500 turun 0,43% ke level 6.939,03 dan mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Dow Jones Industrial Average melemah 179 poin atau 0,36% menjadi 48.892,47. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun paling dalam, yakni 0,94% ke posisi 23.461,82.

Ketiga indeks sempat jatuh lebih dari 1% di titik terendah sesi.

Pelemahan terjadi meskipun pasar secara umum menyambut positif keputusan Presiden Donald Trump yang menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell.

Saya sudah mengenal Kevin sejak lama, dan saya tidak ragu dia akan tercatat sebagai salah satu Ketua The Fed TERBAIK, bahkan mungkin yang terbaik,” kata Trump melalui unggahan di Truth Social.

Sentimen Gubernur The Fed

Pelaku pasar menilai Warsh sebagai figur berpengalaman dan relatif independen. Ia pernah menjadi gubernur The Fed dan dikenal memiliki sikap tegas terhadap inflasi. Meski diperkirakan mendukung penurunan suku bunga dalam jangka pendek, pasar percaya ia tidak akan selalu mengikuti arahan presiden.

Penguatan dolar AS dan stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sinyal bahwa investor cukup puas dengan pilihan tersebut.

“Penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed adalah yang diharapkan pasar. Ia dikenal luas di kalangan pelaku pasar dan diharapkan menjaga independensi bank sentral, yang sangat penting,” kata Chief Investment Officer Treasury Partners, Richard Saperstein.

“Yang terpenting, Warsh diperkirakan tidak akan menghadapi banyak hambatan dalam proses persetujuan Senat,” tambahnya.

Beban Pasar Logam Mulia

Namun, sentimen positif itu tertahan oleh faktor lain, terutama gejolak di pasar logam mulia. Harga emas spot turun sekitar 9%, sementara perak anjlok sekitar 28% dalam satu sesi. Sepanjang setahun terakhir, kontrak berjangka emas dan perak sebelumnya telah melonjak sekitar 67% dan 142%.

Produk ETF perak iShares Silver Trust (SLV), yang populer di kalangan investor ritel, jatuh lebih dari 28% dan mencatat hari terburuk sepanjang sejarah. Analis menilai penurunan tajam ini mencerminkan aksi jual paksa karena penggunaan leverage tinggi.

“Ini adalah aset terpanas bagi trader harian dan trader jangka pendek belakangan ini,” kata Matt Maley, kepala strategi pasar Miller Tabak.

“Ada leverage yang terbangun di perak. Dengan penurunan besar hari ini, margin call langsung terjadi,” ujarnya.

Kinerja Emiten

Dari sisi kinerja emiten, saham Apple bergerak fluktuatif meski melampaui ekspektasi laba kuartal pertama dan melaporkan lonjakan penjualan iPhone. Sebelumnya, saham Microsoft jatuh 10% setelah laporan keuangan, menjadi penurunan terburuk sejak 2020 dan memangkas kapitalisasi pasar lebih dari USD 350 miliar.

Saham KLA Corp juga merosot lebih dari 15% setelah proyeksi pertumbuhan melambat.

Di luar sektor teknologi, saham Verizon justru melonjak hampir 12% — kenaikan harian terbaik sejak 2008 — setelah membukukan kinerja di atas perkiraan analis dan memberikan proyeksi laba tahunan yang kuat.

Meski perdagangan Jumat melemah, kinerja bulanan tetap positif. Sepanjang Januari, S&P 500 naik 1,4%, Dow Jones menguat 1,7%, dan Nasdaq bertambah sekitar 1%. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 bahkan melonjak lebih dari 5% selama bulan tersebut.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |