IHSG Tersungkur 8%, BEI Kembali Terapkan Trading Halt

3 days ago 24

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada sistem perdagangan Kamis, (29/1/2026). Trading halt dilakukan pada pukul 09.26.01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).

“Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resmi, Kamis pekan ini.

Ia menuturkan, BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.

Adapun berdasarkan data RTI, IHSG merosot 8% ke posisi 7.654,66. Indeks saham LQ45 melemah 7,66% ke posisi 750,25. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.

IHSG berada di level tertinggi 8.049,09 dan level terendah 7.654.66. Sebanyak 658 saham melemah sehingga bebani IHSG. 33 saham menguat dan 20 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 863.333 kali dengan volume perdagangan saham 13,1 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 11 triliun.

Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham energi melemah 9,75% dan pimpin koreksi. Diikuti sektor saham basic susut 9,85% dan sektor saham transportasi merosot 9,5%. Lalu sektor saham consumer siklikal turun 8,05%.

BEI Beberkan Sederet Upaya Tanggapi Keputusan MSCI

Sebelumnya, upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan keterbukaan data free float saham masih terus berproses setelah keputusan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).

BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lain yakni Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebelumnya telah membangun komunikasi dengan MSCI. Meski dialog dan negosiasi sudah berlangsung, hasilnya belum mencapai titik temu seperti yang diharapkan pelaku pasar.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menilai perkembangan ini bukan penutup dari langkah penguatan pasar modal domestik. Ia menegaskan interaksi dengan MSCI justru menjadi bagian dari proses panjang untuk menyelaraskan karakteristik pasar Indonesia dengan standar yang digunakan lembaga penyedia indeks global tersebut.

"Kondisi MSCI kali ini bukan end of game. Tapi kita selalu berusaha memetakan pasar di Indonesia kepada MSCI,” ujar Iman kepada Wartawan di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).

Iman menerangkan, berbagai pembaruan terkait data free float sebenarnya sudah dijalankan oleh BEI bersama otoritas dan lembaga penunjang pasar.

Namun, proses tersebut memerlukan tahapan administratif dan teknis sehingga belum dapat sepenuhnya memenuhi tenggat waktu yang diharapkan MSCI. Ia juga mengisyaratkan bahwa metode yang digunakan MSCI memiliki karakteristik tersendiri, sementara BEI tetap harus berpegang pada kerangka regulasi domestik.

BEI Tampilkan Dana Free Float

"Kami BEI, OJK dan KSEI bukan tidak melakukan sesuatu. Kita lakukan perbaikan terkait free float yang sudah ada," ujar Iman dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).

Sebagai bagian dari peningkatan transparansi, BEI telah mulai menampilkan data free float secara lebih menyeluruh melalui laman resmi bursa sejak awal Januari 2026 dan menjadwalkan pembaruan rutin setiap bulan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus membuka ruang peningkatan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

Ke depan, koordinasi dengan MSCI akan terus dilanjutkan secara intensif. BEI bersama SRO dan OJK juga tengah menyiapkan pertemuan lanjutan secara daring dengan tim MSCI di Swiss guna menyamakan pemahaman terkait metodologi dan implementasi keterbukaan informasi di pasar modal Indonesia.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |