Trading Halt IHSG: Alarm Pasar Modal Indonesia di Tengah Tekanan Global dan Kepanikan Investor

3 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Trading Halt IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan diterapkan setelah penyedia indeks global yakni Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis pengumuman terbaru yang menyebabkan pasar saham Indonesia terguncang. Namun, pengumuman MSCI ini dinilai menjadi momen bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperbaiki struktur pasar saham Indonesia.

Dalam pengumuman MSCI terbaru menyebutkan pembekuan sementara pada perubahan terkait indeks tertentu untuk sekuritas Indonesia yang dihasilkan dari tinjauan indeks (termasuk indeks Februari 2026) atau peristiwa korporasi. Selain itu, MSCi memuat sejumlah langkah yang dilakukan imbas kekhawatiran terhadap struktur kepemilikan saham dan kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat.

Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, diperlukan untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap free float (saham beredar di publik) dan kemungkinan investasi di seluruh sekuritas Indonesia. Demikian mengutip laman msci.com, Kamis (29/1/2026).

Pengumuman terbaru dari MSCI mengenai tiga langkah sementara dari hasil peninjauan transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Mengutip riset Syailendra Capital, tiga langkah sementara yang diambil oleh MSCI antara lain:

Pertama, MSCI akan membekukan semua peningkatan pada faktor inklusi asing atau foreign inclusion factors (FIF) dan jumlah saham atau number of shares (NOS). Ini berarti, bobot saham Indonesia di indeks global tidak bisa naik.

Kedua, MSCI akan menerapkan penambahan indeks pada indeks pasar investasi MSCI atau MSCI Investable Market Indexes (IMI). Artinya MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia yang baru ke indeks MSCI termasuk hasil initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana atau saham lain yang memenuhi syarat.

Ketiga, MSCI tidak akan menerapkan migrasi ke atas di seluruh indeks termasuk dari small cap ke standard. Artinya saham Indonesia tidak bisa naik ke kelas indeks yang lebih tinggi.

Langkah MSCI itu bukan tanpa alasan. MSCI melakukan hal itu untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan kemampuan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait memberikan peningkatan transparansi yang berarti.

IHSG Tertekan

Seiring pengumuman MSCI sontak membuat IHSG anjlok pada Rabu, 28 Januari 2926. IHSG dibuka tersungkur 6,6% ke posisi 8.382,48.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pengumuman MSCI menjadi katalis negatif bagi pasar saham di Indonesia. “Pengumuman MSCI mendorong panic selling di IHSG pada Rabu pagi dan dibuka terkoreksi 6,5%,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 28 Januari 2026.

 Tekanan IHSG terjadi sepanjang perdagangan saat itu. Bahkan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt pukul 13.43.13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah IHSG turun 8%. Pada penutupan perdagangan, IHSG ditutup turun 7,35% ke posisi 8.320,55.

Koreksi IHSG pun kembali terjadi pada Kamis pagi, 29 Januari 2026. Selain MSCI, Goldman Sachs yang mengumumkan menurunkan peringkat saham Indonesia menambah tekanan IHSG. IHSG dibuka merosot 293 poin ke posisi 8.027,82.

Tekanan terus berlanjut hingga BEI kembali menerapkan trading halt dalam dua hari berturut-turut pada Kamis pekan ini lantaran penurunan IHSG yang mencapai 8%. Namun, tekanan IHSG berkurang hingga akhirnya IHSG ditutup susut 1,06% ke 8.232.

Trading Halt Upaya Tenangkan Pasar

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menuturkan, trading halt diterapkan sebagai upaya menjaga pasar sehingga tidak menimbulkan kepanikan.

"Trading halt, tadi juga hari ini ada ya auto-halt. Dan tentunya itu membuat agar supaya investor ini tidak panik gitu ya terhadap situasi yang ada,” ujar Inarno di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 29 Januari 2026.

Inarno menegaskan, seluruh instrumen tersebut diterapkan sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah ini, kata dia, bertujuan menjaga ketertiban perdagangan sekaligus memastikan stabilitas pasar tetap terjaga di tengah gejolak.

Menanggapi trading halt yang dilakukan dua kali itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, trading halt bukan disebabkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

“Yang saya bisa pastikan adalah fondasi ekonomi kita enggak bermasalah, akan semakin cepat ke depan. Ini mungkin orang shock akan possibility kita pasarnya dianggap pasar frontier level,” ujar dia di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis, 29 Januari 2026.

Purbaya menuturkan, kondisi makro ekonomi Indonesia justru masih berada dalam jalur sehat dan solid. Seiring hal itu, Purbaya menilai gejolak yang terjadi lebih dipicu oleh faktor psikologis pasar.

Ia menyebut investor mengalami shock akibat kekhawatiran Indonesia dipersepsikan sebagai pasar frontier, meski secara fundamental ekonomi domestik dinilai tidak bermasalah.

"Tapi saya enggak akan turun ke sana (ke Bursa Efek Indonesia), karena fondasi kita bagus," ia menambahkan.

Risiko Terbesar Ancaman MSCI

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata  menuturkan, risiko terbesar bukan hanya langkah MSCI menerapkan pembekuan sementara perubahan terkait indeks tertentu untuk sekuritas Indonesia tetapi juga ancaman downgrade ke frontier market. Ini yang berpotensi memicu aksi jual dari dana yang mandatnya hanya boleh berinvestasi di emerging market.

“Oleh karena itu, sentimen MSCI ini langsung menekan appetite asing dan bukan bersifat sementara,” kata Liza dalam catatannya.

Ia menilai, asing sudah mulai keluar secara bertahap. Pada perdagangan saham Rabu pekan ini saja, investor asing melepas saham senilai Rp 6,1 triliun.

“Dampak MSCI bersifat struktural dan negatif, bukan sekadar shock sesaat. Dana pasif asing berada dalam posisi on hold, sementara active funds cenderung underweight,” kata Liza.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, frontier market adalah kategori bursa saham yang masih berada pada tahap awal perkembangan dengan likuiditas lebih rendah, akses investor asing terbatas, dan risiko lebih tinggi dibandingkan emerging market. Sedangkan emerging market memiliki pasar lebih besar, likuiditas dan infrastruktur yang lebih matang sehingga menjadi tujuan utama investor asing. “Frontier market lebih volatile dan sensitif terhadap perubahan arus modal,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Reydi menuturkan, jika status pasar Indonesia berubah menjadi frontier market, dampaknya menurunkan minat investor institusi global, potensi outflow dana pasif dan meningkatnya volatilitas pasar.

“Namun, menurut saya, risiko tersebut relatif kecil dalam waktu dekat, karena fundamental ekonomi Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan karakteristik frontier market,” kata dia.

Jurus OJK

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menilai, tanggapan MSCI dipandang sebagai sinyal positif karena menunjukkan minat lembaga itu untuk tetap memasukkan saham emiten Indonesia dalam indeks global.

Mahendra menuturkan, OJK bersama pemangku kepentingan pasar modal akan memastikan berbagai penyesuaian yang diminta dapat dipenuhi sesuai standar internasional.

Langkah tersebut mencakup tindak lanjut atas proposal penyesuaian yang telah diajukan Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), termasuk pengaturan terkait perhitungan free float dan keterbukaan struktur kepemilikan saham.

"Bahwa berkaitan dengan pernyataan dari MSCI kemarin waktu Indonesia, kami menerima penjelasan itu sebagai masukan yang baik karena kami melihat bahwa lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emitter dari Indonesia dalam indeks global yang menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sangat potensial dan investable bagi investor internasional,” ujar Mahendra dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 29 Januari 2026.

Selain itu, OJK juga menyatakan kesiapan untuk memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham di bawah 5% beserta kategori investor dan struktur kepemilikannya. Upaya ini akan dilakukan dengan mengacu pada praktik terbaik internasional guna meningkatkan kredibilitas pasar modal domestik di mata investor global.

Mahendra juga menegaskan, regulator akan mengawal seluruh proses reformasi agar berjalan efektif dan tepat waktu, termasuk koordinasi dengan pemerintah dan SRO.

Salah satu langkah yang segera diterapkan adalah penerbitan aturan mengenai batas minimal free float sebesar 15%, disertai kebijakan pengawasan dan exit policy bagi emiten yang tidak dapat memenuhinya dalam jangka waktu tertentu.

“Dan ini merupakan komitmen kami untuk mengawal secara langsung semua proses ini berjalan dengan efektif dan tepat waktu,” ujar dia.

Selain itu, OJK juga akan meminta SRO untuk memberikan data pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO) emiten pasar modal kepada MSCI.

Mahendra menegaskan, seluruh langkah merupakan bagian dari agenda reformasi berkelanjutan untuk memperkuat integritas, transparansi, dan kualitas pasar modal Indonesia, serta akan dikawal secara langsung melalui koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Ini merupakan komitmen kami untuk mengawal secara langsung agar seluruh proses ini berjalan dengan efektif dan tepat waktu,” ujar dia.

Momen Perbaikan Pasar Saham Indonesia

Selain itu, BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lain yakni Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta didukung OJK, sebelumnya telah membangun komunikasi dengan MSCI. Meski dialog dan negosiasi sudah berlangsung, hasilnya belum mencapai titik temu seperti yang diharapkan pelaku pasar.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menilai perkembangan ini bukan penutup dari langkah penguatan pasar modal domestik. Ia menegaskan interaksi dengan MSCI justru menjadi bagian dari proses panjang untuk menyelaraskan karakteristik pasar Indonesia dengan standar yang digunakan lembaga penyedia indeks global tersebut.

"Kondisi MSCI kali ini bukan end of game. Tapi kita selalu berusaha memetakan pasar di Indonesia kepada MSCI,” ujar Iman kepada Wartawan di Gedung BEI, Rabu, 28 Januari 2026.

Iman menuturkan, berbagai pembaruan terkait data free float sebenarnya sudah dijalankan oleh BEI bersama otoritas dan lembaga penunjang pasar.

Akan tetapi, proses tersebut memerlukan tahapan administratif dan teknis sehingga belum dapat sepenuhnya memenuhi tenggat waktu yang diharapkan MSCI. Ia juga mengisyaratkan metode yang digunakan MSCI memiliki karakteristik tersendiri, sementara BEI tetap harus berpegang pada kerangka regulasi domestik.

BEI telah mulai menampilkan data free float secara lebih menyeluruh melalui laman resmi bursa sejak awal Januari 2026 dan menjadwalkan pembaruan rutin setiap bulan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus membuka ruang peningkatan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

Ke depan, koordinasi dengan MSCI akan terus dilanjutkan secara intensif. BEI bersama SRO dan OJK juga tengah menyiapkan pertemuan lanjutan secara daring dengan tim MSCI di Swiss guna menyamakan pemahaman terkait metodologi dan implementasi keterbukaan informasi di pasar modal Indonesia.

Menkeu Purbaya menegaskan, percepatan pengawasan menjadi krusial agar pasar saham kembali kredibel dan transparan. Purbaya menilai, selama celah pengawasan masih terbuka, praktik penggorengan saham berpotensi terus terjadi dan menciptakan volailitas yang tidak sehat.

Purbaya menyampaikan, pemerintah tidak akan tinggal diam jika perbaikan di pasar modal berjalan lambat. Ia memberi sinyal kuat bahwa evaluasi akan dilakukan dalam waktu dekat, khususnya hingga akhir Maret mendatang.

“Ya kalau Maret, sampai akhir Maret enggak jalan saya akan ke sana sebagai Ketua KSSK,” kata dia.

Ekonom Fakhrul Sulvian menuturkan, beberapa catatan dari MSCI terutama terkait transparansi pasar saham Indonesia dilihat secara konstruktif.

“Koreksi pasar saat ini menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan struktur pasar saham Indonesia secara lebih serius,” kata Fakhrul.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |